• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, 2PM, Ibadah Raya 5
  • Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • 18 Oktober 2020
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Ketika Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya akan tanda kedatangan-Nya & kesudahan dunia ini, maka salah satu tandanya adalah penyakit sampar, yang bisa kita sebutkan saat ini sebagai pandemi COVID-19. Jadi pandemi ini bagian dari tanda kedatangan Tuhan Yesus untuk menjemput umat-Nya.

Ada yang berkata bahwa penyakit sampar sudah terjadi berulang kali, malah pada 1918 – 1920 ada wabah flu Spanyol yang menyebabkan 50 juta orang meninggal, tetapi Tuhan Yesus belum datang. Jangan-jangan setelah COVID-19, Tuhan Yesus juga tidak akan datang. Kalau kita bicara Tuhan Yesus tidak segera datang, ini tidak sesuai kitab Wahyu, di mana Tuhan Yesus berkata : "Aku datang segera," sebanyak empat kali dan, "Waktunya sudah singkat, waktunya sudah dekat," sebanyak dua kali. Kalau Yesus berkata, "Aku datang segera," 2000 tahun yang lalu, apalagi hari-hari ini, pasti lebih segera lagi !

Jangan menjadi pengejek yang berkata : "Di mana janji kedatangan-Nya? Dari dulu keadaan tetap seperti ini. Penyakit sampar sudah terjadi berulang, tetapi Tuhan Yesus belum juga datang." Memang jangan kita berkata bahwa setelah pandemi COVID-19, Tuhan Yesus pasti kembali. Tetapi jangan juga berkata bahwa setelah COVID-19, Tuhan Yesus belum segera datang. Kita tidak tahu pasti kapan kedatangan-Nya kembali. Hanya Bapa di surga yang tahu. Yang penting, penyakit sampar seperti pandemi ini adalah bagian tanda kedatangan-Nya.

Yesus menghendaki agar kita percaya Dia akan segera datang sehingga kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya. Sikap orang percaya dari zaman ke zaman yang melihat & mengalami malapetaka seperti perang, bencana alam, termasuk penyakit sampar, akan berkata bahwa Tuhan Yesus akan segera datang. Contohnya, bapa gereja, Cyprianus yang adalah Uskup Gereja Kartago pada zaman kekaisaran Romawi yang mengalami pandemi pada 250 – 271 Masehi.

Saat itu di Roma sekitar 5.000 orang meninggal per hari. Cyprianus menyebut, pandemi tersebut sebagai akhir zaman. Walau terbukti keliru, tetapi di sisi yang lain, keyakinannya bahwa itu akhir zaman membuat terjadinya kebangunan rohani. Gereja ikut pelayanan sosial diakonia yang dahsyat, banyak orang menjadi percaya & gereja berkembang pesat.

Jadi, setiap zaman seolah-olah Tuhan mengizinkan situasi apakah itu perang, bencana alam, kelaparan, termasuk penyakit sampar agar perkataan Tuhan Yesus, "Aku datang segera," selalu ada dalam hati orang percaya sehingga berjaga-jaga & melakukan Amanat Agung. Demikian juga, adanya pandemi COVID-19 ini, Tuhan menghendaki umat-Nya bergerak menyelesaikan Amanat Agung sebelum Tuhan Yesus datang kembali. Saya pun selalu mengingatkan agar kita lebih intim dengan Tuhan. Hari-hari ini, pesan Tuhan ke kita ialah kembali pada kasih mula-mula. Ingat, kita calon mempelai-Nya. Sang Mempelai Pria, yaitu Tuhan Yesus Kristus, akan datang segera untuk menjemput. Kita harus mempersiapkan diri dengan kembali pada kasih mula-mula.

Dalam Wahyu 2 : 1 – 7, Tuhan Yesus berkata ke jemaat Efesus bahwa mereka rajin, tekun, geram terhadap rasul palsu, sabar & rela menderita oleh karena nama-Nya, tak kenal lelah, benci perbuatan-perbuatan pengikut Nikolaus yang juga Dia benci. Pengikut Nikolaus mengajarkan percabulan tidak mempengaruhi keselamatan seseorang dalam Kristus. Itu pengajaran sesat karena Perjanjian Baru mengatakan hal sebaliknya, yaitu orang yang hidup dalam percabulan tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor. 6 : 9 – 10).

Sebenarnya jemaat Efesus luar biasa, tetapi Tuhan Yesus mencelanya : "Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." Mengambil kaki dian artinya mengeluarkan dari dalam Kerajaan Allah. Jadi, apa pun yang kita lakukan untuk melayani pekerjaan Tuhan, kalau tidak didasarkan pada kasih mula-mula, maka Tuhan Yesus akan berkata betapa dalamnya engkau telah jatuh. Kita harus bertobat. Kalau tidak, Tuhan akan mengambil kaki dian kita, artinya dikeluarkan dari Kerajaan Allah.

Kasih mula-mula adalah kasih yang kita miliki saat kita baru bertobat & percaya kepada Tuhan Yesus. Kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita. Ada keinginan untuk selalu berdoa, memuji, menyembah Tuhan, membaca Alkitab, hidup kudus dan melayani Dia.

3 TAHAP PROSES KESELAMATAN :

• Justification atau pembenaran

• Sanctification atau pengudusan

• Glorification yang artinya pemuliaan atau pengangkatan

Pada proses Justification, kita bertobat & percaya pada Tuhan Yesus. Kita mengalami kelahiran baru dan kasih mula-mula. Setelah itu, dalam proses Sanctification, kita terus-menerus dikuduskan oleh Roh Kudus & firman sehingga serupa gambar-Nya, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus. Setelah itu, masuk proses Glorification yang artinya pemuliaan atau pengangkatan. Yang diangkat adalah yang menjadi serupa gambar-Nya, yaitu murid Tuhan.

