• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. Rubin Ong
  • Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, Ibadah Raya 4, Ibadah Raya 5
  • Pdt. Rubin Ong
  • 31 Januari 2021
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.
QRcode

Saat-saat ini sepertinya kita sedang berjalan dalam api. Adakah orang yang sanggup berjalan melalui api? Mungkin tidak ada. Namun, tidak demikian halnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang mengalami berada di dalam api. 

Babel merupakan kerajaan dan bangsa besar yang pernah menjadi alat Tuhan untuk menghukum Israel karena kesombongan mereka yang meninggalkan perjanjian dengan Allah. Karena itu, kita pun janganlah sombong atau bermain-main dengan perjanjian Allah. Juga, walau nabi-nabi palsu menyatakan keadaan itu bukan dari Tuhan, namun Yeremia serta Yehezkiel menubuatkan bahwa Tuhanlah yang mengizinkan peristiwa tersebut. 

Raja Babel, Nebukadnezar mengadakan sebuah sistem, yaitu mendirikan patung supaya disembah oleh semua orang, apabila ada orang yang tidak mau manyembah maka akan dicampakkan ke dalam api. Demikian pula kita saat ini sedang berada dalam sistem dunia yang diatur oleh kekuatan kegelapan. Apalagi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sudah sangat dekat di akhir zaman ini. 

Bahkan seperti halnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berada dalam perapian tujuh kali lebih panas, begitu pun kita sekarang seolah berada di keadaan yang nyala apinya bukan meredup, melainkan semakin memanas dan ke depannya tidak akan mudah. Meski demikian, mereka tidak mau menyembah patung yang didirikan raja Nebukadnezar ataupun berkompromi. 

Daniel 3:16-18, "Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." 

Daniel 3:23-25, "Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat. Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" 

Tuhan sedang menyatakan kuasa-Nya yang dahsyat justru saat orang-orang percaya, umat-Nya berada di dalam api. Pun sekarang waktunya gereja memiliki kesatuan hati melalui komunitas-komunitas COOL yang ada untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bukan lagi mengutamakan tokoh-tokoh tertentu. 

Karena itu, janganlah berjalan di dalam api sendirian. Dan jika kita mengalami keselamatan melewati api, itu semua karena Tuhan. Walau saat ini kita berada dalam api, percayalah Tuhan akan membuktikan diri-Nya yang penuh kuasa. Jangan berputus asa; bangkitlah! Jangan kecewa; bangunlah harapan! Terutama, jangan lagi memiliki kesombongan hati, sebab Allah sedang memproses setiap kita masing-masing. 

Jika komunitas kita seolah berada dan berjalan dalam api, jangan ada yang membawa atau menumpahkan bahan bakar atau "bensin" sebab malah akan membakar. Artinya, jangan lagi kita masih memiliki keegoisan, iri hati, perselisihan, ketamakan dan lain-lain. 

SEPERTI SADRAKH, MESAKH DAN ABEDNEGO, APA YANG HARUS KITA BANGUN APABILA SEDANG BERADA DAN BERJALAN DALAM API : 

1. Tidak Mau Berkompromi untuk Iman Mereka. Api itu memurnikan. Saat ini kita berada dalam api supaya emas-emas dibersihkan dan dipisahkan dari kotoran. Emas yang berada dalam api akan semakin murni. Jika Sadrakh, Mesakh dan Abednego berargumentasi dengan raja Nebukadnezar, akhirnya mereka akan berkompromi atau menurunkan prinsip-prinsip kebenaran dan rohani mereka. Ataupun, dapat saja mereka kecewa dan marah terhadap orang-orang yang melaporkan mereka sehingga mendatangkan hukuman raja. 

Dengan kata lain, marilah kita di tengah krisis menjadi better (pribadi yang lebih baik), jangan justru bitter (pribadi yang pahit hati). Sebab hanya orang-orang berkarakter benar serta kuat yang sanggup menolong orang-orang yang lemah. Jadi, janganlah berkompromi ataupun menyalahkan keadaan ataupun orang lain supaya kita lebih baik, takut akan Tuhan, tetap kuat, memiliki hati misi dan mau memberi (materi, nasihat, waktu melayani maupun kekuatan) di masa sukar. 

