Dalam Lukas 15, ada tiga perumpamaan tentang kehilangan. Secara khusus dalam ayat 8 – 10 menggambarkan seorang perempuan kehilangan dirham di rumahnya (kehilangan komunikasi di dalam rumah, ditengah keluarga)
Lukas 15:8
Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
Tiga kehilangan dalam Injil Lukas
1. Domba yang hilang di padang gurun (Lukas 15:1-7).
Tersesat di alam terbuka karena ketidaktahuan atau kelemahan. Gembala melangkah keluar mencari hingga menemukannya.
2. Dirham yang hilang di dalam rumah (Lukas 15:8-10)
Tidak melangkah keluar, namun tertutup debu rutinitas dan terabaikan dalam kesibukan domestik sehari-hari.
3. Anak bungsu yang hilang di negeri yang jauh (Lukas 15:11-32)
Hilang karena kehendak bebas dan pemberontakan diri. Sang bapa menanti di pintu dengan kasih yang tak bersyarat.
Paradoks koin yang hilang.
Tercecer dibalik pintu, dirham tidak memiliki kaki untuk berjalan keluar. Ia hilang di dalam rumah—mungkin terselip di sudut gelap atau tertimbun debu perabotan.
Tragedi terbesar sering terjadi ketika anggota keluarga berada di meja makan yang sama, namun jiwa dan hatinya telah lama terasing.
Kita akan belajar dari seorang perempuan yang menemukan dirham yang terhilang di dalam rumahnya.
1. Menyadari nilainya yang berharga.
Sepersepuluh (1/10) satu keping yang begitu berharga. Nilainya sekeping dirham adalah satu hari upah kerja. Kehilangan ini merupakan kerugian besar.
Sensitivitas kasih seorang ibu.
Satu dirham setara upah satu hari kerja. Bagi wanita itu, sembilan keping yang tersisa tidak menjadikannya acuh terhadap satu yang tercecer. Ibarat seorang ibu yang kehilangan anak yang membutuhkan perhatiannya. Perlu kepekaan terhadap anak-anak yang membutuhkan kehadiran seorang ibu, maupun kebutuhan suami akan istrinya di rumah.
Aplikasi pribadi: Mintalah kepekaan dari Roh Kudus. Sadari tanda-tanda ketika anak atau suami mulai tertutup dan hampa secara rohani, sebelum jarak hati tersebut kian melebar.
2. Nyalakan pelita terang.
Langkah pertama untuk sebuah pemulihan, yaitu menyalakan terang.
Rumah zaman Alkitab gelap tanpa jendela besar. Menemukan kembali yang hilang mustahil dilakukan dalam kegelapan tuduhan atau amarah. Atasi kegelapan para perempuan, misal kepahitan dengan menyalakan terang dengan doa dan mengucap syukur.
Pelita firman dan doa syafaat.
Ganti atmosfer rumah, dari keluhan menjadi pujian. Bangun mezbah doa yang mengusir kebekuan relasi keluarga.
Pelita keteladanan pribadi.
Jadilah pembawa keteduhan yang menyingkapkan kesalahpahaman tanpa mempermalukan martabat pasangan atau anak.
3. Menyapu dengan cermat.
- Membersihkan debu ganjalan.
Ia mengambil sapu dan membersihkan setiap sudut. Pemulihan menuntut tindakan aktif dan ketekunan.
- Bersihkan debu penghalang komunikasi.
Ego yang ingin selalu benar, nada bicara sinis, kepahitan masa lalu, dan sikap defensif yang melukai.
Apa debu-debu yang menghalangi hubungan dengan pasangan, anak-anak? Yaitu ego. Untuk itu kita harus rendah hati untuk membuka hati dan menyediakan waktu yang luas bagi pasangan dan anak-anak.
- Membangun ruang yang aman.
Mencari dengan cermat berarti menyediakan waktu berkualitas yang disengaja (intentional effort). Ciptakan ‘safe space’ di meja makan agar keluarga berani mengutarakan isi hatinya secara jujur tanpa takut dihakimi atau dikuliahi seketika.
4. Bersukacita bersama
Merestorasi komunikasi. Ketika dirham ditemukan, ia memanggil sahabat dan tetangganya untuk bersukacita bersama. Pemulihan rumah menghasilkan sukacita yang meluap. Keluarga yang dipulihkan Tuhan akan menjadi mercusuar kasih yang menguatkan sesama dan bersaksi bagi lingkungan sekitar.
Refleksi bagi wanita:
• Kepekaan relasi: Apakah ada anggota keluarga di bawah atap kita yang secara fisik hadir namun jiwanya mulai terasing (dirham yang terhilang)?
• Atmosfer rumah: Apakah rumah kita dipenuhi keluhan ataukah diterangi pelita doa syafaat dan kehangatan firman?
• Pemberesan debu: Adakah ego, luka lama, atau nada bicara kasar yang perlu kita sapu bersih hari ini?
• Ketekunan kasih: Bersediakah kita mencari dengan sabar dan tidak menyerah sampai damai Kristus pulih seutuhnya?
Refleksi Doa:
Menjangkau di ruang terdekat
Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." — Lukas 15:10
Mari, mulai menyalakan pelita kasih di rumah kita hari ini.
Tuhan Yesus Memberkati.