Ada tiga alasan mengapa dan bagaimana seorang yang percaya kepada Tuhan Yesus seharusnya mengucap syukur, yaitu :
1. Sikap kita (1 Tesalonika 5 : 18).
1 Tesalonika 5 : 18
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Ada contoh kisah tentang dua orang yang bersikap berbeda terhadap kegagalan :
• Mr. Brian menulis buku berjudul “Life Begins at 40”, dan ia hidup mewah, namun mengalami kebangkrutan, dan kehancuran. Tetapi, dari hidupnya dan keluarga yang hancur, ia tetap berjuang, belajar mengucap syukur setiap hari, sehingga dipulihkan, dan mengalami kemenangan karena bersyukur.
• Dr. John Hunter, MD menulis buku berjudul “Benefits of Jogging”, dan ia merupakan seorang yang kaya raya, serta sukses. Namun, karakternya sangat buruk, pemarah, emosi selalu negatif, depresi, serta susah mengucap syukur, sehingga pada akhirnya mengalami penyakit dan kematian, karena tidak mau dan lupa bersyukur kepada Tuhan.
Menurut sebuah hasil penelitian, ternyata melalui ucapan syukur dalam segala hal, manusia akan mengalami :
• 60 % kekebalan tubuh (imunitas) naik.
• 30 % umur lebih panjang, merasa tenang, serta tensi menurun.
• 70 % lebih produktif.
Oleh sebab itu, belajarlah senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, enak ataupun tidak enak waktunya, baik maupun tidak baik keadannya. Selain merupakan kehendak Allah, bersyukur juga akan menenangkan kita, daya tahan tubuh naik, umur lebih panjang, dan meningkatkan produktivitas, serta mengalami hal-hal baik lainnya.
2. Orang beriman (Lukas 17 : 17 - 20).
Lukas 17 : 11 – 13
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak : "Yesus, Guru, kasihanilah kami !"
Lukas 17 : 14 – 16
Lalu Ia memandang mereka dan berkata : "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
Lukas 17 : 17 – 19
Lalu Yesus berkata : "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir ? Di manakah yang sembilan orang itu ? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini ?" Lalu Ia berkata kepada orang itu : "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."
Lihatlah, bersyukur adalah tanda orang yang beriman. Ada sepuluh orang sakit kusta yang mengalami mujizat kesembuhan. Namun, sembilan orang tidak kembali mengucap syukur hanya karena menerima kesembuhan secara jasmani dari Tuhan Yesus. Mereka melupakan Dia dan kebaikan-Nya. Tetapi, hanya ada satu orang Samaria yang sakit kusta yang mengucap syukur karena mujizat kesembuhan, dan karena imannya, ia diselamatkan baik secara jasmani maupun jiwani, serta rohani.
3. Mengucap syukur bukan perasaan, tetapi pilihan (Habakuk 3 : 17 – 18).
Habakuk 3 : 17a – 18
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, … namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
Keadaan-keadaan maupun perasaan bisa saja membuat kita untuk berhenti mengucap syukur, dan malah mengeluh, tetapi keadaan tidak mesti menentukan bagaimana sikap atau pilihan kita. Karena itu, kita masih dapat memilih apakah mengikuti perasaan semata, menyerah kalah pada keadaan, ataukah untuk mengucap syukur.
Pilihlah untuk senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan, serta memancarkan kasih dan sukacita dalam hidup kita, apa pun yang terjadi. Tuhan pasti sanggup untuk menolong, memulihkan, mengubahkan, menyertai, dan memberkati setiap kita.
Tuhan Yesus Memberkati