<< back

Memahami Jawaban Tuhan Atas Doa

“Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, --entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya-- ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku. Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor. 12:1-10)

Pergumulan orang Kristen adalah berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan mau dalam hidup. Bagaimana kita menyikapi jawaban Tuhan atas doa yang kita panjatkan?

Ketika kita menaikan doa, ada tiga kategori yang menjadi makanan rohani perjalanan hidup orang percaya yaitu : Tunggu, Tidak, dan Ya

Tunggu adalah hal yang paling menarik dalam proses. Hasil dari proses menunggu doa hanyalah “tidak” dan “ya”. Letak kerohanian kita ada pada bagian ini. Jika kita memahami fungsi dari menunggu ini kita tidak akan berpikir negatif dan curiga tentang Tuhan. Terkadang kita kurang sabar dalam menunggu sehingga kita mengambil keputusan sendiri dan kita akan muliau menghakimi Dia. Jika kita mampu menjalani proses menunggu ini, kita akan menerima hasil dari jawaban Tuhan entah itu “tidak” atau “ya”.

Contoh tokoh dalam Alkitab adalah Habakuk. Setelah Habakuk menunggu, jawaban Tuhan adalah “tidak”. Pada akhirnya dia mengetahui panggilan hidup untuk menemami umat yang sedang kesusahan. Ini yang dinamakan letak kemampuan seorang hamba Tuhan dalam pembelajaran hidup. Jawaban doa adalah hak dan kedaulatan-Nya, sedangkan tugas kita menjalani proses dalam menunggu jawaban “tidak” atau “ya”.

Sebagai manusia pasti punya cita-cita dan pengharapan dan ingin menjadi lebih dari orang lain. Ketika Tuhan menjawab “tidak” biarlah hati kita tidak menjadi tawar. Contoh dalam Alkitab : Paulus mengatakan bahwa dia rela kesulitan dalam mengikut Kristus. Yesus berdoa di taman Getsemani agar biarlah cawan berlalu dari diri-Nya namun Bapa menjawab “tidak” agar kita semua diselamatkan. Semua urgensi dari jawaban “tidak” adalah untuk kebaikan kita pada akhirnya.

Apapun pergumulan kita hari-hari ini, jangan merasa Tuhan tidak mendengar doa kita. Tuhan akan menjawab doa kita dengan cara-Nya sendiri. Belajarlah menunggu sambil menjalani proses sehingga kerohanian kita bertumbuh dan percaya suatu hari kita akan menerima kebaikan dari Tuhan.


"TUHAN YESUS MEMBERKATI"