• Integrity Convention Centre
    Mall MGK Lt. 9
  • Contact
    021 2605 1888
  • Worship Service
    07:00 - 16:30 WIB
Pdt. DR. Leonardo A. Sjiamsuri, MBA, M.Th
Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Minggu.

Di hari-hari ini, ada begitu banyak keadaan yang membuat kita bingung. Kadang-kadang juga membuat kita merasa serbasalah. Hal itu mungkin dikarenakan terus-menerus berada di rumah sehingga tidak bisa ke mana-mana, bahkan seolah-olah tertahan ataupun bosan, resah, dan hal lainnya berkecamuk dalam hati kita.

Satu hal yang ingin saya ingatkan : ada satu hal yang kita hadapi hari-hari ini adalah ketidakpastian. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Misalnya, berapa lama pandemi COVID-19 ini akan selesai? Belum lagi ditambah masalah lain seperti krisis ekonomi, PHK, politik, sosial dan lainnya. Kondisi ini dapat membuat umat Tuhan bertanya-tanya, "Di manakah Tuhan?!"

Banyak orang berpikir bisa mengendalikan hidup. Ketika masa-masa sebelum pandemi pun, banyak kita merasa pintar dan bisa menguasai hidup ini. Padahal, setelah pandemi virus yang sangat kecil, membuat banyak orang limbung dan tidak mengerti mengapa manusia yang pintar, bisa melakukan segala sesuatu, ternyata tidak bisa mengatasi masalah virus ini. Seperti halnya para murid yang ketakutan ketika diombang-ambingkan gelombang badai, sementara Yesus tertidur. Artinya, kadang orang-orang yang expert atau ahli tidak bisa mengendalikan sesuatu yang seharusnya berada di di bidang keahliannya.

KITA HARUS INGAT KITA TIDAK BISA TAHU DAN MENGENDALIKAN SEGALA SESUATU.

"Jadi sekarang, hai kamu yang berkata : 'Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,' sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap" (Yakobus 4 : 13 - 14).

"Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: 'Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.' Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah'" (Yakobus 4 : 15 - 16).

KITA HARUS BELAJAR UNTUK BERSERAH DAN MENGANDALKAN TUHAN. Kita pun mesti mengerti bahwa kita tidak bisa mengandalkan dunia ini sebab sudah jatuh dalam dosa.

"Lalu firman-Nya kepada manusia itu : 'Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu : Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu'" (Kejadian 3 : 17).

Semenjak kejatuhan Adam dalam dosa, bumi ini tidak memiliki kestabilan ataupun kepastian, melainkan selalu ada gejolak dan ketidakpastian. Ketidakpastian ekonomi ataupun sosial pun membuat banyak orang takut hari-hari ini. Tetapi, saya mau ingatkan bahwa keadaan ekonomi memang akan terjadi demikian. Ketika perekonomian normal dan semua berjalan dengan baik, kita akan sulit membedakan mana cara ekonomi Allah dan mana cara ekonomi dunia, sebab dalam ekonomi dunia seolah-olah mudah mencari atau menghasilkan uang karena semuanya berjalan lancar.

Jika kita ingin tahu ekonomi Allah, yaitu ketika krisis & goncangan melanda, maka dunia tidak bisa lagi diandalkan, dan barulah kita melihat God's economy atau cara ekonomi Allah yang bekerja bagi kita di dunia yang tidak bisa diandalkan ini. Di tengah-tengah wabah hari-hari ini, Tuhan sedang menunjukkan ekonomi-Nya kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu, andalkanlah Dia.

"Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: 'Mari!' Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: 'Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu'" (Wahyu 6 : 5 - 6).

Timbangan dipakai untuk menimbang ketika bertransaksi jual-beli (perdagangan). Dalam ayat di atas pun, ada malaikat yang diutus untuk membuat ekonomi goncang. Timbangan pun berarti neraca. Hal ini berbicara soal keuangan atau finansial. Dan Tuhan katakan bahwa akan ada goncangan. Pandemi hari-hari ini dapat menjadi tahap awal goncangan besar yang akan terjadi secara ekonomi. Hal ini saya katakan bukan supaya kita panik, melainkan justru supaya melihat bahwa akan terjadi ketidakpastian. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi atau merespons?

