Cobalah bertanya kepada orang lain, "Who are you (Siapakah kamu)?" Banyak dari antara kita yang mendefinisikan diri kita dari sebuah nama. Tapi banyak orang yang tidak bisa mendefinisikan diri mereka sendiri. Banyak orang juga yang tidak mempunyai atau mengenal jati diri mereka yang sebenarnya. Banyak dari antara kita juga mungkin mengambil definisi dari orang lain lalu mempercayainya. Saat kita percaya definisi-definisi tersebut, maka itu akan menjadi identitas kita.
Kegagalan, penyakit, tergabung di sebuah klub ataupun profesi, dan lain-lainnya bisa saja kita jadikan sebagai definisi jati diri kita. Tetapi, seharusnya kita harus mengetahui SIAPA DIRI KITA DI DALAM TUHAN agar itu menjadi IDENTITAS kita. Sebab, satu-satunya yang boleh kita izinkan mendefinisikan hidup kita adalah Tuhan, yang telah menciptakan kita. Bukan orangtua, keluarga, tetangga, teman-teman, budaya, dan lain-lain yang menciptakan kita.
Dari mana kita bisa mendapatkan definisi dan identitas kita di dalam Tuhan itu? Hanya di dalam firman-Nya atas hidup kita. Ketika kita mulai menemukan apa yang Tuhan katakan tentang diri kita, kita akan mulai mengakui (pengakuan) diri kita, lalu mulai menerima, dan mempercayainya. Dan ketika kita sudah mempercayai, maka itu akan membentuk kehidupan kita.
Misalnya: "Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu (Mzm. 17:8)." Waktu kita mempercayainya, maka semua potensi dan apa pun yang tersimpan di dalam diri kita akan muncul. Apa yang harus kita lakukan setelah selama ini kita percaya bahwa kita orang gagal? Reverse the proses (putar balikkan proses). Akui, terima, dan percayai bahwa kita lebih daripada pemenang!
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita (Rm. 8:37)."
CARA TUHAN MENDEFINISIKAN HIDUP KITA:
- Kita segambar & serupa dengan Allah.
- Kita adalah anak-anak Allah.
- Hidup dan tubuh kita adalah rumah Tuhan.
"Berfirmanlah Allah: 'Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kej. 1:26).'"
Jadikan ini identitas kita. Jadi, kalau kita ingin menjadi segambar & serupa dengan Tuhan, kita harus mengalami perjumpaan pribadi dengan-Nya atau pertobatan.
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17)."
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yoh. 1:12)."
Ini adalah hal yang utama & pertama. Akui dan terima realitas identitas yang baru ini. Maka, akan ada pola pikir dan gaya hidup yang baru. Anak-anak Donald Trump saja berjalan dengan dignity (kehormatan) atau yakin dan percaya diri karena tahu siapa diri mereka dan ayah mereka.
"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? (1 Kor. 3:16)."
Kita adalah pembawa kemuliaan-Nya. Tuhan berdiam dan tinggal di dalam diri dan hidup kita, bukan menjadi tamu yang pulang-pergi. Jadi, supaya Dia betah tinggal di dalam kita dan memelihara kehadiran-Nya, mulailah seriuslah terhadap kehidupan kita.
Saat kita mengizinkan Tuhan untuk memberikan definisi tentang hidup kita, kita akan mengetahui siapa diri kita sebenarnya dan kita merepresentasikan Dia di manapun kita berada. Seperti Tuhan Yesus yang mengetahui identitas-Nya dan menghadirkan Bapa di dalam kehidupan-Nya.
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa (Yoh. 14:9 b)."
Kalau identitas yang buruk saja bisa mempengaruhi dan mengubahkan orang lain, bayangkan bagaimana identitas yang begitu baik di dalam Tuhan akan dapat mengubahkan dunia ini dan sekitar kita.