• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Ev. Dr. Indri Pardede
  • Ibadah Live Streaming 1, Ibadah Live Streaming 2, Ibadah Live Streaming 3, Ibadah Live Streaming 4, Ibadah Live Streaming 5
  • Ev. Dr. Indri Pardede
  • 11 September 2022
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.

Yohanes 5 : 5 - 7
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya : Maukah engkau sembuh ? Jawab orang sakit itu kepada-Nya : Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.

Semestinya mujizat merupakan hal yang lumrah bagi orang Kristen, maka apabila tidak pernah mengalami mujizat-Nya, entah itu dalam hal kesembuhan, pemulihan, hubungan keluarga, dan lain-lain, kemungkinan ada sesuatu yang salah. Sebab Allah kita luar biasa, penuh kebaikan, kasih setia, pembelaan, dan hal baik lainnya. 

Kalau kita membaca ayat di atas, kita mungkin hanya fokus pada kesembuhan yang dialami si sakit, tetapi ada hal lain yang Tuhan ingin sampaikan, terutama terkait perubahan karakter yang lebih baik. Ada empat hal, yaitu :

1. Setiap kita bisa mendengar suara Tuhan.
Ini luar biasa, jadi bukan hanya orang-orang tertentu yang dapat mendengar suara-Nya. Bahkan orang yang sakit lumpuh, tidak punya pengharapan atau masa depan, juga bisa mendengar suara Dia. Jadi, jangan mengatakan cuma hamba Tuhan besar yang bisa dengar suara-Nya. Setiap kita bisa, karena Dia Bapa kita. Ingat, Bapa yang baik pasti suka berbicara dengan anak-anak-Nya. 

Nah, mungkin Saudara merasa tidak bisa mendengar-Nya. Ada tiga penyebab orang tidak  bisa mendengar suara Tuhan. Bukan karena tidak sekolah teologia atau ahli agama, melainkan oleh karena terlalu sibuk, egois, dan masih suka bermain-main dengan dosa. Jadi, penyebab seseorang tidak mendengar suara-Nya itu bukan karena status rohani seseorang, lamanya menjadi Kristen, atau jabatan di gereja. Jangan sampai juga kita tidak menghargai Dia, sehingga cepat atau lambat, akan kehilangan kepekaan mendengar suara-Nya. 

2. Jangan berasumsi terhadap Tuhan. 
Jangan merasa Tuhan tidak peduli. Dia Allah yang sangat-sangat peduli kepada kita. Tuhan tahu persis kebutuhan setiap kita. 

Hari-hari ini jika Saudara dan saya belum mengalami pemulihan, bukan karena Ia menunda atau tidak peduli, melainkan Ia mau mengadakan perubahan serta pemulihan dari dalam terlebih dulu. Tuhan kita bekerja dari dalam ke luar, maka waktu dalam kita beres, maka yang di luar pasti akan berubah serta pulih. Tuhan Yesus bekerja dari akar permasalahannya, karena soal luar itu terlalu mudah bagi-Nya untuk memulihkan atau mengubahkan. Tuhan tidak sekadar melihat kegiatan rohani kita yang terlihat sibuk, atau pengetahuan Alkitab yang luar biasa, melainkan Ia melihat kedalaman hati kita. Ini suara Tuhan bagi setiap kita hari ini, He looks inside our hearts, bukan kegiatan, bukan penampilan, bukan pengetahuan, Ia melihat hati kita, sedangkan dunia melihat penampilan luar. 

1 Samuel 16 : 6 - 8
Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya : Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya. Tetapi berfirmanlah Tuhan  kepada Samuel : Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata : Orang inipun tidak dipilih Tuhan.

3. Jangan sampai jadi "lumpuh secara rohani".
Seperti halnya orang yang sakit lumpuh tadi, seharusnya ia menjawab, "Mau," ketika Tuhan bertanya padanya, "Maukah engkau sembuh," tetapi ia menyampaikan banyak alasan. Dapat dikatakan, itu seumpama lumpuh secara rohani. Orang yang "lumpuh rohani" tidak akan merespons atau "nyambung" (connect) dengan firman Tuhan. Maka itu, tidak heran sudah bertahun-tahun ikut Tuhan, seminar, pemuridan, tetapi tanpa perubahan alias "Kristen bonsai" karena lumpuh rohaninya. Orang yang sehat secara rohani akan semakin antusias dalam Tuhan, bahkan rohnya menyala-nyala. Bagaimana dengan kita ? Ada empat penyebab kita tidak nyambung dengan firman, jadi hati-hati :

Pertama, menyalah-nyalahkan orang lain. Orang yang sehat rohaninya bukan sekadar memvonis, menghakimi dan menyalahkan orang lain, melainkan menerima mereka. 

