Di zaman yang keras seperti saat ini, sangat sulit untuk mencari dan menjadi orang-orang yang rendah hati. Sebab rendah hati terasa sebagai suatu kelemahan. Namun, murid Kristus mestinya mau belajar merendahkan hati.
Filipi 2 : 6 - 11
Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku : Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa !
Menyambung dari pelajaran minggu lalu, kita telah belajar 3 hal mengapa manusia sukar untuk merendahkan hatinya, yaitu :
• Mencari pujian sia-sia (ayat 3)
• Memperhatikan kepentingan sendiri (ayat 4)
• Menaruh pikiran dan perasaan dunia (ayat 5)
Selanjutnya, apa yang bisa kita pelajari serta lakukan agar rendah hati ?
1. Tidak Mempertahankan Hak (ayat 6)
Mengapa melepas hak begitu penting dalam hidup ini :
a. Akan membuat kita dijauhkan dari kekecewaan, kepahitan, serta kebencian sehingga tidak akan membalas dendam terhadap orang lain.
b. Karena mengizinkan serta memberi kesempatan kepada Tuhan untuk membela dan memunculkan hak kita pada waktunya.
Mazmur 37 : 6
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
2. Mengosongkan Diri (ayat 7)
Istilah 'mengosongkan diri' atau dalam versi KJV : 'made Himself of no reputation', kata Yunaninya adalah 'kenosis' dari akar kata 'kenoo' ('kenoun') yang berarti 'to make empty' (untuk mengosongkan), 'make of no reputation' (untuk tidak membuat atau mencari reputasi).
Kata 'mengosongkan diri-Nya' pada ayat 7 sama sekali bukan berkata bahwa Ia melepaskan sifat-sifat ilahi-Nya, melainkan ini berkaitan dengan konteks Dia mengambil rupa seorang hamba yang mau taat, berinkarnasi menjadi seperti manusia dengan segala keterbatasan, dan tidak memperhitungkan keuntungan atau kepentingan diri-Nya sendiri.
Kolose 3 : 1 (versi TSI)
Seperti yang saya katakan sebelumnya, secara rohani kita sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan menjadi manusia baru waktu Dia hidup kembali dari kematian dan naik ke surga. Oleh karena itu, marilah kita berpikir, Saya hanya merindukan surga, di mana Kristus Yesus duduk di sebelah kanan Allah !
3. Taat Sampai Mati (ayat 8)
Ketaatan akan membangun dasar yang kukuh dalam kehidupan serta memampukan kita untuk membangun karakter maupun nilai-nilai hidup yang baik di atasnya. Taat pada-Nya berarti mematuhi setiap perintah-Nya, serta menjauhi yang menjadi segala larangan-Nya.
Roma 4 : 18
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan : Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.
KESIMPULAN :
• Kesombongan merupakan "dosa yang tertua" di dunia. Setan, Adam, dan Hawa jatuh karenanya. Tuhan menentang orang-orang yang sombong atau congkak (Yakobus 4 : 6) karena kesombongan adalah semacam "deklarasi pemberontakan" kepada-Nya dan menjadi akar dari dosa-dosa yang lainnya.
• Kekristenan ialah "perjalanan hidup" dalam kerendahan hati, dan Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak mempertahankan hak, supaya kita dapat mengosongkan diri, serta taat sampai akhir hidup kita.
• Di Tahun Paradigma yang Baru ini, Tuhan merindukan kerendahan hati umat-Nya, sebab Ia juga rindu meninggikan setiap umat-Nya dengan cara-cara-Nya yang serba baru.
• Kiranya kerendahan hati Tuhan Yesus yang tampak dalam pengosongan diri serta ketaatan-Nya sampai di kayu salib menjadi kekuatan di hidup kita, orang-orang percaya, untuk menjalani hidup ini dengan penuh kerendahan hati.
Tuhan Yesus Memberkati