Ulangan 15 : 10
Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah Tuhan, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.
Memberi hendaknya dilakukan dengan hati yang gembira dan sukacita. Ada beberapa petunjuk (disclaimer) dari firman Tuhan :
- Keteladanan dari Tuhan bahwa seharusnya menabur adalah sebuah sukacita bukan merupakan sebuah beban / dukacita, sebab Ia sendiri telah mengatakan : Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima. (Kisah Para Rasul 25 : 30b)
- Menabur tidak hanya diasosiasikan dengan taburan dalam bentuk materi saja. Taburan dapat dalam bentuk waktu, talenta, perhatian, atensi dan lainnya. Namun pada prinsipnya ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar lewat setiap taburan kita. Tetapi berkatalah raja kepada Arauna : Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa. Sesudah itu Daud membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga lima puluh syikal perak. (2 Samuel 24 : 24)
- Perpuluhan adalah milik Tuhan. Bahkan keberadaan kita hari ini, semuanya adalah milik Tuhan. Kita hanya pengelola saja. Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik Tuhan; itulah persembahan kudus bagi Tuhan. (Imamat 27 : 30)
Kejadian 26 : 12 - 13
Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.
Hal-hal yang dipelajari :
1. Menabur adalah sebuah keputusan (‘maka’).
Lebih dari itu jadikanlah ini sebagai sebuah kebiasaan. Semakin terbiasa kita melakukan ini akan semakin mudah dalam mengambil keputusan.
2. Menabur tidak dibatasi oleh keadaan (‘tanah’).
Tidak akan pernah ada kondisi ideal bagi kita untuk menabur. If you can’t give $1 to God, than you can’t give $100 to Him (Kalau kita tidak bisa memberi 1 dolar kepada Tuhan, maka kita tidak akan bisa memberi 100 dolar kepada Tuhan). Jika untuk yang kecil saja kita tidak bisa berikan kepada Tuhan maka jangan berharap kita bisa memberikan yang besar kepada-Nya.
3. Menabur adalah saat kita menjadi subyek dan obyek berkat Tuhan (‘diberkati’). Menabur adalah cara kita menjadi saluran berkat bagi orang lain dan perluasan atas kerajaan Sorga.
Bilangan 18 : 26
Lagi haruslah engkau berbicara kepada orang Lewi dan berkata kepada mereka : Apabila kamu menerima dari pihak orang Israel persembahan persepuluhan yang Kuberikan kepadamu dari pihak mereka sebagai milik pusakamu, maka haruslah kamu mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai persembahan khusus kepada Tuhan, yakni persembahan persepuluhanmu dari persembahan persepuluhan itu,"
4. Menabur bukanlah mengejar berkat kilat (‘kian lama’).
Menabur bukan berarti kita menuntut pembalasan dari Tuhan. Melainkan sesungguhnya menabur adalah wujud apresiasi kita atas berkat Tuhan.
Lukas 12 : 48b
... Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.
Mari belajar untuk mengambil keputusan mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan dengan penuh sukacita. Pada akhirnya menabur adalah sebuah sikap hati, bukti dari ketaatan akan perintah Tuhan. Taburan kita tidak menambah atau mengurangi kedaulatan Tuhan.
1 Samuel 15 : 22
Tetapi jawab Samuel : Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan ? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
Tuhan Yesus Memberkati