• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Ps. JJ Simkoputera
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, Ibadah Raya 4, Ibadah Raya 5
  • Ps. JJ Simkoputera
  • 12 September 2021
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Ketika pertama kali saya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pada tahun 1997, dan bersekolah di luar negeri, seorang gembala gereja tempat saya beribadah waktu itu menanyakan mengapa saya tidak membagikan firman Tuhan saja kepada orang-orang serta memenangkan jiwa bagi-Nya. Jawaban saya saat itu, “Why Me ?”atau mengapa harus saya ?Saya beralasan dan berkata tidak bisa. Apalagi, saya merasa hidup saya biasa-biasa saja waktu itu, sehingga menganggap tidak mungkin dapat menjadi berkat. 

“Mengapa saya ?” sering kali menjadi sebuah sikap atau karakter dalam hidup kita. Padahal tujuan kita di dunia ini adalah menjadi duta Kristus serta kehidupan kita semakin serupa dengan-Nya.

Sering juga kita hanya membangun hubungan vertikal (pribadi) dengan Tuhan saja, padahal dengan mengalami perjumpaan pribadi dengan-Nya, kuasa firman, pemulihan, serta berbagai mujizat, semestinya kita pun membangun hubungan horizontal (membagikan sesuatu) dengan orang-orang sekitar. Sebab kita diberkati untuk menjadi berkat. Jika lupa terhadap hal itu sehinga hanya berfokus pada diri sendiri, kita akan melupakan Amanat Agung (Matius 28 : 19 - 20) dan bermental “Why me ?”

Karena itu, janganlah menjadi seorang yang egois. Tujuan gereja bukan sekadar hura-hura atau angka-angka atau hal lain yang sifatnya sekunder, melainkan lebih pada jiwa-jiwa. Sebab jika mengamati hari-hari ini, banyak sekali orang yang depresi, frustrasi, kesepian, hilang harapan, sampai bunuh diri. Seharusnya, kita dapat menjangkau mereka, dan bukannya bersikap “Mengapa harus saya ?” 

Jadilah jawaban melalui membagikan Kabar Baik, firman Tuhan, bahwa ada pengharapan serta sukacita penuh di dalam Dia. Satu jiwa pun sangat berharga !

Lukas 15 : 4
Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya ?”

Berhentilah memiliki mentalitas “Mengapa saya ?” Sebab sikap demikian membawa kita pada harga diri yang rendah, merasa tidak aman, bahkan tak tahu berterima kasih atau mengucap syukur, bersikap negatif, mental korban, dan membanding-bandingkan. Ujung semua itu membuat kita menjadi orang yang sangat pasif serta hidup dalam kekalahan. Padahal, kita masih memiliki pilihan, dan itu tergantung pada apa yang kita pikirkan.Jika semakin banyak hal-hal negatif masuk, kita pun akan menjadi rendah diri atau bersikap “Why me ?” Karena itu, kita harus menyaring apa saja yang kita lihat, dengar atau baca, terutama saat-saat pandemi seperti saat ini.

Saat kita mengatakan ‘Ya’ pada hal-hal negatif dalam pikiran, maka kita akan menyatakan ‘Tidak’ terhadap hidup yang lebih bermakna.

Amsal 4 : 23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Mari belajar dari satu tokoh Perjanjian Lama, yaitu Musa, yang sebenarnya bisa saja mengutarakan berbagai alasan menolak atau menunda-nunda panggilan Allah dalam hidupnya untuk menyelamatkan bangsa Israel, keluar dari perbudakan di tanah Mesir. 

Keluaran 3 : 11 - 14
Tetapi Musa berkata kepada Allah : "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir ?" Lalu firman-Nya : "Bukankah Aku akan menyertai engkau ? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau : apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."Lalu Musa berkata kepada Allah : "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka : Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku : bagaimana tentang nama-Nya ? apakah yang harus kujawab kepada mereka ?"Firman Allah kepada Musa : "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya : "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu : AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

Seandainya kita menjadi Musa, mungkin kita bersedia mengerjakan sesuatu yang luar biasa bersama Tuhan. Namun, Musa menuturkan banyak sekali alasan. Dan mungkin juga kita pun seperti demikian. Sering kali kita menghindari panggilan Tuhan dan malah meminta agar Dia memakai kehidupan orang lain, padahal Ia ingin bekerja melalui kita.