Sewaktu proses Sanctification atau pengudusan, dengan berbagai macam alasan, kualitas kasih kita ke Tuhan yang tadinya penuh kasih mula-mula bisa saja berubah menjadi seperti yang dialami jemaat Efesus. Saya pribadi pernah juga mengalaminya, tetapi melalui pengudusan terus-menerus oleh Roh Kudus & firman Allah disertai proses yang tidak mengenakkan, saya kembali pada kasih mula-mula sampai hari ini. Nah, bagaimana kualitas kasih kita kepada Tuhan? Mari belajar melalui kitab Kidung Agung.

Kidung Agung merupakan satu-satunya kitab di Alkitab yang secara khusus membahas kasih yang unik antara dua orang mempelai, yaitu Salomo dengan gadis Sulam yang dipercaya merupakan istri pertama dari Salomo. Karena sejumlah nats penting di Perjanjian Baru melukiskan kasih Kristus bagi gereja-Nya memakai hubungan pernikahan, maka Kidung Agung pun dapat dipandang melukiskan kasih antara Kristus dengan mempelai-Nya, yaitu gereja-Nya atau kita-kita ini. Dan sama halnya iman kita harus bertumbuh, demikian pula kualitas kasih kita ke Tuhan juga harus bertumbuh (Ef. 4 : 15). Kidung Agung menggambarkan 3 tingkat kualitas kasih, dan ini menunjukkan tingkat kualitas kasih kita :

1) "Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia" (Kidung Agung 2 : 16). Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: Tuhan milikku, aku miliknya Tuhan.

Tingkat kualitas kasih yang pertama adalah kasih yang egois. Karena yang dikedepankan adalah "Tuhan milikku, baru aku milik Tuhan," maka yang selalu dipikirkan hanya soal diberkati. Jarang bertanya ke Tuhan tentang kehendak-Nya dalam setiap rencana atau langkah, melainkan akan langsung minta Tuhan memberkati. Jarang juga membahas apa yang harus dilakukan untuk melayani Tuhan. Itu tingkat yang pertama.

2) "Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku" (Kidung Agung 6 : 3). Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: Aku milik Tuhan, Tuhan milikku.

Tingkat kualitas kasih yang kedua adalah kasih bersyarat. Memang yang dikedepankan adalah aku milik Tuhan, baru setelah itu Tuhan adalah milikku. Berarti mulai ada peningkatan. Mulai ingin melayani Tuhan, tetapi dengan syarat supaya Tuhan memberkati. Jadi, motivasi melayani karena mau diberkati. Itu tingkat kualitas yang kedua.

3) "Kepunyaan kekasihku aku" (Kidung Agung 7 : 10). Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa berkata: aku milik Tuhan.

Tingkat kualitas kasih yang ketiga adalah kasih yang tidak egois. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, kasih yang semula. "Aku milik Tuhan." Titik. Tidak ada embel-embel lain. Mereka yang memiliki kasih mula-mula akan berkata : aku milik Tuhan, bukan milikku sendiri (1 Kor. 6 : 19 – 20). Aku sudah dibeli & harganya lunas dibayar. Aku dibeli dengan harga yang mahal, yaitu darah Yesus (Why. 5 : 9). Mereka yang memiliki kasih mula-mula akan berkata : Jika aku hidup, aku hidup untuk Tuhan. Dan jika aku mati, aku mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, aku adalah milik Tuhan (Rm. 14 : 8). Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal. 2 : 20).

Orang yang memiliki kasih mula-mula, sudah tidak lagi memikirkan diberkati atau tidak. Yang penting hidup menyenangkan hati Tuhan, melakukan kehendak-Nya. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 4 : 34, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." Makanan sesuatu yang vital dalam hidup ini, dan mendapat makanan adalah tujuan manusia bekerja atau berusaha. Tuhan Yesus mengajar kita yang paling penting dalam hidup ini, artinya fokus hidup kita, adalah melakukan kehendak Bapa, bukan pada makanan, meskipun makanan itu perlu.

Orang yang memiliki kasih mula-mula akan melayani Tuhan seperti yang terdapat pada Roma 14 : 17 – 18, "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia." Orang yang memiliki kasih mula-mula akan selalu berkata: Sebab Engkau baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Mu (Mazmur 118 : 1).

Tuhan memberitahu Daud hal yang sangat menyenangkan hati-Nya, yaitu kalau dipuji oleh kita bahwa Tuhan itu baik dan bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Karena memang itulah yang Tuhan lakukan untuk kita. Jadi apa pun masalah yang kita hadapi, Tuhan itu tetap baik dan bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Orang yang memiliki kasih mula-mula akan berkata: "Aku tidak takut sebab Tuhan menyertai aku. Aku tidak bimbang sebab Tuhan adalah Allahku. Tuhan akan meneguhkan aku bahkan akan menolong aku. Tuhan akan memegang aku dengan tangan kanan-Nya yang membawa aku kepada kemenangan" (Yes. 41 : 10). Dan orang-orang yang memiliki kasih mula-mula di masa pandemi COVID-19 ini, akan tetap percaya janji Tuhan serta terus memperkatakannya. Mereka akan berkata: "Tuhan, saya mau menyelesaikan Amanat Agung dengan kuasa Roh Kudus, yaitu Pentakosta yang Ketiga. Tuhan, saya berjanji memakai mulut ini hanya untuk berbicara firman Tuhan, bukan yang lain-lain."

Akhirnya, orang yang memiliki kasih mula-mula akan merenungkan, melakukan firman Tuhan dan mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan hidup hanya untuk menyenangkan hati-Nya.

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email