• Ps. Indri Gautama
  • 07 Juli 2019
  • Ibadah Raya III & V - Pk. 11:30 & 16:30 WIB
  • Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
<< back

THE LOST ART OF LAMENTING (KEHILANGAN SENI DOA, RATAP, TANGIS)

Ada saatnya dimana kita menguji apakah janji Tuhan itu benar. Perjalanan mengenal Yesus dimulai dari orang yang berdosa menjadi lahir baru kemudian menjadi pemenang dan pada ahkirnya menjadi serupa dengan Kristus. Kekristenan adalah proses perjalanan hidup. Salah satu prosesnya adalah doa, ratap, tangis. Yeremia berdoa, meratap, dan menangisi Israel selama 50 tahun supaya nilai-nilai kerajaan Allah tetap ditegakkan.

"Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu." Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” (Rat. 3:19-26)

Nabi Yeremia pada waktu itu menginjil dengan excellent integrity agar bangsa Israel bertobat. Israel sudah diselamatkan Tuhan namun mereka meninggalkan-Nya. Doa ratapan menunjukkan iman kita kepada Tuhan.

Menangis adalah manusiawi, tetapi meratap adalah unik bagi pengikut Kristus. Sejak kita lahir, kita tidak pernah berhenti menangis dan berduka. Yesus ingin kita mengekspresikan kesakitan (jiwa) melalui air mata yang ada di wajah. Selama kita masih berhubungan dengan manusia kita akan merasa dilukai.

“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,” (Ibr. 5:7-8)

“Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Mat. 26:37-39)

Bahasa doa dalam Alkitab kita yang dilupakan ialah ratapan. Yesus sendiri menangis ketika berada di taman Getsemani. Setiap pengikut Yesus akan berada juga di “taman Getsemani” mereka masing-masing.

Ratapan tidak sama dengan menangis. Ratapan adalah unik dan hanya dimiliki umat Kristen. Ratapan membelokkan hati dan pikiran kepada Tuhan sedangkan berduka menggoda kita untuk lari dari Tuhan. Bagaimana hadirat Tuhan tetap dalam hati kita? Tinggalah dalam Tuhan, maka Tuhan akan tinggal dalam diri kita.

“Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: "Bawalah efod itu kepadaku." Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan." (1 Sam. 30:6-8)

Apa yang kita takutkan dalam kehidupan ini? Mengapa tidak memberikan rasa takut kita kepada Tuhan? Berserulah kepada Tuhan maka jiwa kita akan tenang. Kedamaian akan memberi kita pengendalian diri. Pada ayat diatas, Daud membuat strategi yang salah dan berada dalam keadaan terjepit. Namun jiwa Daud tetap berfokus kepada Tuhan. Waktu kita meratap, Tuhan akan menggantikannya dengan kehadiran-Nya.

Doa ratapan terdiri dari 4 elemen (Maz 13:1-6)

1. Berbalik kepada Tuhan (ay. 1)

2. Bawa keluhan kepada Tuhan (ay.2)

3. Minta dengan berani untuk pertolongan Tuhan (ay. 3-4)

4. Pilih untuk percaya pada Tuhan (ay. 5-6)

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Why. 21:4)

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"