
Pernahkah merasa kehidupan orang lain tampak lebih baik daripada kehidupan kita?
Melihat seseorang berhasil dalam pekerjaannya, pelayanannya, ataupun aspek yang lainnya, kita mulai membanding-bandingkan pencapaian kita. Kita pun mulai mempertanyakan kehidupan kita sendiri. Lalu, merasa seolah-olah apa yang kita lakukan tidaklah berarti. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan istilah "keeping up with the Joneses".
Kita sering ingin mengetahui mengapa orang lain memperoleh kesempatan yang lebih baik, mengapa orang lain memiliki lebih banyak kemampuan, atau mengapa perjalanan hidup kita berbeda daripada mereka.
Tanpa disadari, kita mungkin menilai kehidupan berdasarkan apa yang dimiliki, dilakukan, atupun diraih oleh orang lain. Lalu, lupa bersyukur atas apa yang masih Tuhan percayakan bagi kita, karena "terlalu sibuk" memperhatikan apa yang belum kita miliki, lakukan, maupun peroleh.
Padahal, perbandingan yang tidak sehat dapat membuat kita kehilangan sukacita atas berkat-berkat yang sebenarnya telah ada dalam hidup kita.
Tentu saja, belajar dari keberhasilan orang lain bukanlah sesuatu yang salah; kita pun boleh ikut bersukacita atas pencapaian mereka dan memetik pelajaran yang baik. Namun, yang menjadi masalah ialah saat keberhasilan mereka membuat kita meragukan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita sendiri.
Galatia 6:4, "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."
Biarlah tiap-tiap orang berusaha sedapat-dapatnya, sebab dengan demikian ia akan mendapat kepuasan karena telah melakukan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya, dan tidak usah membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. (FAYH)
Make a careful exploration of who you are and the work you have been given, and then sink yourself into that. Don't be impressed with yourself. Don't compare yourself with others. (MSG)
Instead, each of you should constantly test/judge and decide if you can approve what you yourself are doing and thinking. Then you can boast because of what you yourself are doing and thinking, and not because what you are doing is superior to what other persons are doing. (DEIBLER)
Firman Tuhan mengarahkan kita untuk memeriksa kehidupan dan tanggung jawab kita sendiri, bukan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran utama untuk menilai diri. Mengapa? Sebab, setiap orang memiliki kemampuan, kesempatan, tanggung jawab, dan perjalanan kehidupan yang mungkin berbeda-beda.
Jadi, kita tidak boleh menganggap bahwa kehidupan seseorang lebih bernilai hanya karena ia memiliki pencapaian yang lebih terlihat (1 Korintus 12:18–20). Karena itu, jangan meremehkan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita hanya karena bagian orang lain terlihat lebih menarik.
Jangan menghabiskan kehidupan dengan berusaha menjadi seperti orang lain juga sampai lupa mengembangkan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Jika Dia memberi kita kemampuan mengajar, gunakanlah untuk membangun orang lain. Jika Ia memberi kita kesempatan mengasihi keluarga, lakukanlah dengan setia. Jika Tuhan mempercayakan pekerjaan yang sederhana, kerjakanlah dengan penuh tanggung jawab.
Kita tidak harus memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Sambil perlu mengevaluasi diri, terus belajar, dan tetap bertumbuh. Dan ingat, pertumbuhan yang sehat lahir dari kerinduan untuk setia serta berkenan kepada Tuhan.
Bertanggung jawablah untuk menjalani kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita. Berhentilah membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan orang lain.
~ Syella Siahaan Abrahams