
Keluaran 33:15, "Berkatalah Musa kepada-Nya: 'Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.'"
Lalu Musa berkata, "Apabila Engkau tidak menyertai kami, kami tidak akan bergerak selangkah pun dari tempat ini." (FAYH)
Moses said, "If your presence doesn't take the lead here, call this trip off right now." (MSG)
Pagi ini dalam Doa Fajar, saya mendengar perjalanan iman Musa. Hidupnya melewati begitu banyak musim, mulai dari istana Firaun, padang gurun Midian, hingga memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Musa yang dahulu pernah bertindak menurut keyakinannya sendiri, akhirnya sampai pada satu pengakuan yang luar biasa: tanpa penyertaan Tuhan, ia tidak mau melangkah lebih jauh.
Saya langsung teringat sebuah kalimat yang baru-baru ini saya sampaikan ketika membagikan firman Tuhan meringkas pelajaran KOM, "Tuhan bukan Tukang stempel." Kadang kita sudah menyusun rencana dengan begitu rapi, menentukan tujuan, bahkan menyiapkan segala sesuatu, lalu datang kepada Tuhan seolah membawa berkas yang tinggal Dia tandatangani. "Tuhan, ini rencana saya. Mohon disetujui dan diberkati, ya."
Lucunya, pagi ini kalimat itu justru menegur saya sendiri. Setelah suami saya mengalami serangan jantung, kami memutuskan mencari pendapat medis kedua di luar negeri. Perjalanan mulai dipersiapkan, tetapi tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati. Apakah ini kehendak Tuhan, atau sekadar keinginan saya? Haruskah saya menunggu hasil pemeriksaan dahulu sebelum berdoa, atau justru sejak awal menyerahkan semuanya kepada Allah Bapa?
Saya kembali memikirkan Musa.
Ketika ia berkata bahwa dirinya tidak mau berangkat tanpa penyertaan Tuhan, ia tidak sedang meminta jaminan bahwa perjalanan akan mudah. Musa telah belajar bahwa keberhasilan mencapai tujuan tidak ada artinya jika ia kehilangan keintiman dengan Tuhan di sepanjang perjalanan.
Mungkin selama ini kita sering keliru memahami penyerahan diri. Kita mengira berserah berarti tidak perlu merencanakan apa pun, cukup menunggu Tuhan menunjukkan jalan. Padahal, Tuhan juga memberi kita akal budi untuk mempertimbangkan, mencari nasihat, dan mengambil keputusan dengan bertanggung jawab. Berserah berarti tetap berusaha melakukan yang terbaik, sambil memberi ruang bagi Tuhan untuk mengoreksi, menuntun, memimpin arah kita.
Di Getsemani, Yesus pun menyampaikan pergumulan-Nya dengan jujur kepada Bapa, lalu berkata, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42). Ia mengajarkan bahwa kepercayaan kepada Bapa tidak meniadakan rasa takut ataupun keinginan manusiawi.
Saya belum tahu apa yang akan dikatakan dokter nanti. Tentu saya berharap mendengar kabar baik dan masih diberi banyak waktu bersama suami. Namun saya sedang belajar bahwa iman yang dewasa bukan berarti mengetahui semua jawaban, melainkan tetap mempercayai Tuhan ketika jawabannya belum tersedia.
Jadi, sebelum perjalanan ini dimulai, saya ingin berdoa: "Bapa, inilah rencana yang menurut kami terbaik. Berilah kami hikmat untuk melangkah, kerendahan hati untuk mengubah arah bila diperlukan, dan iman untuk tetap percaya kepada-Mu, apa pun hasilnya."
Sebab yang terpenting bukan sekadar ke mana kita akan pergi, melainkan bersama Siapa kita menjalani perjalanan itu.
~ JP