Kedua, selalu mengedepankan ketidakadilan, bermental korban, serta mengasihani diri. Jika belum bisa menerima keadaan diri sendiri, belum berdamai dengan diri kita sendiri, maka kita akan jadi orang yang lumpuh secara rohani. Hati-hatilah, sebab Iblis bermain-main dengan pikiran serta hati kita. 

Ketiga, hidup di comfort zone atau zona nyaman, tidak peduli orang lain. Ingat, jika Abraham tinggal di comfort zone, tidak melangkah keluar seperti pesan Tuhan, ia tidak akan pernah jadi bapa banyak bangsa. Ada kalanya kita harus keluar dari zona nyaman, bergerak keluar, sebab di luar sana masih banyak jiwa yang terhilang, jauh dari hidup bersekutu dengan Tuhan. Kalau kita sudah diberkati, belajarlah memberkati orang lain; kalau sudah dikuatkan, kuatkanlah orang lain; kalau sudah disembuhkan, tolonglah orang yang dalam keadaan sakit. Itulah kekristenan sesungguhnya, bukan karena memakai salib, melainkan waktu kita peduli dan keluar dari comfort zone. Ini waktunya pandemi membuktikan apakah kita betul-betul orang yang peduli sesama, apa pun masalah yang masih kita hadapi. Bukan sekadar bicara uang, melainkan juga maukah kita saling menguatkan ? 

Keempat, hanya memikirkan diri sendiri dan menjadi pribadi egois. Siapa pun kita, ini bukan lagi waktunya menuntut, menuntut pemerintah begini-begitu, menuntut pasangan begini-begitu, menuntut anak-anak, menuntut gembala mesti ada waktu bagi kita, dan lainnya. Jika kita masih banyak menuntut, mengungkit-ungkit, membanding-bandingkan, itu membuat kita egois. Jadilah pribadi yang penuh empati serta suka menolong, jangan hitung-hitungan kalau menolong atau merasa harus ada timbal balik. 

4. Tuhan juga bertanya pada kita, Maukah Engkau Sembuh ?
Bagaimana caranya untuk sembuh sesungguhnya sangatlah sederhana. Ada tiga hal yang perlu kita ingat. Yang pertama, bangkitlah, wake up. Sudah waktunya kita wake up, bangun, jangan hanya berkata, "Saya tidak bisa, karena hidup saya masih seperti ini." Bangunlah, karena kalau kita tidak bangun, bagaimana Tuhan menolong kita ? Bagian Tuhan adalah memberkati, bagian kita ialah bangkit ! Sekarang waktunya kita harus bangkit. Katakan, "Saya mau bangkit, Tuhan." Jika Tuhan Yesus yang perintahkan untuk bangkit, artinya kita pasti bisa bangkit, karena Tuhan tidak pernah memerintahkan firman yang tidak bisa kita lakukan. 

Yang kedua, bukan hanya bangkit, melainkan juga angkat tilam. Artinya, gali potensi kita. Setiap kita punya potensi minimal satu talenta. Jangan menyangka kita tidak bisa apa-apa. Minimal kita mampu berdoa, maka datanglah kepada Bapa, dan katakan, Bapa, aku nggak tahu apa yang harus kulakukan, tapi aku percaya Engkau bisa memberi aku talenta dan kapasitas.

Dan yang ketiga, berjalan. Jangan "menunggu bola" atau bersantai-santai. Jadilah pelaku firman. Jangan tidur terus, sebab Kristen yang tertidur pasti akan ketinggalan, bahkan akhirnya kehilangan segala-galanya. Lihatlah teladan Tuhan Yesus yang rela mati di kayu salib, bangkit, dan menang, serta menyelesaikan misi dari Bapa di surga. 

Tuhan Yesus Memberkati

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email