
Ketika sedang berkendara di jalan, ada satu papan reklame yang menarik perhatian dan lucu menurut saya, bahkan mungkin saya berpikir yang membuatkannya itu salah menuliskan kalimat. Tulisannya:
"Hanya bersandar saat darurat."
Mungkin maksudnya adalah menggunakan sisi jalan hanya ketika dalam keadaan benar-benar darurat, ataupun saat kendaraan sedang mengalami kerusakan dan hal lainnya yang memang sangat perlu untuk meminggir sejenak.
Namun, mengapa memakai kata 'bersandar'. Mungkin semestinya menggunakan kata yang lain yang lebih tepat.
Tapi, sesaat itu juga, Tuhan mengingatkan dalam hati saya bahwa sering kali mungkin kita pun demikian, seperti kata itu terhadap-Nya hanya saat-saat merasa darurat saja. Sedangkan, ketika kita diberkati ataupun semua sudah baik-baik saja, kita mungkin melupakan Dia atau tidak mau tahu tentang Dia.
Bagaimana dengan kita?
Apakah kita juga demikian seperti papan reklame jalan tersebut? Ataukah sungguh-sungguh belajar bergantung, bersandar penuh kepada-Nya, setiap saat, setiap waktu?
Yesaya 10:20, "Tetapi pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara kaum keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar kepada TUHAN, Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tetap setia."
Kemudian orang dari keluarga Yakub yang tinggal di Israel berhenti bergantung pada yang memukulnya. Mereka belajar sungguh-sungguh bergantung pada TUHAN, Yang Mahakudus Israel. (VMD)
And on that Day also, what's left of Israel, the ragtag survivors of Jacob, will no longer be fascinated by abusive, battering Assyria. They'll lean on GOD, The Holy--yes, truly. (MSG)
Yeremia 17:7 (TSI), "Tapi orang yang berharap kepada-Ku akan Kuberkati selalu."
Berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN karena Tuhan akan menunjukkan kepadanya bahwa TUHAN dapat dipercayai. (VMD)
But blessed is the man who trusts me, GOD, the woman who sticks with GOD. (MSG)
~ FG