Banyak orang memiliki cerita serta latar belakang kehidupan yang berbeda, dan hampir semuanya terutama saat ini di antara kalangan para pengusaha yang mengalami keadaan, tantangan maupun permasalahan yang berat.
Rasanya, tidak ada yang aman-aman saja sekarang. Omset turun. Tempat-tempat usaha tutup. Harga naik di mana-mana. Bidang pendidikan seperti sekolah maupun universitas pun terdampak. Berbagai kota di negara manapun, kondisinya sedang dalam keadaan yang sulit, bahkan mungkin ke depan akan lebih menantang. Banyak yang “megap-megap”, “sesak napas”, maupun merasa susah.
Bagaimana dengan Saudara saat ini, apakah juga sedang mengalami hal yang sama seperti penjelasan di atas? Ataukah sebaliknya, justru sedang diberkati secara berlimpah oleh Tuhan?
Hari ini, kita akan belajar dari firman Tuhan dari beberapa sudut pandang yang berbeda, namun dengan tema yang sama, yakni mengatasi krisis dengan penuh kemenangan. Bagaimana caranya supaya kita berhasil keluar melewati krisis sebagai seorang pemenang?
Matius 14:22-29
Yesus berjalan di atas air -- Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
Ketika itu, para murid terkatung-katung, dan berada di dalam badai. Dan pada saat Yesus datang ke mereka, Ia tidak segera menduhkan badai. Sering, kita berpikir cara Tuhan menolong adalah membuat badai menghilang dan langsung meneduhkannya, namun seruan dan jawaban doa tidaklah selalu menghilangkan masalah maupun persoalan kita dengan segera.
Siapa pun kita, yang sedang menghadapi dan mengalami “badai”, Yesus tidak selalu menjawab doa dengan meneduhkan badai itu. Ada dua jenis orang:
- Orang yang hanya mau berada “di dalam perahu”
- Orang yang mau berani melangkah “keluar dari perahu” seperti Petrus
Meski tidak disebut berapa jumlah murid yang sedang berada di atas perahu pada waktu itu, namun kemungkinan kedua belas murid ada di atas perahu semua. Intinya, mereka sama-sama menghadapi badai, tetapi memiliki respons yang berbeda. Air masuk ke perahu, angin kencang menghembus, para murid mungkin panik, saling menyalahkan, dan suasana heboh lainnya untuk mengupayakan supaya perahu seimbang dan tidak tenggelam. Hari ini, kita akan belajar untuk marilah memiliki respons yang mendatangkan kemenangan.
Mungkin masih banyak anak Tuhan yang bersikap dan bertingkah seperti para murid ketika berada di atas perahu itu saat mengalami badai, dan mengerahkan kekuatan sendiri. Jika begitu, kita akan kelelahan sendiri, putus asa, bahkan menyalahkan Tuhan pada akhirnya.
Jadilah seperti Petrus, yang berani melangkah keluar perahu kepada Tuhan Yesus. Artinya, datangilah Tuhan saat mengalami badai. Bukan sebaliknya, saat menghadapi badai, kita menjadi panik, “ngotot” mengandalkan kekuatan sendiri.
Sesungguhnya, bukankah luar biasa juga yang dilakukan dan dialami oleh Petrus karena ia menerima mukjizat dari Tuhan dengan berjalan di atas air?!
Kadang, Tuhan tidak segera meneduhkan “badai apa pun” dalam hidup kita, sebab Ia mau membawa kita ke sebuah perjalanan serta pengalaman rohani yang luar biasa beserta Dia, seperti halnya Petrus yang berjalan di atas air kepada Yesus, dan menerima pertolongan-Nya.
Mukjizat apa pun yang sedang kita nanti-nantikan dan harapkan dari Tuhan, janganlah memakai kekuatan kita sendiri, melainkan lakukanlah cara yang sederhana ini, yaitu hanya mau datang kepada Tuhan Yesus, seperti yang dilakukan oleh Petrus.
Jika berbagai keadaan menyudutkan kita, dan apabila sekiranya sudah tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain berdiam diri di hadirat Tuhan, datanglah kepada-Nya, tetap berdoa, alihkan pikiran kita hanya kepada Tuhan, itu yang lebih baik yang bisa kita lakukan, dan menyembah, mengharap pertolongan hanya dari-Nya. Dengan begitu, kita akan mengatasi krisis dengan penuh kemenangan, dan menjadi seorang pemenang.
Apa pun jawaban doa yang Tuhan berikan, sediakan, dan percayakan bagi kita masing-masing saat ini, terimalah dan bersyukurlah, sebab kita tidak akan pernah tahu seberapa besar dampak serta berkat yang Tuhan masih bisa kerjakan melalui semua itu. Tuhan sanggup memakai yang sederhana yang kita miliki, yang kita lakukan, serta yang di tangan kita untuk memberkati kita secara berlimpah, dan menjadi berkat serta kesaksian bagi banyak orang, bahkan di luar apa pun yang pernah kita bayangkan, doakan, timbul dalam hati, dan pikirkan. Itulah cara Tuhan kita yang setia.
Tuhan sanggup membuat jalan di tengah kemustahilan, dalam segala keterbatasan, melampaui segala kelemahan.
Bagian kita ialah berhenti memakai kekuatan sendiri, dan mulai datang kepada-Nya. Sehingga seperti Petrus, kita akan “berjalan di atas air”, mengalami keajaiban, melewati kemustahilan, menjalani kemenangan. Bukan apa yang kita miliki atau apa yang ada pada kita, melainkan Siapa yang menyertai dan bersama dengan kita. Karena itu, janganlah pernah menyerah.
Tuhan Yesus Memberkati