• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. DR. Janto Simkoputera, MD PhD
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Kitab Kidung Agung mungkin sulit untuk dimengerti. Salomo menulis kitab tersebut ketika berada di kota Yerusalem, sesudah Bait Allah selesai dibangun pada kurang lebih tahun 1020 sebelum Masehi.

Jika kita membaca kitab Kidung Agung ini, maka kita akan mulai mengerti bahwa kata-kata di dalam kitab tersebut bukanlah berisi kata-kata cabul ataupun tidak senonoh, melainkan sebuah kisah cinta serta kesetiaan seorang gadis Sulam yang sederhana kepada sang gembala yang sederhana pula. Walau ditawari kekayaan serta kejayaan, tetapi dia tetap setia kepada kekasihnya, sang gembala. Suatu hal yang patut kita contoh.

Di dalam kitab ini, ada tiga tokoh utama : GADIS SULAM, GEMBALA MUDA, dan RAJA SALOMO. Ketiga tokoh tersebut memiliki ciri-ciri, yaitu gadis Sulam hitam dan cantik; gembala muda tinggal di desa terpencil, hidup secara sederhana dan telah menjalin hubungan asmara sejak lama dengannya; serta Raja Salomo yang memiliki kekayaan dan kekuasaan berusaha merebut & mengganggu jalinan cinta mereka.

GADIS SULAM DI PERKEBUNAN SALOMO

Raja Salomo memiliki kebun anggur yang salah satunya di desa Sulam (terletak di utara Yerusalem, di selatan kota Nazaret), jadi cerita di Kidung Agung mengambil lokasi di desa Sulam. Raja Salomo mengekspresikan kecantikan gadis Sulam tersebut. Salomo waktu itu masih muda, merayu & menawarkan kekayaan kepadanya untuk menjadikannya sebagai istri.

Kidung Agung 1 : 5 – 6, 15 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma. Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga … Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

Kidung Agung 1 : 11 Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak.

Gadis Sulam hampir tergoda terhadap tawaran kekayaan maupun posisi jabatan tersebut. Tetapi, bagaimana respons gadis Sulam dan apa yang bisa kita tiru atau pelajari ?

SANG GEMBALA, KEKASIHNYA DATANG

Sang gembala, kekasih dari gadis Sulam tersebut muncul, lalu memujinya. Bayangkan, seseorang memberi kata-kata pujian, biasanya kita sebagai wanita ataupun pria akan luluh hati kita. Demikian pula sang gembala, kekasih dari gadis Sulam memuji dia, dan dibalas secara rendah hati oleh gadis Sulam. Sang gembala begitu mengasihi gadis Sulam sehingga mengekspresikan semua perasaannya melalui perkataannya.

Kidung Agung 1 : 15 – 16 Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. --Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.

Kidung Agung 2 : 1 – 2, 14 b Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah. --Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis … Perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!

GADIS SULAM RINDU SEKALI & CINTA KEPADA GEMBALA MUDA, BAHKAN LEWAT MIMPI PUN DIUTARAKANNYA

Gadis Sulam menunjukkan kesetiaannya kepada sang gembala, kekasihnya. Bahkan cintanya begitu besar sehingga tidur pun mimpinya hanya kepada sang gembala, kekasihnya. Gadis Sulam pun mengekspresikan cintanya kepada kekasihnya, sang gembala.

Kidung Agung 2 : 16 Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.

Kidung Agung 3 : 1 – 3 Impian mempelai perempuan -- Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?"

Kidung Agung 5 : 2 , 5 – 6 Kerinduan mempelai perempuan -- Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. "Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!" … Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku, tanganku bertetesan mur; bertetesan cairan mur jari-jariku pada pegangan kancing pintu. Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.

Nah bayangkan, terutama sebagai seorang pria, apabila kekasih atau calon istri kita mengatakan kalimat-kalimat pujian tersebut di atas kepada kita, pasti kita sangat tersanjung. Seperti itulah kesetiaan gadis Sulam kepada kekasihnya, sang gembala.

PUTRI-PUTRI YERUSALEM BERUSAHA MEMBUJUK GADIS SULAM AGAR MENERIMA CINTA SALOMO

Salomo tentunya datang beserta para pahlawan perangnya & putri-putri Yerusalem yang berusaha membujuk gadis Sulam supaya mau menerima cinta dari Raja Salomo, namun dua kali gadis Sulam itu berkata jangan menggerakkan cintanya. Artinya, janganlah mereka membuat gadis Sulam jatuh cinta kepada sang raja.

