Iman sejati bukanlah tentang melihat, melainkan memegang janji Tuhan saat semua terlihat mustahil. Iman inilah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran, seperti yang dialami Abraham.
Kejadian 15 : 6 - 8
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Lagi firman TUHAN kepadanya : Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu. Kata Abram : Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya ?
Setiap orang percaya pernah mengalami momen “percaya penuh” kepada Tuhan, tetapi juga ada saat hati bertanya : Bagaimana aku tahu janji ini pasti terjadi ? Abraham menjadi teladan iman, tetapi juga teladan pergumulan iman yang jujur.
1. Iman yang merespon atas janji Tuhan
Kejadian 15 : 6a
Lalu percayalah Abram kepada Tuhan.
Percayalah artinya sungguh percaya, teguh dan menaruh “kepercayaan penuh” kepada Tuhan.
2. Iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran
Kejadian 15 : 6b
Maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
Memperhitungkan artinya Allah yang menyatakan atau mendeklarasikan. Kebenaran sama dengan keadilan, Status benar atau “dinyatakan benar “ artinya kita diberi anugerah oleh Allah.
3. Iman yang bertumbuh
Dalam Kejadian 15 : 7 - 8 Allah yang meneguhkan janji-Nya kepada Abram, “Akulah TUHAN yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim.”
Janji warisan tanah adalah perjanjian kasih karunia. Iman yang bergumul dari Abram ketika ia bertanya : Bagaimana aku tahu aku akan memilikinya ? Hal ini menunjukkan bahwa iman sejati tidak steril dari pergumulan.
Perenungan :
1. Mendengar janji-Nya di tengah kemustahilan yang kita hadapi.
2. Menerima status sebagai orang benar, bukan karena perbuatan kita, murni karena iman kepada Kristus.
3. Masuk dalam dialog yang jujur dengan Tuhan (intim), membawa semua pertanyaan dan kekhawatiran kita kepada-Nya.
Tuhan Yesus Memberkati