• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. Johan Lumoindong
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, Ibadah Raya 4, Ibadah Raya 5
  • Pdt. Johan Lumoindong
  • 27 Juni 2021
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Hari-hari ini mungkin kita merasakan hal yang sama, yaitu takut. Tetapi, Tuhan Yesus mengatakan, "Jangan takut," sebab sering kali kita merasa Tuhan jauh atau menganggap tak sanggup menolong. 

Jika sedang berada di "persimpangan jalan", seperti halnya Petrus yang tidak menyadari dan merespons panggilan Tuhan dengan baik sehingga merasa takut, khawatir serta tidak layak, sesungguhnya jauh di lubuk hati terdalam, Roh Allah memanggil kita untuk keluar dari kegelapan dosa dan cara hidup yang lama, kebiasaan-kebiasaan buruk, mengeraskan hati, tegar tengkuk dan menolak panggilan-Nya. 

Jadilah pribadi yang merespons panggilan Tuhan. Miliki ketulusan hati serta keputusan untuk menyerahkan segala sesuatunya ke Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang berharga serta terbatas ini, yang tak kita ketahui kapan akhirnya—entah esok, lusa ataupun hari ini. Sebab kematian dapat menimpa siapa saja, tanpa pandang bulu ataupun membeda-bedakan usia. 

BAGAIMANA MERESPONS PANGGILAN ALLAH DENGAN BAIK : 

1.Motivasi yang Benar (The Right Motivation).

Cek motivasi kita. Miliki motif yang benar, bukan yang keliru, dalam merespons panggilan-Nya. Panggilan Tuhan berbeda dari bidang sekuler. Panggilan-Nya bagi kita masing-masing sedemikian spesifik, maka harus punya motivasi yang benar. Sebab banyak orang yang mungkin terpanggil, namun tujuannya hanya supaya kaya, terima berkat, dan senang-senang saja. 

Panggilan dan pilihan-Nya bagi kita itu sesuatu yang mulia serta guna mempermuliakan nama-Nya. Sebab dari antara sekian banyak manusia di muka bumi, kita dipilih dan dipanggil-Nya. Renungkanlah hal ini baik-baik. Kita terpanggil untuk melakukan pekerjaan yang baik.  

Lukas 5 : 1 – 3 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 

Tuhan Yesus ingin memperbaiki motivasi kita, seperti halnya terhadap murid-murid-Nya waktu itu. Ia mengubah hati mereka yang hanya ingin mencari atau menjala sesuatu bersifat materi, menjadi pribadi-pribadi yang akan menyelamatkan jiwa-jiwa. 

Seperti apakah motivasi kita saat ini di tengah pandemi ? Maukah kita memiliki motif yang benar dan memuliakan Tuhan walau keadaan membuat kita gentar ? Ataukah justru terjadi perubahan dan pergeseran motivasi ? Lupakah terhadap panggilan-Nya, terutama kasih mula-mula kepada-Nya karena berbagai situasi sulit mengelilingi ? Motivasi yang benar itulah yang telah hilang dalam kehidupan banyak orang. 

2.Melakukan yang Benar (The Right Thing).

Tuhan memahami kita memerlukan berkat-Nya untuk kebutuhan kita. Ia tahu banyak cara untuk memberkati tiap kita. Tak pernah Ia hilang jejak, kerinduan ataupun kuasa untuk menyatakan berkat-Nya. Namun, terlebih dulu Ia ingin perbaiki motivasi hati serta mengajar kita. 

Hal benar yang patut kita pertimbangkan ialah menomorsatukan Dia, walau seolah harus mengubah banyak hal. Dengarkanlah Dia dan firman-Nya. Perkataan-Nya dapat menjadi kekuatan. Dahulukanlah Tuhan, sebab banyak orang kehilangan waktu untuk membaca dan merenungkan firman ataupun berdoa serta beribadah, terlebih hari-hari ini banyak gereja yang belum dapat melangsungkan ibadah. Jangan kehilangan jati diri sebagai pemuji, penyembah Tuhan maupun rasa haus dan lapar akan firman-Nya. 

Lukas 5 : 3 – 5 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon : "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab : "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." 

Dan seperti halnya tergantung Petrus mau atau tidak mendorong perahunya, dalam hal ini mengerjakan bagiannya, demikian juga kita. Puji Tuhan, Petrus melakukannya dan menaati Tuhan. 

