<< back

Turun Gunung

Memperingati 50 tahun (29 Mei 1953 – 29 Mei 2003) yang lalu untuk prestasi pencapaian puncak gunung Everest yang dilakukan Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay, seorang penyiar TV mengatakan, “Status Hillary sebagai pahlawan di Nepal terutama bukannya berkaitan dengan apa yang dilakukannya ketika berdiri di puncak dunia itu, melainkan saat beliau kembali turun dari puncak gunung tersebut.” Apa memang yang dilakukannya?

Setelah menaklukkan gunung tertinggi di dunia itu (8.848 m), Edmund Hillary mendedikasikan waktunya 50 tahun membantu mendirikan berbagai sekolahan, RS, serta jembatan-jembatan bagi masyarakat di sana, terutama warga Sherpa yang merupakan penduduk lokal daerah pegunungan itu.

Apa yang dilakukan Edmund Hillary mungkin hampir menyerupai yang dilakukan Tuhan kita dalam hal melayani. Ketika Dia dimuliakan di atas gunung (Luk. 9:28-36), Bapa berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (ay. 35). Dan Yesus tidak tetap berada di atas gunung. Ia pun turun ke tengah-tengah masyarakat. Dia melayani mereka. Bahkan mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. 

Kebesaran sejati bukanlah terletak pada tubuh yang perkasa, karisma yang menggoda, kepintaran yang mempesona, ataupun harta yang berlimpah. Melainkan, pada kesediaan untuk melayani orang-orang lain dengan rendah hati yang terarah pada Allah.

“Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Luk. 9: 48)  

Ketika kaki Petrus hendak dibasuh oleh Yesus, ia terkejut karena merasa masa Guru dan Tuhannya yang agung melakukan hal rendahan semacam itu (Yoh. 13:6-8)? Seharusnya seorang pelayan, hamba yang paling rendahlah yang melakukan tugas itu. Tetapi, kala itu Petrus belum mengerti bahwa Tuhan Yesus pun harus meneladani merendahkan diri (Yoh. 13:14-15). 

Bayangkan bila Tuhan membasuh kakimu… Bukankah engkau akan menitikkan airmata pula, dan bersikap sama seperti Petrus? Yohanes Pembatis saja mengakui bahwa melepas tali kasut-Nya saja ia merasa tidak layak (Yoh. 1:27). Tetapi Dia rindu melayani.


“If the attitude of servanthood is learned, by attending to God as Lord, then serving others will develop as a very natural way of life.” (Eugene Peterson)