Pada 21 April yang lalu, bersama-sama kita memperingati Hari Kartini, pahlawan nasional wanita yang mengawali emansipasi (persamaan hak), perubahan yang baik, dan mengajak kita memahami makna PENGHARAPAN.
Bukankah hari-hari ini kita PERLU pengharapan yang harus kita jaga agar tidak menjadi putus asa dan memadamkan semangat?
R. A. Kartini percaya dia memiliki harapan, sehingga beliau menuliskan korespondensi (surat-menyurat) ke teman-temannya yang ada di Belanda, dan surat-suratnya dibukukan berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang (Door Duisternis, Tot Licht).
Apa saja yang bisa kita teladani dari Kartini, terkhusus di kala pandemi saat ini ?
Bukan kebetulan kita melakukan physical distancing (jaga jarak) maupun stay at home (di rumah saja) sesuai anjuran pemerintah. Demikian pula yang dialami Kartini, yakni harus tetap di rumah, bahkan di kamar sebab "dipingit". 'Pingit' sendiri dalam bahasa serta budaya Jawa berarti calon mempelai wanita tidak boleh bertemu dengan calon mempelai pria. Situasinya mungkin beda, namun tekanannya hampir sama. Mengapa ? Sebab kita pun sedang mengalami tekanan akibat pandemi dengan jangka waktu yang sedemikian lama. Tak ada yang menyangka akan selama ini, tidak ada yang tahu kapan akan usai.
Kartini mengalami tekanan akibat kesenjangan sosial atau tingkat masyarakat. Jika tekanan lamanya waktu yang kita alami semasa pandemi adalah "baru" sampai saat ini sekitar setahun lebih, beda halnya Kartini yang mesti mengalami sepanjang usianya (lahir pada 21 April 1879, dan wafat 17 September 1904, di usia 25 tahun).
Di hidupnya yang terbilang pendek, namun sangat penuh pengharapan. Justru dalam tekanan, beliau memberikan sesuatu yang terbaik, yaitu perubahan. Dia yakin "badai pasti berlalu", habis gelap pasti terbit terang.
BEBERAPA PERKATAAN BIJAK BELIAU YANG BISA KITA PELAJARI adalah :
1. "Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."
Alam tidak tergesa-gesa. Ada proses pertumbuhan di tiap pergantian musim. Bagaimana dengan kita ? Sering kita tidak sabar saat menghadapi pergantian "musim kehidupan". Jarang menyadari bahwa itu pun proses pertumbuhan, lalu cenderung marah ketika musim berganti.
Pengkhotbah 3 : 1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
Jadi, pahami bahwa setiap proses yang ada sesungguhnya sangat bermanfaat. Ibarat sebelum pohon berbuah, pasti ada proses pertumbuhan; sebelum bertumbuh, mesti berakar; dan sebelum memiliki akar, haruslah tertanam. Sadarilah, setiap proses tersebut tidak boleh terbalik, mengambil jalan pintas, atau menghilangkan salah satu prosesnya. Demikian pula hidup kita ! Jadi, makna pengharapan sejati ialah tetap menjalani proses yang ada.
Sayangnya, sejumlah orang mulai lepas dan hilang pengharapan. Sering kali penyebab utamanya, TIDAK TERTANAM DI GEREJA LOKAL ataupun TIDAK IKUT KOMUNITAS COOL. Tanpa menjadi tertanam, maka pembekalan serta pendisiplinan untuk dapat berakar itu sulit. Namun, jika kita mau tertanam di gereja lokal maupun komunitas, pasti ada kewajiban-kewajiban serta kedisiplinan yang kita taati dan menjadi bagian proses pertumbuhan.
Banyak orang ketika mengalami proses, mereka memilih melarikan diri dan menyerah. Pertanyaannya, jika seperti demikian, maka kapan berbuahnya ? Sebab akan mengulang-ulang proses yang sama, tetapi tanpa menghasilkan buah. Karena itu, tugas dan kewajiban kita selama pandemi adalah tetap bertumbuh. Selebihnya, bagian Tuhan yang pegang kendali.
Bagaimana proses pertumbuhan kita saat ini ? Kita semua pasti telah menerima pembekalan, berdasar Mazmur 24 : 3 – 5 tentang "BEKAL 4 P" : Benahi Perbuatan, Eksplorasi Perasaan, Kendalikan Pikiran, Akui Lewat Perkataan, dan Langkah Masuk 2021.
