<< back

Seni Merangkai Hidup Agar Tidak Depresi

25 Agustus 2018 ada peristiwa seorang pendeta muda di Amerika, Andrew Stoecklein, yang meninggal bunuh diri. Ia melakukannya karena depresi serta kecemasan.

Depresi dapat mewabah secara luar biasa. Begitu sulitnya serta kompleksnya hidup ini, dengan berbagai fenomena yang ada, dapat saja mengimpit kita, & kita tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Jadi, kita harus hati-hati. Kejadian Andrew Stoecklein, ataupun kesalahan manusia, itu bisa menjadi big warning (peringatan besar) dari Tuhan bagi kita.

Depresi tidak mengenal status ataupun batas usia. Muda maupun tua, gelar pendidikan tinggi atau profesi pekerjaan apa pun, dan lain-lain. Dapat menimpa siapa saja. Jika kita tidak hati-hati, itu bisa saja menimpa kita. Lihatlah segala sesuatunya secara proporsional. 

Stres berbeda dengan depresi. Masalah sedikit memang bisa membuat stres. Tetapi, depresi membutuhkan waktu untuk mencapai puncaknya, paling sedikit dua tahun. Orang yang stres masih bisa rem, tetapi orang yang depresi tidak bisa menguasai diri lagi alias blong. Sudah seperti bukan dirinya sendiri lagi, tidak punya kendali. Ujung depresi adalah bunuh diri.

Apa kata Alkitab soal depresi? Apa sumbernya? Sumber depresi adalah kekhawatiran & kecemasan! Banyak orang mengalaminya. Siapa yang tidak khawatir? Yesus tahu bahwa manusia bisa takut ataupun khawatir. Maka Yesus memberi resep supaya tidak khawatir di Matius 6:25-34. "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Mat. 6:34).

Kekhawatiran memang masih saja punya sisi positif, misalnya kalau tidak belajar, khawatir tidak naik kelas. Tetapi, jangan memborong semua kekhawatiran hidup. Juga jangan pura-pura tidak khawatir, dan berkesan mengandalkan iman. Jujurlah pada diri sendiri. Biasanya, kekhawatiran datang saat ada masalah, & masalah bisa datang kapan saja. Apa pun bisa membuat kita khawatir. Tetapi, jangan sampai kekhawatiran itu menjadi-jadi. Apa yang harus kita lakukan? Jangan cari penyakit sendiri dengan memikirkan yang tidak-tidak. Hari esok masih misteri. Apakah kekhawatiran membuatmu menyelesaikan masalah? Tidak! "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Mat. 6:27).

Jika kita tidak bisa menerima kenyataan hidup, maka akan ibarat api ketemu bensin. Lihatlah hidup kita masing-masing. Dari dulu sampai detik ini, apakah ada yang masih kita tidak terima & menjadi akar kepahitan? Selesaikanlah itu. Sebab apa pun yang sudah terjadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bisalah terima fakta kenyataan hidup, sebagaimana pun pahitnya. Berdoalah kepada Tuhan, “Tuhan, berikanku kekuatan untuk menerima apa yang tidak bisa aku ubah. Tuhan, beri aku keberanian untuk mengubah apa yang masih bisa aku ubah. Dan Tuhan, beri aku hikmat untuk membedakan mana yang tidak mungkin bisa aku ubah, serta mana yang masih bisa aku ubah.” Realitas atau kenyataan hidup kita adalah bagian hidup kita. Terimalah. Itu sejarah hidup kita. Tidak apa-apa. Ambil makna rohani atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Belajarlah menerima bagian hidup. Itulah seni merangkai hidup agar tidak menjadi depresi dan lebih tegar. 

Berdoalah meminta pertolongan Tuhan. Belajarlah bergantung dan bersandar pada Tuhan setiap hari, apa pun yang terjadi. Ia memang tidak menjanjikan hidup itu mudah atau bahwa akan selalu ada pelangi sehabis hujan, tetapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya yang sempurna. Kebesaran dan penyertaan-Nya membuatmu kuat!

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"