• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, 2PM, Ibadah Raya 5
  • Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • 16 Agustus 2020
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Pada saat kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, maka Roh Kudus masuk ke dalam hati dan kita menjadi bait Allah.

1 Korintus 3:16

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

Pada 17 Agustus 2020, kita merayakan Ulang Tahun Kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia. Seperti Tuhan memberi kita kemerdekaan dari penjajahan hukum dosa & maut, maka Dia juga sudah memberikan kemerdekaan bagi Indonesia dari segala bentuk penjajahan. Dirgahayu Republik Indonesia!

Roma 8:2

Roh, yang memberi hidup—yang ada di dalam kita—telah memerdekakan kita dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.

Dalam masa pandemi COVID-19 ini, kita harus melakukan seperti Yeremia 29:7, yaitu mengusahakan kesejahteraan negara di mana kita tinggal dan berdoa untuk negara. Sebab kesejahteraan Indonesia adalah kesejahteraan kita!

Kita sebagai bait Allah harus hidup dipimpin Roh Kudus, bukan hidup menurut daging.

Roma 8:13

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Salah satu peranan Roh Kudus adalah mengurapi kita. Pengurapan-Nya akan mengajar kita dalam setiap pemikiran, keputusan dan langkah yang harus diambil. Selain itu, memberi kita kuasa menjadi saksi Yesus dalam menyelesaikan Amanat Agung. Di era Pentakosta Ketiga ini, untuk menyelesaikan Amanat Agung, Tuhan menyediakan pengurapan & kuasa double portion. Kita akan melakukan yang dilakukan Tuhan Yesus pada waktu Dia di bumi, bahkan lebih besar.

Daud sangat mengasihi Allah & rindu mendirikan bait Allah. Tetapi Tuhan tidak mengizinkan karena ia seorang prajurit yang banyak menumpahkan darah. Tuhan mengatakan, yang akan mendirikan bait-Nya adalah anaknya, Salomo, meski Daud yang mempersiapkan segala sesuatu untuk membangun bait itu. Waktu Daud menantang Israel memberikan sumbangan untuk pembangunannya, bangsa itu bersukacita karena mereka memberi dengan rela dan tulus.

Untuk membangun bait Allah yang adalah tubuh kita ini, syarat utama adalah mengasihi Tuhan. Karena kita mengasihi Tuhan, maka kita mempersiapkan segala sesuatu untuk membangun tubuh kita sebagai bait-Nya, yaitu membangun kerohanian kita. Salah satunya, memberikan persembahan kepada Tuhan & sesama. Perintah memberi kepada Tuhan dan sesama bukan hanya bagi orang-orang yang berkelimpahan secara materi, melainkan juga yang berkekurangan. Waktu kita memberi, seperti yang terjadi pada Daud & Israel, maka kita akan mengalami sukacita yang berlimpah.

Filipi 4:4

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Dalam pandemi COVID-19 ini, banyak orang kehilangan sukacita. Itu memang rencana Iblis untuk menghancurkan kita. Tetapi, Tuhan memberi kunci untuk mengembalikan sukacita, yaitu dengan cara memberi. Sesuai 2 Tawarikh 3:1, Salomo mendirikan bait Allah di Yerusalem, di Gunung Moria, di mana Tuhan menampakkan diri ke Daud di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus. Daud yang menetapkan tempat bait Allah itu. Bait Allah Salomo merupakan perpaduan dari Tabernakel Musa & Tabernakel Daud (2 Tawarikh 8:12-14). Tabernakel Musa berbicara tentang hukum Allah, sedangkan Tabernakel Daud berbicara tentang doa, pujian dan penyembahan. Sebagai bait Allah, kita harus taat pada firman Allah & hidup dalam doa, pujian dan penyembahan.

Bait Allah Salomo berada di Gunung Moria, di Yerusalem. Gunung Moria adalah tempat di mana Daud disuruh Tuhan membuat mezbah bagi-Nya, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Setelah melakukan itu, Tuhan mengabulkan doa Daud untuk negerinya. Tulah penyakit sampar yang mengakibatkan 70.000 orang Israel mati, berhenti.

Tuhan pun meminta kita mempersembahkan korban kepada-Nya, terutama di tengah-tengah pandemi ini supaya doa kita dikabulkan-Nya. Saya bersyukur karena gereja-gereja di Indonesia, saat pandemi COVID-19, mempersembahkan korban. Bilangan Research Center (BRC) melakukan penelitian dan hasilnya didapatkan: sebagian besar gereja, yaitu sekitar 75%, pemasukan keuangannya menurun sampai 60%. Tetapi, justru gereja yang keuangannya menurun 40-60%, gereja itu yang paling banyak memberi ke anggota gereja, masyarakat, bahkan gereja lain, bekerja sama dengan pemerintah dan melakukan pelayanan sosial. Bahkan, gereja dengan jumlah anak muda lebih banyak yang berusia di bawah 21 tahun justru gereja itu lebih murah hati & peduli. Juga terjadi kebangkitan gerakan doa antardenominasi gereja. Mereka sehati bertekun dalam doa bersama. Untuk unity seperti ini perlu pengorbanan.

