• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • Ibadah Live Streaming 1, Ibadah Live Streaming 2, Ibadah Live Streaming 3, Ibadah Live Streaming 4, Ibadah Live Streaming 5
  • Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • 21 Agustus 2022
  • Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.

Hari-hari ini, kita memasuki era Pentakosta Ketiga, pencurahan api Roh Kudus dari Pentakosta Ketiga yang dahsyat juga sudah dimulai. Apa yang harus  kita lakukan untuk mempersiapkan penuaian jiwa yang terbesar serta terakhir ini ? Apa yang sebaiknya kita kerjakan untuk membangkitkan generasi Yeremia, yaitu anak-anak muda yang penuh Roh Kudus, cinta mati-matian kepada Tuhan Yesus, tidak kompromi terhadap dosa, dan akan bergerak memenangkan jiwa ? Intinya, apa yang akan kita lakukan untuk menyelesaikan Amanat Agung ?

Salah satunya, berdoa, memuji, dan menyembah Tuhan dalam unity (kesatuan hati) siang dan malam. Seperti halnya waktu Pentakosta yang pertama di kamar loteng Yerusalem, sebelum Roh Kudus dicurahkan, para murid bertekun sehati dalam doa bersama-sama. Mereka berdoa, memuji, dan menyembah Dia dalam unity, siang-malam; selama 10 hari mereka melakukannya. 

Dan pada hari raya Pentakosta, terdengarlah seperti tiupan angin keras, lalu tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang hinggap kepada mereka masing-masing. Mereka dipenuhi Roh Kudus dengan tanda awal berbahasa roh. Setelah itu, mereka dipakai Tuhan untuk menyelesaikan Amanat Agung. 

Demikian pula sewaktu Pentakosta yang Kedua di Azusa Street, pada tahun 1906. William Seymour serta rekan-rekannya mempersiapkan pencurahan Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan bersama-sama dalam unity siang dan malam. Koran Apostolic Faith, Volume 1 No.1 tahun 1906, yang meliput tentang Azusa, mengatakan bahwa cikal-bakal Azusa dimulai dengan Menara Doa (Prayer Tower) serta mempelajari firman Tuhan.

Saya baru kembali dari Amerika Serikat untuk menghadiri acara Pentecost Again Celebration di Azusa Street Prayer Tower (APT), Arani Theatre. Seperti kita ketahui, APT ialah tempat berdoa atau Menara Doa dari Pentakosta yang Ketiga untuk Amerika serta dunia. Letaknya di sebuah gedung yang paling dekat dengan tempat yang digunakan oleh William Seymour tahun 1906, lokasi terjadinya Pentakosta yang Kedua. Jaraknya hanya sekitar 15 - 20 meter.

Acara tersebut diadakan pada Sabtu, 16 Juli 2022. Sehari sebelumnya, yaitu Jum'at, saya bersama rombongan kecil datang ke APT untuk berdoa. Pagi harinya sebelum berangkat, Tuhan menyuruh saya untuk membacakan 2 Tawarikh 7 : 12 - 16 di APT. Sebelum membacakan ayat itu, kami semua dilawat Tuhan secara luar biasa. Saya hampir tidak kuat berdiri dan berpegangan pada tembok. Saya belum pernah merasakan lawatan Tuhan seperti itu meskipun sewaktu di Yerusalem. 

Setelah itu, saya membacakan kitab Tawarikh 7 : 12 - 16
Kemudian Tuhan  menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya : Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagi-Ku sebagai rumah persembahan. Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini. Sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan rumah ini, supaya nama-Ku tinggal di situ untuk selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa.

Saya ingat, hal seperti ini juga pernah terjadi saat penahbisan (pengesahan disertai doa dan pujian bagi Tuhan) Menara Doa SICC (Sentul International Convention Center) Lantai 12, waktu itu Pak Kim Seng, seorang pendoa syafaat, mendapat penglihatan tentang telinga yang besar dan ayat yang Tuhan berikan ialah 2 Tawarikh 7 : 15 - 16.

Pada acara Pentecost Again Celebration, kami bertiga, yaitu saya, Tim Hill sebagai Ketua Umum Church of God, dan Billy Wilson sebagai Co-chair Empowered21 sekaligus presiden Oral Robert University dan Pentacostal World Fellowship mengurapi APT. Setelah itu, kami bertiga saling mengurapi. 

Pada zaman Elia, orang Israel bertobat karena mereka melihat api Tuhan turun setelah Elia berdoa. Sebelum berdoa, ada tiga hal yang Elia lakukan :

1. Elia membuat mezbah yang disusun dari 12 batu, yang melambangkan 12 suku Israel. Ini tentang unity, sesuai Yohanes 17 yang merupakan doa Tuhan Yesus. Unity atau kesatuan hati ialah faktor utama untuk penuaian jiwa.

2. Elia mempersembahkan lembu yang dipotong-potong dan diletakkan di atas kayu bakar. Ini berbicara mempersembahkan korban. Sesuai Roma 12 : 1, persembahkanlah tubuhmu sebagai korban persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itulah ibadahmu yang sejati.

3. Elia menyuruh mengambil empat buyung yang diisi air sampai penuh, kemudian disiramkan ke atas korban persembahan tadi serta diulangi sebanyak tiga kali. Jadi, sebanyak 12 buyung air. Air sesuatu yang mahal harganya, mungkin lebih mahal dari emas karena saat itu Israel mengalami musim kering selama 3 ½ tahun. Ini berarti kita mempersembahkan sesuatu yang mahal harganya bagi kita. Itu bisa berupa uang, waktu, hobi, harga diri, pengampunan, dan lain-lain.

