• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Ps. Evelyn Nadeak
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, 2PM, Ibadah Raya 5
  • Ps. Evelyn Nadeak
  • 13 September 2020
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Kita masih berada di tengah kondisi yang sama yaitu pandemi, tetapi apakah kita telah menjadi orang-orang yang berbeda? Apakah kita dapat beristirahat di tengah-tengah badai?

Apa yang kita alami dengan Corona Virus di tahun 2020 ini pun tentu ini bukan badai yang kecil, melainkan besar, tetapi apakah kita bisa melihat pemaknaan dari sudut pandang firman Tuhan dan Allah yang mengizinkan kita mengalami badai atau pandemi tersebut?

Markus 1 : 16 – 17 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."

Panggilan awal Kristus untuk orang-orang yang akan melakukan penginjilan dunia bersama-Nya adalah panggilan untuk pemuridan. Undangan pertama yang kita dengar dan diberi dari Tuhan pada kita adalah untuk mengikut Dia. Bisakah kita mengingat kapan kita pertama kali menerima undangan panggilan-Nya? Ketika Tuhan memanggil hidup kita, berkomitmenlah kepada-Nya.

Undangan pemuridan adalah mengizinkan Dia untuk memuridkan kita. Apakah pemuridan adalah sesuatu yang sudah kita tinggalkan? Apakah di era kenormalan yang baru ini, kita masih melakukan pemuridan & produktif memuridkan orang lain, sementara kita sendiri sedang dalam pemuridan bersama Tuhan Yesus?

Markus 4 : 35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."

Kata 'seberang' menujuk pada takdir ilahi kita, rancangan dan tujuan Tuhan bagi hidup kita. Sebab selama kita masih di bumi, ada tujuan Tuhan untuk segala sesuatu. Tuhan masih punya rencana, takdir ilahi dan tujuan atas setiap waktu di hidup ini.

Pengkhotbah 3 : 1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Markus 4 : 36 – 37 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

Mereka tadinya di tepi danau Galilea, lalu berada di dalam kapal dan bertolak ke seberang, dan menghadapi badai dahsyat yang mungkin tidak tahu kapan berhentinya. Di tengah pandemi seperti ini pun kita tidak tahu kapan badai ini akan berakhir. Pandemi yang kita alami ini mungkin pandemi yang panjang. Ibarat lari maraton atau jarak jauh. Jika lari jarak pendek adalah untuk uji kecepatan, tetapi lari jarak jauh adalah untuk ujian ketahanan (endurance). So, can we endure over the long haul (Apakah kita siap tabah bertahan untuk masa yang panjang)? Sebab kita pun mengalami kedahsyatan badai pandemi yang panjang ini.

Markus 4 : 38 – 40 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"

Ada kontras antara murid-murid-Nya yang mengira mereka akan binasa, padahal Guru mereka sedang tertidur. Sebagai murid pun, kita ada dalam skala yang mana: apakah mengira akan binasa, ataukah percaya dan ikut serta mengalami segala sesuatu bersama-Nya? Lihatlah teladan Tuhan Yesus saat di tengah badai.

Bahkan dengan Yesus, murid-murid pun bisa berada dalam badai. Kita pun saat ini ada di kapal dan badai. Mungkin bukan ombak yang menghantam, melainkan omset atau pemasukan yang menurun, belum ada penghasilan tetap, berusaha bertahan hidup demi keluarga, dan lain-lain.

Kita perlu bersedia dimuridkan terlebih dahulu oleh Tuhan, sebab karena itulah Dia mengundang. Kita perlu dimuridkan terlebih dahulu sebelum kita bisa memuridkan olang lain, karena kita tidak bisa memberikan atau membaginkan apa yang tidak atau belum kita miliki.

Kata 'ginosko' dalam bahasa Yunani adalah involves experiential knowledge, not merely the accumulation of known facts (Jika kita murid, kita perlu menjadi murid yang mempunyai pengalaman, bukan sekadar kumpulan fakta-fakta pengetahuan). Inilah waktunya semua catatan pengetahuan iman dan kerohanian harus menjadi nyata dalam diri kita. Kita perlu mengubah teori menjadi pengalaman nyata dalam kehidupan. Sebab kuasa hanya bisa terjadi ketika kita benar-benar mengalaminya. Lewat pengalaman itu kita akan mempunyai pengurapan & membagikannya. Jadi, kejarlah pengalaman, bukan sekadar koleksi pengetahuan. Sebab banyak orang berpendidikan, tetapi tidak banyak yang sungguh punya pengalaman.

Pemuridan bersifat experiential (berpengalaman). Ibarat tidak ada orang berenang di kelas, melainkan harus masuk kolam. Jika kita mau tahu bagaimana menang menghadapi krisis atau badai, kita harus menghadapi krisis & badai. Puji Tuhan, kita tidak dibiarkan sendiri mengalami badai itu, tetapi Dia beserta kita melalui Roh Kudus yang ada & hadir di dalam kita & hidup kita. Roh Kudus memuridkan kita secara up close and personal (ibarat Guru Privat) yang memperhatikan semua orang secara pribadi, satu per satu. Roh Kudus hadir memuridkan kita 24 jam setiap hari. Dia sanggup menerangi & memberi pengertian bagi kita sampai jelas.

