Setiap kita memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Dalam berbagai aspek kehidupan, kita menemukan hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan, misalnya dalam pekerjaan, kesehatan, dan lainnya.
Kekuatan adalah kemampuan untuk mengerahkan daya atau tenaga, baik secara fisik maupun mental. Kekuatan juga berarti ketahanan dan kemampuan untuk menahan serangan atau tekanan, serta kesanggupan untuk melakukan sesuatu dengan baik sampai berhasil.
Sebaliknya, kelemahan secara umum merupakan kurangnya kekuatan atau kualitas yang membuat seseorang menjadi lemah. Hal ini bisa berupa kurangnya kekuatan fisik maupun otot, kurangnya kekuatan moral atau karakter, dan kelemahan dalam suatu keterampilan atau kemampuan tertentu.
Kekuatan dan kelemahan adalah dua kata yang memiliki arti atau makna berbeda. Namun, di dalam Alkitab, kekuatan dan kelemahan ini unik sekali, sebab dalam kehidupan rohani tujuan dan hasilnya sama. Seperti halnya yang dinyatakan oleh rasul Paulus terkait kekuatan dan kelemahan.
Filipi 4 : 13
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
2 Korintus 12 : 9
Tetapi jawab Tuhan kepadaku : Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Jadi, menurut firman Tuhan, manakah yang lebih penting, apakah kekuatan atau kelemahan ? Kedua-duanya sama-sama penting.
Sesungguhnya bukan semata-mata tentang lemah atau kuat, tetapi Tuhan mau supaya kita jujur apa adanya di hadapan-Nya, mengandalkan Dia, dan tidak menyerah. Kita bersandar pada Tuhan agar saat kuat maupun lemah kita mendatangkan kemuliaan bagi Dia.
Apa yang bisa kita pelajari tentang kekuatan dan kelemahan dalam perjalanan dan pengalaman rohani kita ?
1. Jujurlah di hadapan Tuhan
Jangan merasa sok kuat dan mampu tanpa Tuhan. Jangan juga berpura-pura lemah atau merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan menjadikannya alasan untuk bermalas-malasan, padahal kita masih dapat melakukannya dengan baik. Lagipula, Tuhan tahu segala sesuatu, karena itu lebih baik kita jujur di hadapan-Nya.
Ibrani 4 : 13
Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.
Kita belajar dari seekor bebek. Ada yang namanya “duck syndrome“. Istilah yang menggambarkan kondisi seseorang yang tampak tenang dan bahagia di luar, tetapi sebenarnya sedang mengalami kesulitan, tekanan, atau perjuangan batin yang berat.
“Duck syndrome” seringkali terjadi ketika seseorang berusaha menjaga citra diri yang sempurna di hadapan orang lain, menutupi kesulitan ataupun kelemahan, dan menghindari menunjukkan rasa takut maupun kegagalannya. Hal ini dapat menyebabkan stres dan kecemasan.
2. Andalkanlah Tuhan.
Tuhan rindu supaya kita sungguh-sungguh mengandalkan Dia, dan tidak menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan. Bersama Tuhan kita menghadapi “Goliat” dalam kehidupan kita masing-masing.
Yeremia 17 : 7 - 8
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Janganlah pernah menyerah dalam kehidupan ini, melainkan senantiasa berserah kepada Tuhan, sambil mengerjakan bagian kita yang terbaik. Kiranya, tangan Tuhan yang kuat itu menolong dan menopang kita, serta mengangkat dan memulihkan kita ketika dalam keadaan lemah. Ia senantiasa menyertai, memelihara, menuntun, dan melindungi kita.
Mazmur 55 : 22
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.
Tuhan Yesus Memberkati