
Hakim-hakim 7:2, "Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: 'Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.'"
TUHAN berkata kepada Gideon, "Anak buahmu terlalu banyak. Aku tak mau memberikan kemenangan kepada mereka atas orang Midian, sebab nanti mereka pikir mereka menang karena kekuatan sendiri, sehingga mereka tidak memuji Aku." (BIS)
TUHAN berkata kepada Gideon, "Aku mau menolong pasukanmu mengalahkan orang Midian, tetapi pasukanmu terlalu banyak untuk itu. Aku tidak mau orang Israel melupakan Aku dan menyombongkan diri bahwa mereka sendirilah yang menyelamatkannya." (VMD)
Sebagai manusia, tendensi kita setelah memperoleh kemenangan, keberhasilan, ataupun berkat adalah menganggapnya karena usaha kita sendiri. Bukan karena tangan kita sendiri.
Apakah kita juga demikian?
Sering pula mungkin berkat maupun kemenangan membuat kita terlena.
"Berkat-Mu yang telah ku terima, sempat membuatku terpesona," tutur lirik pujian, mengapa memakai kata 'sempat', adalah supaya mengingatkan kita agar tidak terus-menerus berfokus pada berkat itu saja, melainkan pada Sang Pemberi berkat, yaitu Tuhan sendiri.
Lalu TUHAN berkata kepada Gideon, "Orang-orangmu terlalu banyak! Aku tidak akan mengirim mereka semuanya untuk memerangi orang-orang Midian, supaya bangsa Israel jangan membanggakan diri di hadapan-Ku dengan mengatakan bahwa mereka telah berhasil menyelamatkan diri dengan kekuatan sendiri!" (Hakim-hakim 7:2. FAYH)
TUHAN berkata kepada Gideon, "Prajuritmu terlalu banyak. Jika Aku membuat kalian menang atas pasukan Midian, orang Israel akan menyombongkan diri dengan mengaku, 'Kita menang karena kekuatan kita sendiri." (TSI)
GOD said to Gideon, "You have too large an army with you. I can't turn Midian over to them like this--they'll take all the credit, saying, 'I did it all myself,' and forget about me." (MSG)
Kemenangan, keberhasilan, serta berkat yang mungkin kita terima bukan karena diri kita sendiri, melainkan lebih juga karena doa, dukungan orang lain, serta terutama perkenanan, penyertaan Tuhan, dan anugerah-Nya.
Catatan Full Life menjelaskan:
- Hanya kehadiran dan tindakan Allah dapat memastikan kemenangan bagi umat-Nya. Allah dapat bekerja dengan perkasa melalui sejumlah kecil orang yang penuh pengabdian (Zakharia 4:6).
- Kesiagaan dan pengabdian rohani, bukan jumlah besar, adalah sangat penting bagi Allah.
- Sumber daya dan kekuatan utama kita untuk menghadapi semua tantangan hidup dapat dijumpai di dalam Allah saja.
- Kesombongan akan keberhasilan merasa "karena saya" dengan sendirinya menjadi penghalang untuk menerima kuasa dan pertolongan Allah sepenuhnya.
Jadi, jangan lupa lagi mengembalikan segala hormat, puji, kemuliaan hanya bagi nama Tuhan ketika kita menerima dan mengalami segala keberhasilan, kemenangan, serta memperoleh berkat-berkat-Nya.
Yakobus 1:17, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."
Setiap pemberian yang baik dan hadiah yang sempurna datangnya dari surga, diturunkan oleh Allah, Pencipta segala terang di langit. Ialah Allah yang tidak berubah, dan tidak pula menyebabkan kegelapan apa pun. (BIS)
Every good gift and every perfect (free, large, full) gift is from above; it comes down from the Father of all [that gives] light, in [the shining of] Whom there can be no variation [rising or setting] or shadow cast by His turning [as in an eclipse]. (AMP)
The truth is that God, our heavenly Father, does only what is good for us, in order to help us become all that he intends us to be. He is not like all the things in the sky that he created to give light, because they change; that is, they do not shine the same all the time. But God never changes. He is always good. (DEIBLER)
~ FG