Mazmur 24 : 3 – 5 Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN ? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus ? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.
Bagaimana perkembangan pertumbuhan kita sampai bulan keempat ini ? Jangan khotbah-khotbah yang kita dengar hanya jadi tumpukan catatan dan tidak pernah kita aplikasikan. Mari introspeksi : Apakah semasa kepenatan, kegelapan dan kegalauan akibat pandemi, terang kasih Tuhan dalam diri kita masih menyala secara nyata melalui pikiran, perkataan, perasaan dan perbuatan ?
2. "Tahukah engkau semboyanku ? 'Aku mau !' dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata 'Aku tiada dapat !' melenyapkan rasa berani. Kalimat 'Aku mau !' membuat kita mudah mendaki puncak gunung."
Bukan tentang mampu atau tidak, melainkan lebih soal mau atau tidak. Karena itu, kemauan mesti mendahului kemampuan. Sebab kita masih bisa membekali diri dengan kemampuan kelak. Demikian juga dengan kemauan Kartini akhirnya membawa perubahan lebih baik dan menolongnya untuk tidak berhenti berharap. 25 tahun bukanlah waktu singkat. Bukankah banyak teladan iman dalam Alkitab pula yang juga menanti-nantikan waktu lama sampai akhirnya mengalami perubahan maupun menerima janji-janji Tuhan, seperti Abraham? Karena itu, janganlah goyah.
3. "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya."
Kartini memberi teladan selama mengalami tekanan yang ada, beliau mengisi waktu untuk belajar. Meski secara fisik "terpenjara" secara pingitan, tetapi tidaklah demikian pemikirannya. Beliau sangat suka membaca buku, menulis ataupun korespondensi. Beliau menjaga integritas hidupnya. Salah satu aturan semasa pingitan adalah TIDAK BOLEH KELUAR RUMAH, namun bukan larangan untuk membaca buku ataupun mendidik diri sendiri, karena itu Kartini mengisi hari-harinya dengan belajar. Bagaimana dengan kita ? Jangan sampai memanfaatkan waktu stay at home (di rumah saja) dengan berhenti belajar.
Karena itu, sudut pandang sangat menentukan : Percayakan kita habis gelap, akan terbit terang, badai pasti berlalu ? Jika ya, pasti kita menyiapkan diri sebaik-baiknya. Mengapa ? Karena tujuan dan pengharapan kita ke depan adalah terang. Nah, selama belum mencapai, janganlah sia-siakan waktu. Tetaplah belajar. Ataukah sebaliknya, cara pandang kita suram, gelap akhir dari segalanya. Ingat, hidup ini pilihan.
Selain membaca buku dan menulis surat, Kartini juga membuka sekolah untuk mengajar aksara bahasa Belanda pada anak-anak kecil. Suaminya pernah berkata bahwa hidup itu belumlah berarti apabila belum berbagi.
Efesus 5 : 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.
Jagalah proses pertumbuhan rohani kita. Kita sudah menerima predikat sebagai anak-anak terang, apakah cara pandang kita sedemikian, bahkan lebih ? Ataukah terpuruk pada pikiran gelap akhir dari segalanya ? Hasil keduanya akan terlihat dari sikap kita. Kartini pernah mengatakan, "Salah satu hal yang bisa menjatuhkan kita adalah sikap kita sendiri."
Sebenarnya, bukan cara pandang manusia yang harus jadi acuan, melainkan pakailah CARA PANDANG TUHAN, firman-Nya yang mampu melampaui kebijakan manusia.
Mazmur 112 : 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.
Seperti halnya sekarang pandemi, masih gelap, namun dengan cara pandang Tuhan melalui firman-Nya terhadap keadaan saat ini, akan membantu kita untuk terus berharap. Manusia mungkin menunggu gelap habis dulu, baru terbit terang, namun firman Tuhan menyatakan justru di dalam gelap, pasti terbit terang bagi orang benar !
Orang benar itu jujur, lurus jalannya, dan tulus hatinya. Terutama di tahun Integritas ini. Pastikan kita termasuk kategori orang benar. Dan bersyukurlah, sekalipun masa pandemi, kita tergolong orang benar. Meski dalam gelap yang sedang melanda banyak bangsa (global pandemic), dapat terbit terang bagi kita sehingga banyak jiwa akan berduyun-duyun datang pada terang kita.