2. Punya Pengenalan akan Tuhan dan Penyerahan Diri Total. Pengenalan akan Tuhan dan penyerahan diri total kepada-Nya harus koheren atau menyatu. Sebab bisa saja seseorang mengaku mengenal Dia, namun tidak mau berserah total kepada Dia. Banyak orang bergantung pada uang, koneksi ataupun lainnya. Padahal pengharapan pada semua hal itu ialah pengharapan semu. Jadi, pengenalan kita akan Tuhan mesti disertai penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya (a total surrender). 

Iman maupun keberanian Sadrakh, Mesakh dan Abednego mungkin biasa saja seperti kita, dan mereka tidak tahu akan ditolong atau tidak oleh Tuhan ketika berada dalam perapian. Jika Tuhan mampu, Ia akan menolong; tetapi jika tidak, maka itu pun di luar pengetahuan kita. Sadarilah ekspektasi kita sebagai manusia terbatas, namun ekspektasi Tuhan melebihi apa pun. Setelah mengalami pertolongan Tuhan Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak menyombongkan diri atau keberhasilan mereka. Ciri orang yang berserah total adalah tidak menuntut apa pun, terutama dari Tuhan. 

Kiranya pengenalan kita akan Tuhan semakin kuat dan janganlah pernah meragukan Dia meski di masa yang tidak mudah. Tanpa kerohanian yang kuat, maka mentalitas kita akan hancur terhadap serangan ketakutan, ketidakpastian dan kesepian. Jadilah alat dan gereja-Nya yang akan dipakai oleh Tuhan untuk melawat banyak jiwa yang membutuhkan jawaban dan pertolongan. Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia setinggi-tingginya dan melakukan yang benar walau tidak ada yang melihat. 

3. Memuliakan Nama Tuhan Sebagai Tujuan atau Misi Utama. Banyak pejabat penting menghadiri peristiwa penghukuman Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang diikat dan dicampakkan ke perapian yang menyala-nyala. Namun, Allah menyatakan kuasa-Nya bersama mereka dalam perapian itu dan membebaskan mereka. Tuhan sedang memutuskan "tali-tali Babel" yang mengikat gereja dan kita semua, yaitu dari ketidakkudusan, ketamakan, kekacauan, kepahitan, keegoisan, kenajisan dan lain-lain. 

Lewat penyataan kuasa Tuhan yang dialami Sadrakh, Mesakh dan Abednego, nama Tuhan pun dipermuliakan. Kita mungkin saat ini sedang mengalami kesusahan ataupun penderitaan, namun Tuhan memiliki rancangan ilahi, yaitu lewat hidup kita nama Tuhan dipermuliakan dan banyak mukjizat besar yang akan Ia nyatakan. 

Tuhan memproses Sadrakh, Mesakh dan Abednego agar tidak memiliki mental korban (victim mentality). Kita jangan lagi bermental korban yang terus-menerus mengeluh ataupun mengasihani diri, sebab mental kita adalah lebih daripada pemenang (more than conquerors). Kita menang oleh karena Tuhan telah memberi kita kemenangan, jadi berhentilah mengasihani diri sendiri dan mulailah mengasihi orang-orang lain. Sebab jika kita atau gereja tidak berhenti menangisi keadaan diri sendiri, tidak akan sanggup mulai memperhatikan jiwa-jiwa atau keadaan orang lain. Padahal, tugas serta misi kita adalah menjangkau jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus.   

Daniel 3:27-28, "Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka. Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka." 

Kiranya kita mengalami pembebasan berjalan di dalam api bersama dengan Tuhan. Janganlah mengandalkan kekuatan diri sendiri, tetapi andalkanlah Tuhan. Sekalipun kita sedang berada dan berjalan dalam perapian, percayalah Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. 

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email