• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Ps. Indri Gautama
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, 2PM, Ibadah Raya 5
  • Ps. Indri Gautama
  • 09 Agustus 2020
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Di tengah krisis COVID-19, sesungguhnya kedewasaan rohani kita diuji. Apakah kita sungguh-sungguh murid Kristus? Kesibukan kita sering kali mencuri waktu yang semestinya kita berikan ke Tuhan. Apakah kita benar-benar mengasihi? Mengasihi dengan benar adalah mendengarkan dengan benar.

Dalam perjalanan hidup, apa yang Tuhan inginkan adalah kedewasaan rohani kita. Kedewasaan rohani bukan diukur dari pengetahuan Alkitab, fasih mengutip ayat, berani mengoreksi ajaran yang salah, melainkan sungguh-sungguh mengasihi orang lain.

Gary Chapman berkata bahwa 90% komunikasi kita, terutama dalam pernikahan, bukanlah kata-kata, melainkan sikap tubuh serta mimik wajah kita. Loving well = listening well. Apakah kita pendengar yang baik bagi orang lain & anggota keluarga? Apakah kita pendengar yang baik untuk hadirat Tuhan? Bukan sekadar mendengar Tuhan, melainkan mendengar hadirnya Tuhan. Elia tahu & sadar Allah hadir (1 Raj. 19:1-14). Sebelum kita dapat mendengar suara-Nya, apakah kita sudah mengenali kehadiran-Nya?

Lukas 10:38-42 menceritakan Maria serta Marta yang memiliki kepribadian berbeda. Marta lebih berfokus pada diri sendiri. Sedangkan, Maria lebih memilih untuk duduk dekat kaki Yesus.

"Tetapi Tuhan menjawabnya: 'Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'" (Lukas 10:41–42).

Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa satu hal yang absolut, mutlak atau harus, yang berarti legalistik, melainkan satu hal yang perlu, yaitu Maria memilih bagian yang terbaik. Karakter-karakter yang berhasil dalam Alkitab pun hanya mempunyai satu hal yang mereka perjuangkan (Mzm. 27:4, Flp. 3:13-14).

Satu kesamaan yang dimiliki tokoh-tokoh iman seperti Musa, Daud, Paulus, Maria dan lain-lain ini adalah mereka memberi & menyediakan waktu bagi Tuhan. Mereka selalu datang saat menerima undangan (bukan program) dari-Nya untuk berdiam dekat kaki-Nya hanya bersama Dia. Bukannya meminta mukjizat atau apa pun, melainkan untuk dapat bersama-sama dengan-Nya. Saat kita bersama Dia, kita semakin mengenal Dia. Tuhan pun sangat mengenal kita, tetapi Ia tahu apa yang membuat kita tidak bisa intim atau akur dengan Dia. Kita pun tidak mengetahui apa yang menyebabkan ganjalan yang menghalangi keintiman kita dengan Tuhan.

Jika perhatian kita pun tidak benar-benar tercurah pada orang lain, mereka akan merasa tidak diperhatikan/dikasihi. Karena itu, multitasking atau mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam waktu yang bersamaan bukanlah keahlian yang disarankan, sebab merupakan sikap yang tidak menghormati orang lain (dishonoring attitude).

Martin Buber, seorang filsuf serta hamba Tuhan, pernah bertanya apakah kita orang yang benar-benar hadir & memberi seluruh perhatian (fully present) ataukah mudah terdistraksi & mengerjakan hal lain (distracted)? Orang yang multitasking pasti orang yang terdistraksi. Orang yang fully present (hadir & memberi perhatian sepenuhnya) adalah orang yang fully loving (sungguh-sungguh mengasihi). Jika kita tidak memberi segenap perhatian, kita tidak mengasihi dan berarti kita menghakimi.

Di masa pandemi ini, apakah kita mau terbuka untuk berubah? Metanoia artinya berubah, yaitu pola pikir kita. Sebab cara kita memperlakukan orang lain biasanya itulah gambaran jati diri maupun cara berpikir kita. Perubahan tidak terjadi begitu saja, tetapi perlahan setiap hari. Sebagian besar kita pun tidak memiliki kesadaran diri, maka itu perlu mendengar masukan atau feedback dari orang lain. Tanyakan, "Bagaimana saya bisa menjadi orang yang lebih baik?"

Ken Blanchard, penulis buku Lead Like Jesus, mengatakan, "Feedback is the breakfast of champions" atau makanan para pemenang adalah masukan dari orang lain. Jika kita mau menjadi orang-orang yang menang dalam pelayanan, karier, bisnis, terbukalah menerima masukan.