Pada ayat di atas, gandum adalah makanan manusia, secupak itu kira-kira seliter, dan sedinar itu kira-kira upah sehari. Dengan kata lain, untuk makan secupak gandum (yang banyaknya hanya satu liter), orang harus membayar satu hari upah kerja. Bayangkan apabila untuk keluarga, tentu tidak cukup. Jadi, butuh lebih, maka ditukar dengan tiga cupak jelai. Padahal, jelai ialah makanan untuk hewan, namun bisa dimakan manusia. Artinya, dengan uang yang sama, tidak bisa membeli sesuatu yang sebenarnya berkualitas untuk diri sendiri & harus menurunkan standar hidup. Dengan kata lain, terjadi kemerosotan ekonomi.

Pandemi COVID-19 adalah alarm atau wake up call bagi setiap pengusaha ataupun pebisnis dan anak-anak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari agar sadar sesadar-sadarnya bahwa peristiwa ini barulah goncangan kecil sebelum terjadi yang lebih besar. Dan kalau kita tidak bisa melewatinya dengan kemenangan, maka pada waktu goncangan besar, kita akan hancur.

Kekristenan bukanlah sekadar ibadah atau eforia (harapan palsu), melainkan berdiri teguh di atas dasar iman serta tetap berharap pada satu Pribadi, Tuhan Yesus Kristus, bukan pada data-data ekonomi, kebijakan pemerintah, melainkan pada janji Tuhan serta apa yang Ia sediakan bagi kita.

HAL-HAL YANG PERLU KITA INGAT DALAM KETIDAKPASTIAN :

1. Jangan Bereaksi Keliru atau Salah. Reaksi yang keliru adalah seperti mengeluh, bersungut-sungut, marah, kecewa dan menyalahkan orang lain, sehingga akibatnya dapat membuat situasi hati kita makin tidak baik.

2. Jangan Terus Mencoba Melakukan yang Memang Sudah Tidak Bisa Dilakukan. "Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka : 'Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?' Ia berkata kepada mereka: 'Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa)" (Matius 17 : 19 - 21).

Ada kalanya dalam hidup ini kita tidak bisa melakukan apa pun, melainkan cukup dengan tinggal tenang. "Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel : 'Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu'" (Yesaya 30 : 15a). "Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yesaya 40 : 31).

3. Jangan Membandingkan Kondisi Sekarang dengan Kondisi Normal Sebelumnya. Banyak orang mungkin membandingkan kondisi normal sebelumnya dengan kondisi saat ini, dan merasa kondisi sebelumnya lebih baik daripada sekarang. Padahal, tidak ada yang baru dalam hidup ini. "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" (Pengkotbah 1 : 9). Tidaklah bijak bagi kita apabila terus-menerus mengatakan & menganggap yang dulu lebih baik daripada sekarang. Sebab keadaan saat ini mungkin saja baik, tetapi banyak orang suka menganggap remeh apa saja yang Tuhan berikan seperti waktu serta berkat-berkat-Nya yang tidak dikelola dengan baik. Jadi, lakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan sekarang ini.

4. Jangan Menyalahkan Keadaan. Menyalahkan keadaan ataupun orang lain tidak akan ada habis-habisnya. Di situasi sulit jika kita saling menyalah justru akan membuat kita semakin sulit dan beban hidup rasanya bertambah berat.

JADI, BAGAIMANA CARA MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN :

Berserah dan Berharap. Artinya, mempercayakan hidup kita saat kini dan masa depan kita kepada Tuhan. Percaya pada Tuhan itu satu hal, tetapi mempercayakan hidup ini kepada Tuhan adalah hal lain. Levelnya berbeda. Bukan berarti menyerah, yaitu setelah melakukan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri, kita menyerah. Akan tetapi, berserah adalah sejak awal ketika adanya persoalan, kita berserah kepada-Nya. Berharap bahwa hari esok akan lebih baik dan ada jalan keluar. Pengharapan kita harus berdasar pada Tuhan Yesus Kristus.

