Di momen perayaan Natal ini, beberapa dari kita rindu merayakannya bersama dengan keluarga terkasih yang mungkin berada jauh dari kita, karena itu kita rindu untuk pulang sehingga dapat berbagi kasih dan sukacita bersama. Namun, lebih dari pada itu adakah kerinduan kita untuk pulang, dalam arti kembali kepada hadirat dan kehendak Tuhan, memulihkan kembali hubungan kita dengan Tuhan ?
Kasih, pengampunan-Nya dan kehidupan baru selalu tersedia untuk mereka yang mau pulang.
Kita akan belajar dari satu kisah dalam kitab Lukas 15 tentang perumpamaan tentang anak yang hilang. Apa yang dapat kita pelajari ?
1. Kesalahan si bungsu
Lukas 15 : 12 - 13
Kata yang bungsu kepada ayahnya : Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
Si bungsu ingin bebas dari peraturan rumah; dia menginginkan kesenangan, ingin menjalankan hidupnya sendiri dan melakukan apa pun yang dia suka. Apakah kita memiliki keinginan seperti si bungsu yang ingin bebas ? Bebas dalam hal tidak mau terikat pada peraturan dan hanya mau melakukan apa yang kita sukai saja.
Si bungsu ingin menjauh dari rumah; negeri yang jauh adalah sikap hati, pikiran, jiwa, kehendak dan keinginan seseorang yang jauh dari kehendak Tuhan.
Setiap orang yang ingin bebas dan menjauh dari Allah Bapa akan mengalami kelaparan rohani dalam hidupnya, sehingga hidupnya tidak bahagia.
Yesus masih memanggil, “Pulanglah !” Kita tidak pernah pergi terlalu jauh atau terlalu parah untuk kembali pada kasih Allah. Dia tetap menunggu, seperti ayah si Bungsu.
- Respon si bungsu untuk pulang :
Si bungsu menyadari kesalahannya setelah mengalami penderitaan. Si bungsu berkata dalam Lukas 15 : 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
Tanpa kesadaran ini, seseorang tidak akan pernah bisa bertobat dan kembali kepada Tuhan.
- Pengakuan dosa
Lukas 15 : 21
Kata anak itu kepadanya : Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
1 Yohanes 1 : 9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
Keselamatan bukan tentang apa yang harus kita lakukan, keselamatan adalah apa yang Kristus sudah lakukan bagi kita.
Lukas 15 : 20
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Si bungsu menyadari kesalahannya dan memberanikan diri untuk pulang ke rumah bapanya. Dia diterima kembali, bahkan disambut dengan penuh sukacita oleh bapanya.
2. Kesalahan si sulung
Tidak bersukacita ketika adiknya kembali pulang.
Lukas 15 : 32
Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.
Pertobatan orang berdosa adalah sesuatu yang seharusnya dirayakan, bukan dipermasalahkan. Orang-orang yang tidak taat, yang berbalik kepada Tuhan membutuhkan dukungan dari kita semua. Kita menolong orang tersesat supaya mereka menemukan jalan untuk pulang.
Di sini kita melihat bapa menawarkan pertobatan kepada Si bungsu dan menawarkan keselamatan kepada Si sulung.
Masa lalu tidak akan pernah menjadi masa depanmu, betapa pun buruk dan berdosanya kita di masa lalu, asal ada penyesalan dan pertobatan hidup kita akan berubah.
Tuhan Yesus Memberkati