
Sebuah tayangan menunjukkan seorang pekerja yang mengeluhkan teman-temannya di tempat kerja yang sering kali membicarakan tentang dirinya di belakangnya. Maka, ia pun memberitahukan hal itu ke divisi SDM atau sumber daya manusia, sebab ia tidak begitu suka merasa dipebincangkan atau digosipkan seperti itu.
Namun pimpinan di divisi tersebut dengan bijak mengatakan, "Coba, tolong mengambilkan segelas air penuh dari ruang makan di sana, tanpa menumpahkannya sama sekali, dan membawakannya ke sini." Maka pekerja itu melakukannya, dan berhasil membawakan segelas air penuh ke ruangan tanpa tumpah setetes pun.
"Apakah tadi kamu mendengar atau melihat ada yang membicarakan tentang kamu tadi saat berjalan ke sini?" tanya pimpinan tersebut.
"Tidak, Pak." Jawabnya pendek, menyadari sesuatu.
"Ya, karena kamu tidak terlalu menyibukkan atau memusingkan diri dengan memperhatikan apa yang terjadi di sana, kamu fokus pada apa yang kamu kerjakan, maka apa yang di luar sana, entah itu omongan orang atau apa pun, tidak terlalu pengaruh buat kamu karena kamu fokus saja dengan pekerjaanmu sebaik-baiknya," pimpinan itu menjelaskan.
Kadang kita memang perlu berfokus melakukan apa yang masih menjadi bagian kita dan bisa kita kerjakan, daripada selalu memperhatikan apa yang mungkin tidak bisa kita kendalikan—seperti apa yang orang lain pikirkan, perbincangkan tentang kita di belakang kita, maupun keadaan-keadaan tertentu—supaya kita tidak berlarut-larut dalam mengeluh dan hanya melihat kekurangan sehingga malah tidak memperoleh apa pun yang baik.
Memasuki tahun baru kalender Ibrani Pey Zayin, Pdt. Niko Njotorahardjo juga menegaskan supaya kita menjaga perkataan mulut kita maupun apa pun yang kita ketik di media sosial.
Bagaimana dengan kita hari-hari ini, apakah seperti seorang pekerja di atas tadi yang tidak fokus saja pada apa yang bisa dikerjakannya sebelum berbincang dengan pimpinannya, ataukah menyadari bahwa kita masih bisa memusatkan dan mengalihkan perhatian perhatian pada hal-hal yang masih bisa kita lakukan, penguasaan diri, serta mengucap syukur?
Mazmur 141:3 (VMD), "TUHAN, tolonglah aku mengendalikan yang kukatakan. Tolonglah aku menjaga ucapanku."
Amsal 13:3a (FAYH), "Penguasaan diri berarti mampu mengendalikan lidah."
"Every great and deep difficulty bears in itself its own solution. It forces us to change our thinking in order to find it." (Niels Bohr)
~ FG