Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2021.
Berbicara mengenai melepaskan kepahitan hati ini sangat pribadi. Semua orang pernah mengalami kepahitan. Sebagai hamba Tuhan untuk melakukan konseling harus memiliki simpati dan rasa empati. Orang yang mengalami kepahitan akan terlihat seperti berjalan ke arah barat di dalam badai. Simpati adalah mendengarkan apa yang menjadi masalahnya. Empati adalah sama-sama mengalihkan atau membawa ke perahu kita dari perahunya yang sedang mengalami badai. Setelah itu semua kita menggunakan logika. Sebagai hamba Tuhan tidaklah mudah karena orang itulah yang harus menyelesaikan sendiri dan harus ketemu langsung agar tahu apakah benar-benar atau bohong. Untuk memulihkan hati yang kepahitan tidak mudah.
Efesus 4 : 31 - 32
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Kalau kita masih menyimpan kepahitan maka kita belum sungguh-sungguh mengenal Tuhan.
Efesus 4 : 20
Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
Bukti kalau kita sudah mengenal Tuhan : Tidak menghindar jika bertemu dengan orang yang pernah menyakiti kita.
Kita harus belajar dari Yusuf yang mengalami banyak kejadian yang tidak mengenakan, dijual kakak-kakaknya, difitnah istri Potifar tetapi tetap mengenal kakak-kakaknya ketika mereka datang kepadanya. Jika suami istri punya kepahitan dan tidak saling bicara berarti kita sedang menyakiti pasangan masing-masing karena kita satu tubuh.
Bukti orang yang sudah mengampuni :
1. Tegur orang yang pernah menyakiti kita.
2. Jika dalam pembicaraan kita tidak lebih banyak membicarakan dengan panas hati tentang orang tersebut.
Efesus 4 : 26 - 27
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Belajar dari Daud yang tidak mau melakukan untuk membunuh Saul ketika ada kesempatan.
jika kedua hal di atas ada pada hati kita, maka :
1. Hidupi kebenaran Tuhan. Kita menjadi orang yang sungguh-sungguh melepaskan kepahitan dan hidup dalam berkat Tuhan. Jika kita pulih hatinya selalu ada berkat dari Tuhan.
2. Kita tidak akan bergaul dengan kumpulan orang-orang yang sama-sama sakit hati.
3. Terus ceritakan kebaikan Tuhan. Sehingga tidak ada celah buat iblis untuk mengambil kesempatan.
Tuhan Yesus Memberkati