GBI PRJ (CK7)
GBI PRJ (CK7)Praise Revival for Jesus
Giving

KU MAU SEPERTIMU YESUS

Pdp. Hartono · Minggu, 08 November 2026 · ± 5 menit baca

Ibadah Live Streaming 1 - 5
Minggu, 08 November 2026
Pk. 07:00 - 16:30 WIB
PDF Rangkuman “KU MAU SEPERTIMU YESUS” Pdp. Hartono · Minggu, 08 November 2026 Unduh PDF

Tentu kita pernah mendengar lagu "Ku Mau Seperti-Mu Yesus" yang mungkin dapat menjadi pengingat utama bagi setiap umat beriman akan kerinduan untuk hidup meneladani Kristus sebagai panutan sejati kita. 

Melalui pesan ini, umat diajak untuk dapat terus bertumbuh secara rohani, dan menjadi semakin serupa seperti Kristus. Terdapat tiga karakter yang akan kita pelajari bersama agar setiap jemaat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan-Nya.

• Karakter Pertama: Jangan Menghakimi
Karakter pertama adalah tidak langsung menghakimi orang lain. Manusia sering kali merasa dirinya lebih baik, lebih benar, atau lebih kudus dibanding orang lain. Ketika melihat kesalahan atau dosa sesama terekspos di depan mata, kecenderungan manusia adalah dengan mudah menghakimi.

Matius 7:1-2
Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu gunakan untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Dalam Yohanes 8:1-11, kita dapat membaca tentang seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina, dan hendak dihakimi serta dilempari batu oleh para ahli Taurat serta orang-orang Farisi, namun Tuhan Yesus mengampuninya, tidak menghakiminya, dan tidak menghukumnya, melainkan memberikan anugerah dan berkata, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi." Kita semua sesungguhnya adalah pendosa yang telah ditebus. Pertobatan harus dilakukan dengan sepenuh hati tanpa mengulangi dosa tersebut, dan umat dipanggil untuk tidak menghakimi.

Daripada menghakimi, firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi (1 Korintus 13:1-4). Teladan kasih digambarkan oleh Yesus dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37). Daripada menghakimi, orang percaya hendaknya memiliki belas kasihan yang mudah digerakkan ketika melihat orang lain yang menderita. Orang Samaria tersebut menjadi contoh memiliki belas kasihan dan melakukan bagiannya secara nyata untuk menolong, mendoakan, dan memberkati orang lain.

• Karakter Kedua: Memberi Kesempatan Orang Lain untuk Bertobat
Karakter kedua adalah memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mengalami pemulihan serta pertobatan. Kristus tidak membuang orang berdosa, melainkan merangkul mereka untuk menjadi ciptaan baru.

2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Ini terlihat jelas dalam panggilan hidup Matius, seorang pemungut cukai (Matius 9:9-12). Pada masa itu, pemungut cukai sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi dan dianggap sebagai pengkhianat bangsa serta pemeras rakyat. Namun, ketika Yesus mendatangi tempat Matius bekerja, Yesus tidak memandang stigma tersebut dan memanggilnya, "Ikutlah Aku." Matius dengan hati yang lemah lembut, tanpa banyak alasan, segera merespons panggilan tersebut dan mengikut Yesus.

Matius kemudian membuka rumahnya untuk perjamuan makan bersama Yesus, murid-murid, para pemungut cukai, dan orang-orang berdosa. Ketika orang Farisi mempertanyakan mengapa Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa, Ia menjawab: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa supaya bertobat." Yesus menerima semua orang tanpa memandang kelamnya masa lalu mereka, dengan harapan agar mereka bertobat.

Di masa-masa ini, mungkin ada yang merasa diri tidak layak, terlalu banyak dosa, atau sebaliknya menyimpan kepahitan karena dikecewakan. Firman Tuhan mengajak untuk melepaskan pengampunan. Memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang bersalah, sama seperti Kristus telah memberikan hati yang baru kepada kita. Janganlah menyimpan kepahitan, melainkan membiarkan hati ini terus dilembutkan oleh firman-Nya.

