
Yeremia 18:6, "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!"
Hai Israel, tidak dapatkah Aku berbuat terhadap kamu seperti yang diperbuat oleh tukang periuk ini terhadap tanah liatnya? Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku. (FAYH)
"Can't I do just as this potter does, people of Israel?" GOD's Decree! "Watch this potter. In the same way that this potter works his clay, I work on you, people of Israel." (MSG)
Tuhan pasti rindu dan mau membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Bila kita menyerahkan hidup dan diri kita di tangan Tuhan, maka tidak usah lari menjauh dari apa pun prosesnya bagi setiap kita, yang mungkin berbeda-beda. Karena melalui proses pembentukan itu tujuannya pasti adalah untuk kita belajar menjadi manusia yang kuat hanya dalam Dia, dan tidak mudah undur dari situasi apa pun juga. Maukah kita belajar?
Jika saat ini kita mengalami proses "benturan" ataupun pemurnian, serta merendahkan hati dan penundukan diri pada Tuhan, setialah. Jika kita pernah salah, merasa ingin mundur dan menyerah, apalagi melakukan kehendak diri sendiri, mari bertobatlah dan meminta ampun kepada-Nya, supaya kita kembali serta tetap berada dalam rel yang benar dalam Tuhan.
Roma 5:3-5 (BSD), "Kita juga merasakan betapa kasihnya Allah kepada kita. Semua itu kita alami sekarang, karena kita percaya kepada Yesus. Oleh sebab itu, kita gembira karena nanti Allah akan menjadikan kita sangat bahagia. Sekarang kita menderita. Meskipun begitu, kita gembira juga. Sebab, kita tahu bahwa dengan menderita, kita menjadi lebih tabah. Kalau kita sudah bisa tabah, barulah Allah menganggap kita lulus dari ujian dan itulah yang memberi pengharapan kepada kita. Jika kita mempunyai harapan seperti itu, kita tidak akan kecewa. Sebab, Allah sendiri sudah memberikan Roh-Nya kepada kita untuk membuat kita yakin bahwa Allah mengasihi kita.
Demikian juga kita dapat bersukacita, pada waktu kita mengalami kesulitan dan cobaan, sebab kita tahu hal itu baik bagi kita karena menolong kita belajar bersabar. Dan kesabaran menghasilkan suatu watak yang kuat dalam diri kita serta menolong kita supaya senantiasa lebih mempercayai Allah setiap kali kita bersabar, sampai akhirnya pengharapan dan iman kita menjadi kuat dan teguh. Kalau sudah begitu, apa pun yang terjadi, kita dapat hidup dengan tabah, karena kita tahu bahwa segalanya baik. Kita menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita, dan kasih ini kita rasakan dalam segenap diri kita, karena Allah telah memberikan Roh Kudus untuk memenuhi hati kita dengan kasih-Nya. (FAYH)
Moreover [let us also be full of joy now!] let us exult and triumph in our troubles and rejoice in our sufferings, knowing that pressure and affliction and hardship produce patient and unswerving endurance. And endurance (fortitude) develops maturity of character (approved faith and tried integrity). And character [of this sort] produces [the habit of] joyful and confident hope of eternal salvation. Such hope never disappoints or deludes or shames us, for God's love has been poured out in our hearts through the Holy Spirit Who has been given to us. (AMP)
There's more to come: We continue to shout our praise even when we're hemmed in with troubles, because we know how troubles can develop passionate patience in us, and how that patience in turn forges the tempered steel of virtue, keeping us alert for whatever God will do next. In alert expectancy such as this, we're never left feeling shortchanged. Quite the contrary--we can't round up enough containers to hold everything God generously pours into our lives through the Holy Spirit! (MSG)
~ Yuliana Sondakh