Setelah melakukan tiga hal tersebut, Elia berdoa dan berkata kepada Tuhan seperti yang tertulis dalam 1 Raja-Raja 18 : 36 - 37 Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.

Apa yang terjadi setelah Elia berdoa ? Lalu turunlah api Tuhan membakar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit habis dijilatnya. Setelah seluruh rakyat melihat hal itu, sujudlah mereka serta berkata : Tuhan, Dialah Allah ! Tuhan, Dialah Allah ! (1 Raja-Raja 18 : 39).

Kalau kita juga mau melihat api Roh Kudus dari Pentakosta Ketiga yang dahsyat dicurahkan, kita harus berdoa seperti Elia. Berdoa dengan unity, gereja-gereja harus unity. Kita mempersembahkan tubuh ini sebagai korban persembahan yang hidup, kudus dan berkenan. Kita juga mempersembahkan persembahan yang mahal kepada Tuhan, entah itu uang, waktu, hobi, harga diri, pengampunan, atau lainnya. 

Maleakhi 3 : 1 - 4 
Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya ! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan  semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya ? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri ? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Supaya terjadi kebangunan rohani, maka Tuhan sendiri, yang pada ayat ini disebutkan sebagai Malaikat Perjanjian akan datang. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya ? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri ? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Tuhan akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak. Tuhan akan menyucikan orang-orang Lewi, yang dapat diartikan gereja Tuhan, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan. Persembahan mereka akan menyenangkan hati Tuhan seperti yang dulu pernah terjadi. 

Kalau kita ingat, awal dari gereja kita GBI Gatot Subroto ini pada awal 1990-an, saat itu terjadi kebangunan rohani yang dahsyat. Praise dan worship (pujian dan penyembahan) di Karsa Pemuda membuat banyak orang bertobat, mereka menjadi murid dan dipakai Tuhan secara luar biasa. 

Berjalannya waktu, keadaan seperti itu mulai memudar. Hari-hari ini di era Pentakosta yang Ketiga, Tuhan mencurahkan api yang memurnikan gereja-Nya supaya hidup mereka benar di hadapan Tuhan. Doa, pujian, dan penyembahan mereka akan menyenangkan hati-Nya seperti yang terjadi waktu itu. 

Harap dicatat bahwa kebangunan rohani, penuaian jiwa, itu dimulai dengan pemurnian ! Memang menyakitkan, tetapi hasilnya akan luar biasa. Api Roh Kudus Pentakosta Ketiga sedang turun untuk memurnikan kita, gereja-Nya.

Ketika rasul Paulus dalam perjalanan ke Roma sebagai tawanan, kapal yang dinaikinya dihantam badai yang menyebabkan kapal itu rusak, tetapi 276 orang penumpangnya selamat karena Paulus. Mereka semua berenang ke pantai dan ternyata itu pulau Malta. Penduduk pulau itu sangat ramah. Mereka menyalakan api besar dan mengajak semua ke situ karena mulai hujan dan hawanya dingin. Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya ke atas api, maka keluarlah ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya.

Ketika orang melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain : Orang ini pasti seorang pembunuh, karena meskipun dia luput dari laut, dia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan. Tetapi, Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan dia sama sekali tidak menderita sesuatu. Mereka menyangka ia akan bengkak, mati rebah seketika. Tetapi, sesudah lama menanti, mereka melihat tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat Paulus seorang dewa. (Kisah Para Rasul 28 : 1 - 6)

Setelah itu, terjadi kebangunan rohani. Dimulai dengan ayah dari gubernur bernama Publisius yang sakit demam dan disentri disembuhkan, kemudian orang-orang yang sakit di pulau itu juga disembuhkan.

Apa yang hendak Tuhan katakan kepada kita melalui  kisah ini ? Dengan adanya api yang besar, ular keluar menampakkan diri. Ular mencoba menggigit, tetapi justru dikebaskan oleh Paulus ke dalam api sehingga ularnya mati. Ular tadi mencoba menggigit Paulus supaya mati, tetapi yang terjadi sebaliknya, justru Paulus hidup, dan ular mati. Orang-orang justru menganggap Paulus dewa. 

Api Roh Kudus yang besar dari Pentakosta Ketiga sedang turun, ini akan membuat ular atau Iblis menampakkan diri karena tidak tahan dengan panasnya api. Artinya, pekerjaannya akan ditelanjangi dan masih mencoba untuk menggigit atau merusak pekerjaan Tuhan, tetapi tidak akan berhasil selama gereja berkarakter seperti Tuhan Yesus. Bahkan, pekerjaan Iblis yang merusak akan dihancurkan. Haleluya !

Selama ini, mungkin kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang menghambat perkembangan pekerjaan Tuhan ? Tetapi, setelah api Roh Kudus yang besar dari Pentakosta Ketiga tercurah, semuanya menjadi jelas. Pekerjaan Iblis akan dilucuti, dan kita akan tahu dengan jelas apa sebenarnya penyebab penghambat pekerjaan Tuhan selama ini.

Selain itu, Tuhan juga mengingatkan kita untuk melakukan seperti yang ditulis Daud dalam Mazmur 18 : 21 - 27, "Tuhan memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, sebab aku tetap mengikuti jalan Tuhan dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu Tuhan  membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

Saya berpesan, jangan main-main dengan Tuhan. Kalau sampai kita dibelat-belit dengan Tuhan karena kita berlaku bengkok, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Karena itu, berlakulah setia ! Berlakulah tidak bercela ! Berlakulah suci kepada Tuhan ! Ingat, Tuhan Yesus segera datang. Maranatha !

Tuhan Yesus Memberkati

Persembahan

Detail

Follow

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email