'Ginosko' is when you experientially learn something, either in a classroom or more often in the classroom of life. 'Ginosko' is that knowledge that comes by obeying the Lord (Pelajaran adalah ketika kita mulai benar-benar mempraktikkannya. Kita tidak akan tahu sebelum mempraktikkan dan ada hasilnya). Jadi, semestinya setiap perkataan firman tidak kembali sia-sia, melainkan akan berhasil karena berkuasa saat kita mulai taat & mempraktikkannya.

Yesaya 55 : 11 Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Tidak mungkin ada sesuatu dalam kehidupan ini yang Tuhan belum nyatakan atau mengajarkan cara untuk menghadapinya, sebab Ia adalah Guru yang Baik. Ia pasti akan mengajarkan apa yang harus kita lakukan saat menghadapi sesuatu atau ujian tertentu. Jadi, tidak mungkin ada ujian yang belum pernah Ia ajarkan cara menghadapinya. Janganlah kehilangan pegangan. Coba lihat kembali catatan-catatan iman kita & lihatlah apakah Tuhan pernah menyatakan sesuatu kepada Anda tentang apa pun yang kita alami saat ini? Kita tidak akan kandas karena Tuhan telah berfirman, Ia adalah Bapa yang Setia, maka Ia akan melakukan apa yang Ia janjikan.

Ulangan 31 : 6 & 8 "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.

The greatest gap in life is the one between knowing and doing (Celah terbesar dalam hidup ini adalah antara apa pun yang kita ketahui & apa yang sesungguhnya kita lakukan). Sering kali mungkin kita merasa gagal ataupun akan binasa, tetapi bisakah kita tetap merasa tenang dalam badai? Pengetahuan iman yang kita timbun mungkin menyatakan kita bisa menghadapi segala perkara & menang, tetapi bagaimana saat menghadapi badai yang sesungguhnya? Adakah celah antara catatan-catatan iman kita dengan menjalani hidup ini?

Yesus bisa tidur tenang saat badai, sementara murid-murid-Nya berpikir akan binasa. Karena di tengah badai, segala gejolak jiwa mereka terungkap. Badai menyingkapkan banyak hal. Jadi, kita perlu melihat, di tengah badai yang kita hadapi, suara-suara jiwa apakah yang kita dengarkan? Kalau tenang & tidak ada badai, mungkin tidak ada kebisingan dalam jiwa. Pada saat badai terjadi, biasanya apa yang tersimpan dalam diri akan muncul keluar.

Di tengah badai, kita perlu tenang untuk bisa tahu bahwa ada Tuhan, dan pengetahuan-pengetahuan akan kita alami meski di tengah badai. Di tengah kebisingan hidup, kita tidak akan bisa mendengarkan Tuhan. Izinkanlah Tuhan berbicara dan memproses Anda.

Mazmur 46 : 10 "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"

Perubahan bersifat situasional. Transisi (gejolak dalam kejiwaan kita) bersifat psikologis. Ada proses fase yang dilalui seseorang saat menginternalisasi/menghayati & menerima semua dampak yang disebabkan oleh perubahan. Kita harus tetap maju, sebab kita mungkin tidak bisa kembali ke seperti yang dulu.

Titik awal dari suatu transisi adalah ending (akhir) yang harus kita lakukan untuk meninggalkan situasi ataupun identitas yang lama. Marilah tangkap pelajaran yang Tuhan Yesus dan Roh Kudus ajarkan, lalu kita melangkah maju. Jagalah juga perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita. Goncangan badai akan meluapkan isi hati kita yang sesungguhnya.

Tuhan yang mengawali pekerjaan baik tidak akan membiarkan kita tenggelam dalam badai. Justru di tengah badai ini, kita jadi lebih kenal diri kita. Itu adalah pembelajaran yang sangat berarti. Saat kita pun mulai sangat mengenal Tuhan, kita akan mengenal diri sendiri. Janganlah salah menilai diri yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak ada pengalaman nyata dalam realitas. Badai sanggup menyatakan diri kita yang sesungguhnya.

Yesus memberi teladan kepada kita untuk tetap tenang. Tuhan Yesus tahu apa yang Ia lakukan, yaitu menghardik angin. Sebab ketika Ia tertidur nyenyak & dibangunkan oleh para murid-Nya, Ia tidak menghardik mereka terlebih dulu, melainkan badai itu.

Tuhan Yesus ingin kita pun tahu bahwa ada ketenangan dari dalam supaya kita tahu bagaimana menggunakan urapan dan otoritas maupun kekuatan yang Tuhan percayakan dalam hidup kita supaya tidak salah pakai. Kita menghardik angin badai, bukannya menghardik orang-orang lain, sebab mereka adalah orang-orang yang juga menghadapi badai dan perlu kita kasihi.

A smooth sea never made a skilled sailor (Lautan yang tenang tidak akan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh). Pelaut yang tangguh adalah produk dari ombak & badai yang mengamuk di tengah samudra. Sebab badai & ombak akan menyingkapkan kondisi jiwa. Jadi, di kondisi badai pandemi ini, kondisi jiwa kita akan tersingkap. Apakah kita akan menjadi seseorang yang lebih baik, ataukah seseorang yang pahit hati? Pilihannya ada pada kita. Kiranya kita belajar dari Mentor Agung kita, Yesus Kristus yang hadir melaui Roh Kudus supaya kita suatu hari dapat dipercaya dengan karunia-karunia, urapan, posisi dan otoritas karena kita tahu cara memakainya, kita menghardik & menghadapi badai, kita mampu berproses dan berkata-kata dengan orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email