
Beberapa hari yang lalu, saya baru berkenalan dengan seseorang dan bercakap-cakap, dan beliau menyaksikan tentang pengalaman kelam hidupnya sebelum dijamah Tuhan, serta masih diproses sampai sekarang oleh-Nya. Kemudian, beliau pun mengingatkan hal sederhana yang saya percaya dapat juga menjadi berkat bagi kita:
- Saat kaki ini seperti tak mampu lagi berdiri menahan beratnya beban kehidupan, berlututlah di hadapan-Nya dan berdoa.
- Saat hati, mulut, maupun pikiran seolah tiada lagi sanggup memikirkan ataupun memperkatakan hal yang baik, berseru dan berharaplah hanya pada-Nya.
- Saat tangan rasanya tidak kuat lagi mengerjakan sesuatu karena pergumulan, masalah, dan kekhawatiran, angkatlah dan arahkanlah kepada Tuhan.
Catatan NET Bible mengungkapkan, "The test of strength is adversity, for it reveals how strong a person is. Of course a weak person can always plead adverse conditions in order to quit," atau dengan kata lain, sering kali ujian kekuatan batiniah seseorang ialah melalui masa-masa sulit, dan orang-orang yang lemah akan selalu bisa mencari-cari alasan untuk menyerah saja saat kondisi buruk.
Masalah akan selalu ada.
Pertanyaannya, apakah kita mau berseru kepada-Nya, mengutamakan Dia, dan percaya pada janji-janji firmanNya? Ataukah memakai cara-cara dunia, seperti mengikuti kehendak dan selalu mengandalkan kekuatan diri sendiri, serta menyerah begitu saja?
Amsal 24:10 (VMD), "Jika engkau lemah pada masa kesulitan, itulah sesungguhnya kelemahan."
Engkau orang lemah jika engkau tidak tahan uji dalam menghadapi kesesakan. (FAYH)
If you fall to pieces in a crisis, there wasn't much to you in the first place. (MSG)
~ FG