Keluaran 4 : 1 - 2
Lalu sahut Musa : "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata : TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu ?" TUHAN berfirman kepadanya : "Apakah yang di tanganmu itu ?" Jawab Musa : "Tongkat."

Keluaran 4 : 6 - 8
Lagi firman Tuhan kepadanya : "Masukkanlah tanganmu ke dalam bajumu." Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya, dan setelah ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti salju. Sesudah itu firman-Nya : "Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu." Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan setelah ditariknya ke luar, maka tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya." Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda mujizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda mujizat yang kedua.”

Keluaran 4 : 9 - 13
Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu." Lalu kata Musa kepada Tuhan : "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Tetapi Tuhan berfirman kepadanya : "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan ? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." Tetapi Musa berkata : "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus."

Keluaran 4 : 14 - 17
Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Musa dan Ia berfirman : "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu ? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya. Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan. Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. Dan bawalah tongkat ini di tanganmu,yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat.

5 Alasan Musa :

• Siapakah aku ini ? (Keluaran 3 : 11)

• Bagaimana tentang nama-Nya ? (Keluaran 3 : 13)

• Bagaimana jika mereka tidak percaya ? (Keluaran 4 : 1)

• Aku tidak pandai bicara (Keluaran 4 : 10)

• Utuslah kiranya siapa saja yang patut (Keluaran 4 : 13)

Jika kita beralasan “Why me ? Who am I ?” (Mengapa saya dan siapa saya ?), seperti Musa, kita akan merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Janganlah meremehkan kehidupan kita atau memiliki sikap seperti demikian.

3 Hal Yang Harus Kita Perbuat Agar Terhindar Dari Sikap Why Me :

1. DO NOT IGNORE ORDINARY THINGS (Jangan abaikan hal-hal biasa atau sederhana).

Hidup kita di tengah-tengah kultur atau budaya yang mengagungkan segala sesuatu yang serba mewah atau megah, sehingga sering kali lupa terhadap hal-hal yang biasa dan sederhana. Padahal, Allah yang kita sembah adalah Allah yang sanggup mengubah hal biasa menjadi luar biasa !

Seperti halnya Musa yang memiliki sebuah tongkat, sesuatu yang biasa-biasa saja, dalam konteks saat ini, ‘tongkat’ dapat melambangkan status sosial, materi maupun pekerjaan. Mungkin saat ini kita sedang meragukan apa pun yang kita miliki guna menjadi dampak dan memberi pengharapan bagi orang lain. Tetapi renungkanlah, bahwa apa saja yang kita miliki saat ini talenta, keluarga, dan lainnya sesungguhnya Tuhan sudah menolong kita melalui semua hal ketika Ia memilih kita. Ia tahu kita mampu karena mengandalkan-Nya sehingga hidup kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Percayalah, dalam Tuhan Yesus Kristus, tidak ada kebetulan, Ia memiliki rencana atas hidup kita masing-masing.

Apa saja yang masih kita miliki ? Yaitu, pancaindra dan cerita pengalaman kesaksian hidup kita. Mata untuk melihat siapa yang sedang mengalami kesusahan dan bisa kita tolong. Telinga untuk menyimak serta mendengarkan curhatan sahabat maupun orang yang belum mengenal Tuhan. Mulut serta lidah untuk menyampaikan berita keselamatan. Ataupun media sosial untuk memberkati banyak orang. Melalui sebuah hal sederhana yang kita kerjakan bersama Tuhan,akan dapat mengubah dan menjamah kehidupan orang lain. Jangan lagi meragukan hal-hal kecil, biasa ataupun sederhana.

“God is able to take the mess of our past and turn it into a message, He takes the trials and the tests and turns them into a testimony” atau Tuhan sanggup mengubahkan kegagalan kita di masa lalu dan menjadikannya sebuah pesan. Ia mampu memakai berbagai pencobaan serta pergumulan yang kita alami sebagai sebuah kesaksian, (Christine Caine).