Gunung Moria juga adalah tempat Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Saya percaya, bagi Abraham ini pasti sulit. Ishak diberi ke Abraham dan Sara pada masa tuanya, dimana sudah tidak mungkin mempunyai anak. Ishak adalah anak tunggal dan hati Abraham sangat lekat kepada Ishak. Dan Tuhan meminta Abraham agar Ishak dipersembahkan sebagai korban bakaran. Tuhan menguji Abraham apakah ia lebih mengasihi-Nya dibanding mengasihi Ishak. Ternyata dalam pergumulan sangat berat ini, Abraham menang. Abraham lebih mengasihi Tuhan. Supaya menjadi pemenang dalam pergumulan ini perlu pengorbanan. Setelah Abraham lulus ujian, ia diberkati Tuhan berlimpah-limpah!

Untuk menerima pengurapan & kuasa double portion, Tuhan pasti akan menguji kita untuk melihat apakah kasih kita kepada-Nya melebihi kasih kita kepada yang lain, termasuk keluarga, uang, harta, kedudukan, harga diri dan lain-lain. Kita harus jadi pemenang!

Roma 12:1

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Untuk mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang hidup—artinya, tidak mati secara rohani, tidak suam-suam kuku, kudus dan berkenan kepada Tuhan—perlu pengorbanan. Tidak benar kalau setelah lahir baru, kita bebas melakukan apa saja dengan alasan pasti Roh Kudus tetap menuntun sehingga Bapa akan tersenyum. Justru kita harus berusaha sungguh-sungguh mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan.

Pada awal 2009, Tuhan berkata kepada saya dari Wahyu 3:11a bahwa, "Aku datang segera." Saya sering mendengar kata-kata tersebut, tetapi saat itu ada sesuatu yang lain. Saya gemetar & berkata, "Tuhan, apa yang akan Tuhan kerjakan dan apa yang harus kami lakukan?" Enam bulan kemudian Tuhan menjawab, "Aku akan mencurahkan Roh-Ku. Aku akan mencurahkan Roh-Ku." Saat Roh Kudus dicurahkan, akan terjadi seperti dalam Yoel 2: 28-32. Ada tiga tanda:

a. Anak-anak, pemuda dan orangtua akan dipakai Tuhan secara luar biasa

b. Mujizat akan terjadi luar biasa

c. Goncangan juga akan terjadi luar biasa

Dengan adanya tiga tanda ini, banyak orang akan berseru kepada nama Tuhan. Mereka yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Artinya, akan terjadi penuaian jiwa besar-besaran. Pada 2013, Tuhan berkata tentang pencurahan Roh Kudus ini sebagai Pentakosta yang Ketiga. Ini sesuai nubuat William Seymour pada 1909, yaitu kira-kira 100 tahun ke depan, yang berarti zaman now, akan terjadi pencurahan Roh Kudus yang luar biasa melebihi di Azusa Street. Sejak itu, saya terus-menerus memperkatakan hal ini.

Tidak ada yang mengira goncangan yang terjadi pada 2020, di era Pentakosta Ketiga ini adalah lewat pandemi COVID-19. Di sini jelas pandemi COVID-19 ada hubungannya dengan: "Aku datang segera." Waktu Tuhan Yesus ditanya murid-murid-Nya, "Apa tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia ini?" Yesus menjawab dari Matius 24:4-14 (Lukas 21:8-19) yang intinya akan terjadi:

a. Goncangan terhadap orang percaya

b. Goncangan terhadap semua orang yang di bumi

c. Pemberitaan Injil di seluruh bumi

Dalam goncangan tadi, salah satunya disebutkan penyakit sampar, yang berarti COVID-19 termasuk di sini. Jadi, pandemi Covid-19 ini bagian tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua! Yang perlu diingat:

a. Yang pertama: Kita tidak mengatakan setelah pandemi ini, Tuhan Yesus pasti datang kembali. Dalam hal ini kita tidak pernah tahu

b. Yang kedua: Kita juga tidak bisa berkata Tuhan Yesus pasti belum datang setelah pandemi ini atau lama setelah pandemi ini berakhir. Dalam hal ini pun kita juga tidak pernah tahu

Pandemi COVID-19 ini merupakan warning atau peringatan kepada kita bahwa kedatangan Tuhan Yesus sudah semakin dekat. Kalau dalam kitab Wahyu saja Tuhan Yesus berkata: "Aku datang segera," sebanyak 4 kali, "Waktunya sudah dekat, waktunya sudah singkat," sebanyak 2 kali, apalagi hari-hari ini, pasti kedatangan Tuhan Yesus sudah sangat dekat.

Saya percaya orang yang merindukan kedatangan Tuhan, seperti jemaat mula-mula yang selalu berkata: "Maranatha," sebagai doa dan salam, pasti akan lebih serius menyelesaikan Amanat Agung Tuhan Yesus. Sehingga saat Dia datang kembali, kita akan mendengar suara penghulu malaikat, bunyi sangkakala, dan mendengar nama kita dipanggil.

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email