Kekhawatiran mirip ketakutan, tetapi rasa khawatir itu lebih mengancam meski lazim dan dapat dialami banyak orang. Siapa pun kita, pasti pernah merasakannya. Namun, jangan sampai menampung begitu banyak kekhawatiran setiap hari dalam hidup kita.
Matius 6 : 25 - 29
Karena itu Aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian ? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu ? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya ? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian ? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
Matius 6 : 30 - 34
Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya ? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata : Apakah yang akan kami makan ? Apakah yang akan kami minum ? Apakah yang akan kami pakai ? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Kekhawatiran akan menyebabkan :
1. Tidak memberikan jalan keluar (ayat 27). Kekhawatiran membutakan tujuan Tuhan dalam hidup kita, mengubahkan fokus kita dari Dia menjadi hanya pada diri sendiri, sebab seseorang yang khawatir akan menganggap segala sesuatu tidak penting, selain kekhawatirannya itu sendiri.
Kekhawatiran hanya akan membuat kita terkungkung, dan akhirnya tidak membuat hidup kita lebih baik, sebab kekhawatiran tidak mampu memberi jalan keluar atau menambah usia seseorang, melainkan menimbulkan stres, depresi, tekanan, serta berbagai macam penyakit.
2. Tidak memberikan kepuasan hidup (ayat 31).
Orang yang sukar bersyukur adalah orang yang sering khawatir dalam hidupnya. Orang yang hidupnya hanya dikuasai kekhawatiran adalah orang yang hidupnya tidak dikuasai oleh Tuhan. Ia hanya berpegang pada kekhawatirannya dan tidak lagi berpegang pada Tuhan. Sebab kekhawatiran itu berbalik daripada iman. Ubahlah fokus kita dari diri sendiri menjadi kepada-Nya.
1 Petrus 5 : 6 - 7
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
3. Tidak memberikan pertumbuhan iman (ayat 33 - 34).
Seseorang yang selalu khawatir, maka ia akan terus bekerja untuk sesuatu yang fana saja, yaitu harta benda di dunia ini. Ingat, di mana kekhawatiran bertambah, di situlah iman berkurang; di mana iman bertambah, di situ kekhawatiran akan berkurang.
Kesimpulan :
1. Kekhawatiran tidak pernah memberi jalan keluar ataupun solusi, malah menimbulkan rasa stres, depresi, sakit kejiwaan, hingga berniat mengakhiri diri sendiri.
2. Kekhawatiran tidak akan memberikan kepuasan hidup, sukacita, kedamaian, dan ucapan syukur, malah menimbulkan berbagai penyakit.
3. Kekhawatiran tidak memberikan pertumbuhan iman, membuat tidak mampu menghadapi kenyataan hidup, berfokus pada diri sendiri saja, dan takut menghadapi hari masa depan.
4. Kerajaan Allah bukanlah bicara tentang pemenuhan atau kecukupan bagi kebutuhan jasmani saja, tetapi kepenuhan terhadap perkara kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita.
5. Dalam tahun Paradigma yang Baru, Tuhan akan membuat terobosan dengan cara-cara-Nya yang baru pula bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Tuhan Yesus Memberkati