
Beberapa minggu ini, saya merasa Tuhan terus mengingatkan saya melalui banyak cara. Pagi hari mendengar khotbah tentang perempuan yang hendak dilempari batu. Siangnya, membaca tulisan tentang kemarahan yang tertunda. Malamnya, media sosial kembali dipenuhi video yang membongkar kesalahan pendeta, gereja, atau tokoh Kristen.
Rasanya, seperti satu tema terus muncul berulang-ulang.
Menghakimi orang lain.
Ataupun, pengampunan.
Awalnya saya berpikir, bukankah kita memang perlu membongkar kesalahan? Tentu. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita menutupi dosa. Para nabi menegur bangsa Israel. Paulus menegur jemaat. Bahkan Yesus sendiri menegur para pemimpin agama. Namun, semakin saya merenungkannya, saya menyadari ada pertanyaan yang lain, lebih daripada sekadar apa yang kita katakan:
"Dengan hati yang seperti apakah kita mengatakannya?"
Saya pernah membaca sebuah kalimat yang menggelitik: "Anger deferred is anger multiplied." Atau, kemarahan yang dipendam, lama-lama membesar. Ketika akhirnya menemukan sasaran yang dirasa aman, maka akan meledak ke sana.
Bukankah media sosial, ataupun kadang bahkan mungkin orang-orang terdekat kita, sering menjadi "tempat" seperti itu?
Kadang yang kita lihat bukan sekadar pencarian kebenaran. Yang kita lihat adalah orang-orang yang sudah lama terluka, lalu menemukan seseorang ataupun sesuatu untuk dijadikan tempat melampiaskan luka itu.
Yohanes 8:7, "Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: 'Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.'"
Ketika para pemimpin masih terus mendesak-Nya untuk memberi jawaban, Yesus mengangkat kepala dan berkata kepada mereka, "Siapa di antara kalian yang merasa dirinya tidak pernah berbuat dosa, biarlah dia yang lebih dulu melempari perempuan ini dengan batu." (TSI)
Di Yohanes 8 tersebut, orang-orang datang membawa batu. Mereka merasa memiliki alasan yang benar. Perempuan itu memang berdosa. Tetapi, Yesus melihat sesuatu yang lebih dalam. Sebelum batu dilemparkan kepada orang lain, Ia mengajak setiap orang melihat ke dalam diri mereka sendiri masing-masing.
Satu per satu batu itu jatuh ke tanah.
Pun andaikata ada batu yang terlempar, maka --karena Yesus sanggup mengubah air menjadi anggur-- mungkin batu itu akan diubahkan-Nya menjadi bola karet yang akan berbalik memantul ke yang melemparkannya!
Saya mulai bertanya kepada diri sendiri setiap kali membaca atau menulis sesuatu tentang kesalahan orang lain. Apakah saya sedang membawa terang... atau sedang membawa batu? Kalau tulisan saya, misalnya di media sosial, membuat orang lain semakin jauh dari Kristus, mungkin saya sedang memenangkan argumen, tetapi kehilangan hati Yesus bagi mereka. Sebaliknya, bila kebenaran yang saya sampaikan membuka jalan bagi seseorang untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, mungkin saya sedang belajar menegur seperti Yesus menegur. Ada kebenaran, tapi dengan kasih; ada teguran, tapi tanpa penghinaan.
Lagipun, bukankah Yesus datang bukan untuk memperbanyak orang yang "pandai melempar batu", melainkan Ia datang untuk menyelamatkan orang-orang yang mungkin hendak dilempari batu. Seperti perempuan di atas tadi. Mungkin seperti Saudara. Mungkin seperti saya. Yang sebenarnya tidak layak memperoleh keselamatan dan pengampunan, selain hanya oleh karena kasih karunia-Nya.
~ JP