Kerjakan yang Bisa & Biasa Kita Kerjakan. Jika kita terbiasa membuat perencanaan, lakukan. If you fail to plan, you plan to fail (Jika kita gagal membuat rencana, maka sebenarnya kita merencanakan kegagalan). Buatlah rencana hari-hari ini selagi ada kesempatan, sebab rencana itu bagian penting dalam hidup ini. Lakukan juga perubahan dalam gaya hidup yang bisa kita lakukan, misalnya mezbah doa bersama keluarga, olahraga, dan lainnya.

Lakukan yang Bijak untuk Mengurangi Risiko Ketidakpastian. Jika pemerintah saja perlu melakukan penyesuaian, kita pun perlu melakukan penyesuaian dibeberapa hal, misalnya dalam pengeluaran. Jangan justru di saat-saat seperti ini malah melakukan sesuatu yang berisiko, misalnya menambah hutang. Sebab dalam masa-masa krisis ini, cash is king (uang tunai itu penting). Lakukan penghematan, kurangi biaya yang tidak perlu. Jangan lakukan sesuatu yang justru membawa kita pada risiko-risiko. Lihat juga peluang yang ada di tengah-tengah kondisi ini, sebab justru di tengah-tengah kesulitan kadang kala ada peluang yang tidak kelihatan.

Berdoa dan Berpikir Positif. Di tengah ketidakpastian, justru kita harus berdoa dan selalu berpikir positif dan benar. Doa dapat melakukan sesuatu yang mustahil serta menembus hal-hal yang tidak kasat mata. Kuasa doa itu dahsyat! Tuhan hadir di dalam doa kita. Doa bukan sekadar ucapan kata-kata atau rutinitas, melainkan hubungan dan komunikasi kita dengan Dia. Kita harus sungguh-sungguh mengenal Dia agar lahir doa yang berkuasa! Di tengah situasi ini, cobalah berpikir kreatif, yaitu berpikir tidak sebagaimana lazimnya, tidak berpikir terkotak-kotakkan atau kaku. Inilah waktunya untuk berpikir sesuatu yang kreatif setiap hari. Bahkan dalam doa kita, Tuhan akan memberi ide sehingga bisa berpikir kreatif, menemukan solusi, peluang, hal-hal baru, serta inovasi. Saat-saat seperti ini waktunya bagi kita memperbaiki cara kerja, membangun hubungan dengan keluarga, dan lain-lain.

Melangkah dengan Imanmu.Kegoncangan-kegoncangan akan tetap ada dalam hidup ini, tetapi yang tetap tinggal dan apakah Tuhan menemukan iman kita waktu Tuhan Yesus datang kembali? Dengan adanya tantangan, goncangan, dan situasi sulit manusia akan bertanya-tanya apakah Tuhan itu benar-benar ada, atau mengapa Tuhan membiarkan segala sesuatu terjadi. Banyak orang bisa saja disesatkan dengan cara berpikir yang salah, mundur dari iman, meninggalkan Tuhan, tidak mau melayani Dia lagi. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11 : 1). Iman bukan hanya percaya pada yang tidak kelihatan, tetapi juga iman adalah membuat yang tidak kelihatan itu menjadi nyata dalam hidup kita. Jangan biarkan keraguan tetap ada. Sebab ketidakpastian ditambah keraguan pasti menimbulkan kegagalan ataupun kehancuran dalam hidup kita. Sedangkan, meski ada ketidakpastian, tetapi kita tetap memiliki iman, akan membuat kita berkemenangan dan memiliki terobosan dalam hidup ini !

Tuhan Yesus Memberkati

Bagi Bapak / Ibu yang membutuhkan Ringkasan Khotbah Ibadah Raya I s/d V, 2PM Service, Kebaktian Tengah Minggu, Women Of Integrity maupun Doa Fajar via Whatsapp atau Email Whatsapp Email