Sadarilah, berkat Tuhan akan datang setelah kita melakukan kebenaran, menjadi orang-orang yang taat firman. Ada korelasi antara berkat-Nya dengan menaati firman. Bukan tuntut dulu berkat, baru taat firman, melainkan sebaliknya taati dan prioritaskan firman-Nya supaya berkat-Nya mengalir. 

Di tengah situasi sulit seperti ini, kita mesti tetap mengerjakan sesuatu yang benar (do what's right). Apa yang benar ? Firman Tuhan. Perkataan-Nya sanggup menyentuh hati setiap kita. 

Sebuah lagu rohani menyanyikan, "When Jesus say Yes, nobody can say No," ketika Tuhan Yesus mengatakan Ya, bahwa Ia sanggup memerintahkan berkat-Nya, maka tak seorang pun dapat membantah-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Petrus. Bagaimana dengan kita, apakah selalu menolak dan mengatakan Tidak kepada Tuhan ? Berbagai keadaan boleh saja kurang mendukung, namun bagian kita adalah melakukan serta memprioritaskan yang benar. Jangan lakukan yang salah atau selalu menyalahkan keadaan dan orang-orang sekitar. 

Ibrani 13 : 8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. 

3.Memahami yang Benar (The Right Understanding).

Saudara dan saya seyogianya memiliki pemahaman, paradigma yang benar. Petrus mau memilih yang benar, yaitu sebelum menikmati hasil ataupun berkat Tuhan, ia menyatakan sesungguhnya dirinya orang berdosa (I'm a sinful man). Ia tidak memilih bersenang-senang ataupun sekadar menerima, menikmati dan mengelola berkat terlebih dahulu, melainkan untuk bertobat dan tersungkur di hadapan Yesus. 

Lukas 5 : 6 – 8 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata : "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." 

Pilihan-pilihan kita saat masih hidup dan bernapas akan menentukan bagaimana kita kelak. Karena itu, hati-hatilah, jangan terkecoh yang tampak luar biasa di luar serta penuh pernik duniawi di depan mata, sementara pilihan Tuhan sepertinya sederhana. Pilihlah yang benar, bukan sekadar yang baik atau bersifat menyenangkan kedagingan (kehendak jasmani) serta kenikmatan sesaat. Petrus sadar, hal pertama yang harus ia benahi ialah hidup, hati, perkataan serta dirinya sendiri. Ketika ia memilih yang benar, ia melihat sesuatu yang dahsyat, hasil dan berkat yang sempurna, serta kehidupan yang lebih baik maupun hati yang damai. 

Di hari-hari yang penuh pilihan begitu menggoda ditawarkan dan menggoyahkan iman, maukah kita tetap memilih yang benar ? Lebih mengutamakan Kristus di atas segalanya ? Meski telah mengiring Tuhan, bahkan setia sekian tahun, tetapi banyak yang belum terjadi sesuai harapan, sehingga seolah kita meniadakan Tuhan karena menganggap toh Dia tidak kelihatan. Kenali kehendak-Nya melalui doa. Bertanya-tanyalah dengan Tuhan. Yakin dan berpegang pada penyediaan-Nya. Tetap intim dengan Dia dan jadi pelaku firman. 

4.Mempersembahkan yang Terbaik (Giving Our Best).

Jadilah orang yang berserah dan mempersembahkan apa pun milik kita yang terbaik bagi Tuhan. Sebab banyak orang sesudah berdoa, malah khawatir lagi, padahal mengaku menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan, seolah mengambil kembali isi doanya. 

Lukas 5 : 9 – 11 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon : "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. 

Orang yang menyerahkan harapan dan hidupnya kepada Tuhan bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab. Seperti halnya para murid harus melakukan bagian mereka terlebih dulu, yaitu menyandarkan perahu-perahu mereka ke pantai, maka baru mengikut Yesus. Kemudian, segala yang menjadi pengharapan maupun kebanggaan, mereka tinggalkan dan mulai mengikut Dia. 

Mengikut Tuhan berarti ada tanggung jawab dan melakukan hal-hal yang harus dilakukan. Sebagai pengikut Kristus, jangan abaikan ataupun tinggalkan tanggung jawab kita, terkhusus memimpin dan membawa keluarga serta sanak-saudara mengenal Dia dan hidup dalam kesatuan. Jadilah orang yang pertama bertanggung jawab demi keluarga kita masing-masing, sebab itulah bentuk tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Berikan dan lakukan yang terbaik bagi Dia. Bukan setengah-setengah atau suam-suam kuku. Sungguh-sungguh melayani Dia. Sekali Yesus, tetap Yesus. Setia sampai akhir, amin. 

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email