Hampir semua orang tahu cerita Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37). Cerita ini begitu terkenal sampai masuk ke dalam sistem hukum di negara Amerika Serikat yang dinamakan Good Samaritan Law.
Tujuannya, mendorong orang untuk menolong tanpa takut dituntut kalau menolong seseorang dan dalam prosesnya terjadi kesalahan, tidak bisa digugat. Beberapa negara bagian bahkan lebih jauh mewajibkan warganya menolong atau minimal menghubungi 911, kalau tidak, didenda. Tapi ini hanya di beberapa negara bagian, dan untuk sebagian besar negara bagian lain tidak ada kewajiban hukum apa pun.
Hukum bisa melindungi kamu kalau kamu memilih untuk menolong, tetapi hukum tidak bisa memaksamu untuk peduli. Dan di sinilah Yesus datang dengan sebuah cerita, bukan tentang kewajiban hukum, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada itu.
Lukas 10 : 25 - 37
Orang Samaria yang murah hati Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jawab Yesus kepadanya: Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana? Jawab orang itu: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kata Yesus kepadanya: Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: Dan siapakah sesamaku manusia? Jawab Yesus: Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? Jawab orang itu: Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Kata Yesus kepadanya: Pergilah, dan perbuatlah demikian!
Firman Tuhan hari ini berbicara tentang apa yang Yesus katakan tentang kasih:
• Love is Proven, Not Just Proclaimed (Kasih itu dibuktikan, bukan hanya diucapkan).
Ahli Taurat bukan orang jahat, mereka bukan orang yang tidak kenal Tuhan. Justru sebaliknya, mereka adalah orang yang paling tahu firman Tuhan di zamannya. Karakter ahli Taurat: Hafal seluruh Taurat; hidupnya dibangun di atas hukum Allah tetapi dia datang untuk mencobai Yesus, bukan untuk belajar, namun untuk menjebak. Ketika Yesus membalik pertanyaan, dia menjawab sempurna, tetapi untuk membenarkan dirinya sendiri dia bertanya, Siapakah sesamaku manusia? Bukan karena tidak tahu, tetapi ingin mempersempit seberapa sedikit yang bisa dia lakukan dan tetap dianggap benar?
Imam di zaman Yesus dibagi dalam 24 regu imam, sistem yang ditetapkan sejak zaman Daud (1 Tawarikh 24). Setiap regu bertugas di Bait Allah selama satu minggu, dua kali setahun. Di luar jadwal itu, mereka kembali ke kota asal masing-masing.
Menyentuh orang mati = najis. Bayangkan kalau kita jadi imam itu? Bayangkan, cuma punya dua kali kesempatan per tahun untuk ke gereja dan orang-orang ingin datang untuk mendengar pengkhotbah favorit, didoakan, dilayani, dan lain-lain.
Orang Lewi datang ke tempat itu. Sementara Imam melihat dari jauh, langsung menyeberang. Orang Lewi datang lebih dekat, melihat, tetap menyeberang. Lewi bahkan lebih tidak bisa berdalih, sebab dia sudah melihat dari dekat.
Seolah-olah mereka sedang mengaktifkan mode Do Not Disturb (Jangan ganggu aku. Aku sedang sibuk. Aku sedang menjalani hidupku sendiri. Kamu bukan bagian dari rencanaku hari ini)
C. S. Lewis pernah berkata, "Yang terpenting, jika kita bisa, adalah berhenti memandang semua hal yang tidak menyenangkan sebagai gangguan dari kehidupan kita yang 'sesungguhnya.' Sebab kenyataannya, apa yang kita sebut sebagai gangguan -- itulah justru kehidupan nyata kita -- kehidupan yang Tuhan kirimkan hari demi hari. Sedangkan apa yang kita anggap sebagai 'kehidupan nyata' kita -- tidak lebih dari bayangan yang kita ciptakan sendiri dalam imajinasi kita."
Imam tadi punya agenda hari itu. Orang Lewi juga punya rencana. Ada tempat yang harus mereka tuju. Ada hal-hal penting yang harus diselesaikan. Dan orang terluka di pinggir jalan itu? Dia adalah interupsi yang tidak ada di jadwal mereka. Tetapi justru interupsi itulah yang Tuhan kirim.
Bagaimana dengan kita? Kita semua punya tujuan, tetapi sering terinterupsi. Pertanyaannya bukan: Apakah kita akan diinterupsi hari ini? Pertanyaannya adalah: Apa yang akan kita lakukan ketika interupsi itu datang? Karena kasih yang sejati tidak menunggu momen yang nyaman. Kasih yang sejati bergerak, bahkan ketika tidak ada dalam jadwal.
Dalam Tahun Amanat Agung ini, pastikan hidup kita harus selalu siap diinterupsi untuk menolong orang lain.
• Love Breaks Barriers (Kasih menembus setiap batasan).
Kita perlu memahami konteks yang sering kita lewatkan. Siapa orang Samaria itu? Mengapa kehadirannya dalam cerita ini begitu mengejutkan, bahkan provokatif?
Ini bukan sekadar dua kelompok yang tidak saling suka. Pada abad ke-8 SM, kerajaan Israel pecah, wilayah utara ditaklukkan Asyur. Terjadi percampuran ras, budaya, agama. Di mata Yahudi: pengkhianat darah dan iman. Orang Samaria membangun Bait Allah tandingan di Gunung Gerizim. Bagi Yahudi hal itu adalah penghinaan tertinggi. Kebencian ini bukan prasangka sosial biasa, ini luka sejarah ratusan tahun.
Yesus menjadikan orang Samaria sebagai pahlawan atau provokasi yang disengaja. Dalam konteks Indonesia hari ini, setara dengan musuh bebuyutan yang justru paling mencerminkan kasih Allah.
Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ini respons dari dalam, bukan dari kewajiban. Dia tidak bertanya dulu: siapa orang ini? Agamanya apa? Sukunya apa? Dia melihat, dan bergerak.
Pertanyaan penting bagi kita hari ini dalam hal mengasihi: Siapa yang diam-diam sudah kamu singkirkan karena status ekonominya? Orang Samaria tidak bertanya dulu berapa penghasilan orang yang terluka itu.
Di Jakarta kita hidup berdampingan dengan puluhan etnis setiap hari. Injil tidak mengenal SARA (suku, agama, ras, antar-golongan). Kalau kasihmu hanya mengalir kepada orang yang sepertimu, maka itu bukan kasih seperti Injil.
Kita hidup di era personality test ada di mana-mana, seperti MBTI, Enneagram, DISC, dan lain-lain, dan semua itu bukan hal yang buruk. Mengenal diri sendiri adalah sesuatu yang baik dan penting. Tetapi ada sesuatu yang mulai terjadi yang perlu kita perhatikan bersama. Personality type yang seharusnya menjadi alat untuk kita lebih baik terhubung dengan orang lain, malah mulai dipakai sebagai alasan untuk tidak terhubung.
Orang Samaria dalam cerita ini mungkin juga introvert. Mungkin dia juga lelah setelah perjalanan panjang. Mungkin dia punya agenda hari itu yang harus diselesaikan. Mungkin menolong orang yang terluka dan najis itu sangat menguras energinya. Tetapi firman Tuhan berkata: Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Dan dia bergerak.
Di Tahun Amanat Agung ini, biar jiwa-jiwa dimenangkan karena ada kita sebagai orang-orang yang hidupnya mau diinterupsi dan dalam kehidupan kita tidak ada batasan dalam mengasihi orang lain.
Tuhan Yesus Memberkati
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