2. DO NOT IGNORE ORDINARY PEOPLE (Jangan abaikan orang-orang biasa atau sederhana).

Musa sesungguhnya orang biasa-biasa saja. Tanpa Tuhan, ia tidak ada apa-apanya. Tanpa campur tangan-Nya, takkan ada pahlawan-pahlawan iman. Roh Kudus yang tinggal dalam hidup kitalah yang memampukan. Bahkan, Tuhan sering kali memakai kehidupan orang-orang yang biasa. Mengapa ? Supaya bukan manusia atau tentang kita, melainkan nama Tuhan sajalah yang dipermuliakan. Kita makhluk yang lemah serta memiliki banyak keterbatasan.

“God isn’t looking for ability, He’s looking for availability” atau Tuhan bukan mencari orang-orang yang berbakat dan mampu, melainkan orang-orang yang bersedia serta mau, (Henry Blackaby).

Jika kita bersedia, Tuhan sanggup memakai kehidupan kita, sehingga tak lagi kita memiliki sikap “Why me ?” atau “Mengapa saya ?”

Jangan juga mendefinisikan kehidupan kita berdasar situasi yang sedang terjadi saat ini. Oleh karena latar belakang kita takkan sepenuhnya menentukan masa depan kita, melainkan bersama dengan Kristus, kita akan cakap menanggung segala perkara.

“The reality is that the Lord never calls the qualified, but He qualifies the called” atau sesungguhnya Allah tidak pernah memanggil orang-orang yang memenuhi syarat, melainkan Ia sanggup memperlengkapi serta senantiasa melayakkan orang-orang yang bersedia dipakai oleh-Nya, (Henry Blackaby).

3. DO NOT IGNORE EXTRAORDINARY GOD (Jangan abaikan Tuhan Allah yang luar biasa).

Apa pun yang kita kerjakan, tanpa Dia, sesungguhnya tidak ada artinya. Karena itu, bersyukurlah bila kita memiliki Allah yang besar. Sadarilah karakter dan kuasa Allah, Ia adalah :

• Jehova Jireh (The Lord will provide : Tuhan akan menyediakan)

• Jehova Rapha (The Lord will heal : Tuhan akan menyembuhkan)

• Jehova Shallom (The Lord our Peace : Tuhan damai sejahtera kita)

• Jehova Nissi (The Lord our Banner : Tuhan Panji-panji kemenangan kita)

• Jehova Raah (The Lord is our Shepherd : Tuhan adalah Gembala kita)

• Jehova Shammah (The Lord is always present : Tuhan senantiasa hadir menyertai kita)

Begitu dahsyat serta perkasa Allah kita, maka maukah kita berhenti memiliki mentalitas sikap “Why me ?”atau “Mengapa saya ?” Jangan menyia-nyiakan pengurbanan kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa kita, ataupun mendukakan Roh Kudus yang tinggal dalam hidup kita.

“You are the only Bible some unbelievers will ever read” atau sesungguhnya kita dapat menjadi surat Kristus (2 Korintus 3 : 3) atau Alkitab yang terbuka dan dibaca orang-orang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus, (John MacArthur).

“We are the Bibles the world is reading; we are the creeds the world is needing; we are the sermons the world is heeding” atau kita dapat menjadi pesan firman Tuhan, pengajaran yang benar, penyataan iman serta kabar kesaksian yang akan dibaca dan sangat diperlukan serta sedang diperhatikan oleh orang-orang di dunia ini, (Billy Graham).

Kiranya kita memiliki mental yang diubahkan melalui firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan hal-hal maupun orang-orang yang biasa dan sederhana, terutama untuk tiada pernah mengabaikan Tuhan, Allah yang kita sembah serta luar biasa dalam hidup kita.

Semoga kita mau mengubah “Why me ?” menjadi “Why not ?” atau “Mengapa tidak ?” yang akan mau dipakai oleh Tuhan untuk membagikan kebenaran, kebaikan serta kekuatan bagi banyak orang, sebab dunia ini memerlukan perbedaan nyata, terang Tuhan yang ajaib.

Maukah kita menjadi satu di antaranya yang mengatakan, “Why not ? Kita memiliki Allah yang besar, kiranya Ia memakai kehidupan kita, dan kita pun siap mengikuti serta melaksanakan kehendak-Nya.

Tuhan Yesus Memberkati

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email