• Karakter Ketiga: Hidup Dalam Gaya Hidup Jemaat Mula-mula
Karakter dan gaya hidup ketiga ialah menerapkan pola hidup jemaat mula-mula yang tekun, sehati, dan saling mendukung dalam komunitas rohani.

Kisah Para Rasul 2:42, 46
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa ... Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.

Berdasar Kisah Para Rasul 2:42-46, jemaat mula-mula terbentuk setelah peristiwa Pentakosta (hari kelima puluh setelah kebangkitan Yesus). Saat 120 murid berkumpul, mereka menerima pencurahan Roh Kudus. Karakteristik utama jemaat ini adalah bertekun dalam pengajaran, sehati sepikir, selalu berkumpul memecahkan roti, memuji Tuhan, dan saling memperhatikan kebutuhan. Mereka memiliki "cinta mula-mula" yang membuat mereka haus akan kebenaran. 

Gaya hidup ini telah dicontohkan sendiri oleh Yesus. Selama pelayanan-Nya, hidup Yesus ibarat suratan yang terbuka. Para murid mengikuti-Nya ke manapun Ia pergi saat menginjil, membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit, dan berdoa. Keterbukaan ini diwariskan kepada murid-murid-Nya. Petrus, yang dipenuhi Roh Kudus, melanjutkan penginjilan sehingga banyak orang yang bertobat. Multiplikasi terjadi sangat cepat karena gaya hidup otentik ini.

Dalam konteks masa kini, gaya hidup jemaat mula-mula dapat diwujudkan dengan tertanam dalam wadah komunitas COOL (Community of Love). Setelah beribadah hari Minggu, umat kembali ke rutinitas pekerjaan. Sering kali, di tengah rutinitas harian itu, kita merasa lelah secara rohani dan butuh saling dikuatkan. COOL dapat hadir sebagai keluarga rohani, tempat saling terbuka, memuji dan menyembah Tuhan bersama, berbagi cerita (sharing), mendoakan, serta saling mengingatkan. Menjadi bagian dari COOL berarti menghidupi kesehatian jemaat mula-mula.

Gaya hidup jemaat mula-mula juga tercermin melalui kesetiaan mendukung rumah Tuhan dengan hati yang benar, seperti yang digambarkan lewat persembahan janda miskin (Lukas 21:1-4), ketika orang kaya memberikan persembahan dari kelimpahannya, janda ini memberikan seluruh hartanya yang terbatas. Walaupun nilainya kecil, Yesus memuji janda tersebut karena dia memberi dari kekurangannya dengan seluruh hartanya dan dengan sepenuh hati. Sikap hati seperti inilah yang mestinya dimiliki oleh umat saat mendukung rumah Tuhan, baik melalui doa maupun dana, demi perluasan Kerajaan Allah di era Pentakosta Ketiga dan melakukan Amanat Agung.

Waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sudah semakin dekat, semoga kita terus-menerus mau diproses serta belajar supaya semakin benar-benar memiliki karakter yang seperti Tuhan Yesus Kristus.

Take Home Messages:
• Tidak Menghakimi Orang Lain
Mengganti sikap menghakimi dengan kasih dan belas kasihan yang nyata.

• Tetap Memberi Kesempatan Bertobat
Membuka hati untuk pemulihan diri sendiri serta mengampuni dan memberi kesempatan kedua bagi orang lain.

• Tertanam dalam Komunitas Rohani
Hidup dalam pola jemaat mula-mula melalui komunitas COOL dan mendukung rumah Tuhan dengan tulus hati.

Tuhan Yesus Memberkati

No. Rekening Persembahan CK7

Mobile Apps

Semua kebutuhan ibadah GBI PRJ (CK7) dalam satu aplikasi — gratis untuk iOS dan Android.

  • Rangkuman KhotbahBaca ulang firman setiap ibadah
  • Renungan HarianDoa Fajar & renungan setiap pagi
  • Jadwal IbadahSemua cabang CK7 & event
  • PersembahanMemberi dengan mudah & aman
Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Beranda Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Khotbah Aplikasi GBI PRJ (CK7) — Alkitab Aplikasi GBI PRJ (CK7) — COOL