Kerohanian kita pun tidak akan menjadi dewasa bila emosi kita tidak dewasa. Ciri-ciri emosi yang tidak dewasa adalah cuek, mudah tersinggung, tidak bersabar, dan lain-lain. Kita tidak dapat memenangkan jiwa & mengajarkan firman tanpa mengasihi sesama. Bukti kita dewasa rohani sebagai murid Kristus adalah kita mengasihi orang-orang di sekitar kita.

Orang-orang Farisi militan serta mengaku mengasihi Allah. Bahkan Yesus menyatakan kalau tidak sesempurna mereka, kita tidak layak masuk surga (Mat. 5:20)! Namun, orang-orang Farisi gagal total mengasihi orang lain, terutama orang yang berdosa (Luk. 10:36-37).

Kita perlu berubah. Satu-satunya hal yang tidak akan pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan akan selalu ada dalam hidup kita. Setiap hari pun kita diperbarui. Rahmat-Nya pun selalu baru tiap pagi (Rat. 3:22-23).

Pertanyaan dari Tuhan ke kita sepanjang hari adalah, "Apakah kita diakui Tuhan sebagai murid-Nya?" Hamba-hamba Tuhan yang melayani pun bisa saja diakui orang lain sebagai hamba Tuhan, tetapi apakah kita sungguh-sungguh diakui oleh Tuhan sebagai hamba-Nya?

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:34–35).

Jika kita mengasihi sesama, seperti Tuhan Yesus mengasihi kita, maka apa pun yang kita terima dari-Nya, yaitu kasih, akan kita berikan pada orang lain supaya mereka mengetahui kita murid-murid-Nya sebab kita saling mengasihi. Martin Buber berkata, "Lihatlah orang lain sebagai ciptaan Allah, bukan sebagai sarana/subjek/objek untuk tujuan kepentingan kita."

Paulus mengatakan bahwa kita tidak bisa menyatakan dewasa iman, berhubungan baik dengan Tuhan jika tidak mengasihi sesama, keluarga, suami-istri, anak-anak kita. Sebagai istri pun sebenarnya tidak meminta banyak hal dari suami, melainkan hanya supaya didengarkan. Demikian juga anak-anak terhadap orangtua, ataupun jemaat dengan pemimpin rohani.

"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku" (1 Korintus 13:1–3).

Jika tidak memiliki kasih, kita sebenarnya bukan orang-orang Kristen, tidak berguna bagi kerajaan Allah, serta tidak memberi faedah. Kerohanian sejati adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (Mat. 27:37-40).

"Yesus mendengarnya dan berkata: 'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa'" (Matius 9:12–13).

Belas kasihan adalah kasih. Bertobatlah dari fokus selalu mencintai diri sendiri (egois), berubah menjadi mengasihi sesama. Kembalilah ke teladan hidup Yesus selama pelayanan-Nya di bumi.

"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan'" (Matius 3 : 16–17).

Bapa mengakui serta mengasihi dan berkenan kepada Anak-Nya bukan karena Ia terlebih dulu berkhotbah, melakukan mukjizat, memiliki banyak uang atau fasilitas lainnya, melainkan oleh karena identitas sejati-Nya, yaitu Anak yang dikasihi Allah Bapa. Nah, can you be secure in the love of God (apakah kita pun yakin menjadi sebagai anak-anak-Nya yang dikasihi Allah)?

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (Yohanes 12:26).

Mengikuti teladan hidup Tuhan Yesus akan membuat kita sadar bahwa Tuhan ada bersama kita serta memiliki kesadaran diri meski di tengah krisis berkepanjangan & tak menentu. Contoh tokoh iman yang benar-benar sadar akan Allah & sadar diri, bahkan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan bangsanya pun adalah Daud.

"Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya" (1 Samuel 30:6).

Apa pun yang kita alami, krisis ekonomi, kehilangan banyak hal, solusinya adalah menguatkan percaya kita kepada Tuhan! Dengan kata lain, internal atau apa yang ada di dalam kitalah yang perlu dikuatkan, bukannya hal-hal yang di luar. Kemenangan bangsa Israel pun adalah karena Daud mempraktikkan hidup bersama hadirat Tuhan setiap hari (practice the presence of God day by day). Kehidupan sehari-hari Daud adalah solitude and silence and contemplative Scripture reading to listen to God out of the Scriptures and rest (berdiam diri, merenungkan firman Tuhan sehingga bisa mendengarkan Tuhan serta memperoleh ketenteraman dan ketenangan). Tenangkan jiwa kita & berdiam dirilah di kaki Tuhan Yesus dalam hadirat-Nya.

"Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya" (Mazmur 37:7).

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email