Yesaya 60 : 1 – 3 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.
Inilah saatnya bangkit jadi penuai jiwa-jiwa bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Terang pada kita sebagai orang benar, jujur, lurus serta tulus bersinar bagi bangsa-bangsa.
Jadi, ketika Allah mempersiapkan tahun ini menjadi suatu tema besar, yakni Tahun Integritas (The Year of Integrity) melalui Gembala Sidang kita, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo yang intim dengan Tuhan, supaya menuntun kita ketika dalam gelap sekalipun, mau tidak mau, terang pasti terbit atas kita dan orang-orang datang pada terang itu. Karena itu, benahi identitas kita sebagai orang benar (jujur, lurus, tulus). Sehingga orang-orang melihat jalan hidup kita yang saleh serta berintegritas. Dan semua itu terjadi melalui perubahan berbagai kegiatan rohani dari onsite (di dalam gedung) menjadi online atau secara jaringan Internet. Semua terkoneksi lewat satu klik saja (one click away) yang lebih cepat, mudah serta murah. Karena itu, pastikan isi media sosial maupun aktivitas online kita seperti apa, apakah sesuatu yang memberkati dan mencerminkan Kristus ?
Terang seperti apa yang sudah terbit atas kita dalam gelapnya pandemi saat ini sehingga kemuliaan Tuhan nyata atas kita ? Cara termudah mengetahuinya ialah, bayangkan sedang di dalam gelapnya mati lampu ataupun listrik padam (yang tidak jarang kita menganggapnya lumrah). Nah, ketika dalam keadaan tersebut, introspeksi "BEKAL 4 P" kita, yaitu PIKIRAN, PERKATAAN, PERASAAN, dan PERBUATAN, apakah menunjukkan predikat sebagai anak terang atau tidak ? Bagaimana pelita kita selama gelapnya pandemi ini ? Bagaimana cara mempertahankan pelita kita agar tidak padam ?
Amsal 6 : 23 Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.
Jadi, tidak mungkin kita bisa maju dan jalan ke depan tanpa memiliki pelita atau cahaya. Karena itu, kita mesti mau menerima PERINTAH, rela DIAJAR, serta bersedia DITEGUR. Walau tidak enak, namun jika mau, akan memampukan kita terus maju serta naik. Sebaliknya, jika tidak suka atau menolak perintah, ajaran maupun teguran, kemungkinan masih ada ganjalan ego yang harus kita benahi. Jika tidak, pelita kita akan padam.
Rela menerima perintah berarti belajar penundukan diri. Kartini pun belajar mengabdi, berbakti, menundukkan diri. Tanpa kerelaan menerima perintah, sesungguhnya kita belum mengerti arti penundukan diri. Selain itu, tanpa menundukkan diri, tidak ada wadah untuk menerima ajaran. Ajaran tidak akan masuk tanpa penundukan diri. Dan orang yang bersedia diajar pasti menangkap sebuah teguran sebagai "nutrisi" proses pertumbuhan. Jadi, janganlah jadi "orang Kristen cengeng" ataupun sakit hati ketika ditegur.
Amsal 13 : 9 Terang orang benar bercahaya gemilang, sedangkan pelita orang fasik padam.
Ingat, suatu pelita yang padam bukan berarti sebelumnya tidak pernah menyala, melainkan pernah nyala, lalu reda, padam, mati. Hanya ada bekasnya. Apakah kehidupan, terang, dan semangat kita demikian ? Jangan sampai seperti itu supaya roh kita tidak padam, melainkan tetap menyala-nyala dan senantiasa melayani Tuhan. Biarlah roh kita menyala-nyala agar ketika melayani Dia adalah lahir dari rasa cinta yang luar biasa kepada-Nya.
Roma 12 : 11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Perintah, ajaran, serta teguran pun belum cukup, masih ada satu hal lagi yang perlu kita miliki, yakni 'minyak' (baca dan belajarlah tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh di Matius 25 : 1 – 13).
Matius 25 : 10 & 13 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup … Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.
Pastikan kita tetap siap sedia dan berjaga-jaga. Jangan kendor ataupun pasif dalam beribadah. Sekalipun online, andalkanlah Roh Kudus, serta kiranya roh kita terus menyala-nyala dan kita senantiasa melayani Tuhan.
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



