📌 Ringkasan sebelumnya : Kisah Para Rasul 7
Seorang tertuduh sudah sepatutnya mendapatkan hak untuk melakukan pembelaan diri, baik secara pribadi maupun oleh tim pembela. Tujuannya adalah agar hakim dapat secara objektif dan adil dalam pengambilan keputusan. Karena itu, pembelaan atau kesaksian yang meringankan sangat diperlukan. Terlebih lagi terhadap suatu tuduhan yang tidak pernah terbukti dilakukan oleh seseorang.
Menarik disimak, dalam sidang pengadilan agama, Stefanus memilih tidak membela diri, melainkan bersaksi tentang karya keselamatan Allah kepada bangsa Israel melalui Yesus Kristus. Dalam kesaksian Stefanus, ia mengawali argumennya dari panggilan Allah kepada Abraham untuk keluar dari negerinya menuju tanah pusaka yang dijanjikan Allah untuknya dan keturunannya. Melalui Ishak, lahirlah Yakub dan kedua belas suku Israel. Untuk kelangsungan hidup bangsa Israel di Mesir, Allah memakai Yusuf untuk memelihara umat-Nya. ketika umat Allah mengalami penindasan yang dilakukan bangsa Mesir, Allah memanggil Musa untuk membebaskan umat-Nya. Selama empat puluh tahun di padang gurun, orang Israel dipersiapkan Allah untuk menjadi bangsa yang kudus. Dengan berbagai tanda mukjizat dan Taurat-Nya, Tuhan memastikan ketaatan bangsa Israel. Karena kekerasan hati dan tegar tengkuk orang Israel, mereka berkali-kali melawan Tuhan dengan menyembah para dewa asing, yaitu Molokh, bintang dewa Refan, dan patung Baal. Kemurahan dan kasih sayang Allah dibalas oleh bangsa Israel dengan air tuba. Kenyataannya, kesetiaan Allah atas perjanjian-Nya tidak pernah pudar. Melalui Yosua, Daud, dan para nabi-Nya, Tuhan memastikan datangnya Orang Benar, yaitu Yesus yang telah mereka bunuh. Inilah pembelaan sekaligus kesaksian iman Stefanus.
📖 Pengantar Kisah Para Rasul 8
Kitab Kisah Para Rasul dapat pula kita sebut Kisah Karya Roh Kudus sebab pemeran utama kisah dalam kitab ini sebenarnya adalah Roh Kudus, bukan para rasul. Roh Kudus memakai para rasul untuk melaksanakan pekerjaan-Nya dan bukan sebaliknya. Para rasul tidak memakai Roh Kudus untuk mencapai tujuannya. Sangat disayangkan karena Simon, salah seorang petobat baru di Samaria, tidak memahami hal ini. Ia mengira, ia bisa membeli karunia Roh Kudus agar ia pun dapat melakukan mukjizat seperti para rasul. Simon sangat keliru!