Kidung Agung 3 : 5 b Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!

Kidung Agung 2 : 7 b Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!

Putri-putri Yerusalem heran mengapa gadis Sulam begitu memuji-muji kekasihnya, sang gembala, dan apa kehebatan gembala muda itu. Gadis Sulam menjawab demikian :

KELEBIHAN SANG GEMBALA MUDA

Kidung Agung 5 : 10 – 13 Putih bersih dan merah cerah kekasihku, menyolok mata di antara selaksa orang. Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak. Matanya bagaikan merpati pada batang air, bermandi dalam susu, duduk pada kolam yang penuh. Pipinya bagaikan bedeng rempah-rempah, petak-petak rempah-rempah akar. Bunga-bunga bakung bibirnya, bertetesan cairan mur.

Kidung Agung 5 : 14 – 16 Tangannya bundaran emas, berhiaskan permata Tarsis, tubuhnya ukiran dari gading, bertabur batu nilam. Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih, bertumpu pada alas emas murni. Perawakannya seperti gunung Libanon, terpilih seperti pohon-pohon aras. Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.

RAYUAN TERAKHIR RAJA SALOMO

Kemudian, gadis Sulam memberitahu tidak bisa menerima cinta Salomo, meski raja berusaha merayunya dengan kekayaan ataupun jabatan dan kata-kata karena dia begitu cantik.

Kidung Agung 6 : 8 – 9 a Permaisuri ada enam puluh, selir delapan puluh, dan dara-dara tak terbilang banyaknya. Tetapi dialah satu-satunya merpatiku.

Gadis Sulam menjawab :

Kidung Agung 6 : 3 Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.

Kidung Agung 7 : 10 Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.

Dengan begitu, maka menyerahlah rayuan gombal ataupun "tipu daya" raja Salomo terhadap gadis Sulam. Artinya, gadis Sulam menolaknya. APA YANG PERLU & BISA KITA PELAJARI DARI KISAH INI ? Bahwa melalui ketiga tokoh dalam kisah di Kidung Agung tersebut, yaitu gadis Sulam, gembala muda, dan Raja Salomo, dapat menggambarkan :

Gadis Sulam adalah orang-orang biasa seperti kita, sekali cinta Yesus harus tetap cinta Yesus, walaupun Iblis akan menawarkan jabatan, kekayaan, dan popularitas untuk menjegal kita supaya tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah

Gembala muda adalah figur dari Tuhan Yesus Kristus

Raja Salomo ialah dunia serta segala kekayaan, jabatan maupun popularitasnya

Bagaimana dengan keadaan kita sekarang, apakah kita seperti gadis Sulam yang tetap cinta serta setia & mengasihi Tuhan Yesus ? Walau ditawari kekayaan dan jabatan, cinta kita kepada Sang Gembala Agung akankah tidak goyah ? Berapa banyak orang yang karena jabatan, kita tega "menjual" Yesus ? Karena kekayaan, kita menyangkal dan menolak Yesus, ataupun merasa sibuk tidak mau melayani Dia lagi ? Bertobatlah jika kita seperti demikian. Lihatlah gadis Sulam, meski mendapat godaan kekayaan besar yang luar biasa, tetapi sekali cinta pada kekasihnya sang gembala, tetap cinta kepadanya.

Yesus harus mati & rela disalibkan untuk memikul dan menebus seluruh dosa-dosa kita agar kita memperoleh keselamatan di surga kekal. Walau di kayu salib Ia diberi mahkota duri bertuliskan INRI (Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum atau bahasa Yunani yang berarti Yesus Raja Orang Yahudi) di atas kepala-Nya, tetapi di dalam hati-Nya pun tertuliskan nama kita semua. Sebab Dia mengasihi kita. Ingatlah akan kebaikan-kebaikan-Nya serta pengampunan-Nya.

Bagaimana saat ini kasih kita kepada Tuhan ? Apakah bisa dibeli oleh kekayaan, jabatan di dunia ini ? Ataukah kita sekali cinta Yesus, tetap Yesus ? Walaupun ibadah online ataupun offline, apakah kita semua tetap mau mencari Dia ? Kiranya kita sekali cinta Yesus, tetap Yesus sampai selamanya. Kiranya kekayaan & jabatan tidak mengubah cinta kita kepada-Nya, serta kita sanggup melakukan segenap firman-Nya.

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email