MENANG ATAS RASA KUATIR
Pdt. Agus Lutan
Kebaktian III – Pk. 11.15 WIB – 29 Agustus 2010
Yohanes 10:10 “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.
Hidup ini adalah berkat dan hadiah Tuhan. Kalau kita bisa hidup sampai hari ini semua karena Tuhan. Dalam ayat diatas, hidup yang seperti apakah yang Dia maksudkan? Tuhan bermaksud adalah hidup yang berkualitas dan hidup berbahagia. Namun, faktanya banyak orang yang jauh dari kebahagiaan. Kenapa? Karena ada pencuri.
Yang mencuri kebahagiaan kita adalah:
1. Kekuatiran.
Dalam bhs. Yunani, “kekuatiran” artinya “dicekik, ditindas”. Ada 7 penyakit yang muncul saat seseorang kuatir, misalnya penyakit jantung, kanker, lambung dll. Kekuatiran tidak memperpanjang umur kita. Bahkan menimbulkan penyakit, bukan hanya secara fisik, namun emosi kita juga terganggu, bisa tiba-tiba marah dan sedih. Dan secara rohani, kekuatiran adalah dosa, tanda orang yang tidak mengenal Allah Bapa di Surga.
Bagaimana agar kita dapat terlepas dari kekuatiran??. Baca Yes. 26:3, “Yang hatinya teguh Kaujagai
dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya”.
Kita bisa berbahagia kalau mata kita tertuju kepada Tuhan. Pikiran kita sangat mempengaruhi bagaimana
kondisi keadaan suasana hati kita, apakah kita akan sukacita atau sedih. Oleh sebab itu fokus pikiran kita jangan kepada masalah kita saja, tetapi arahkanlah pikiran kita kepada Tuhan dan firman-Nya, maka kita akan terbebas dari kekuatiran.
2. Keserakahan.
Orang yang serakah tidak akan pernah bersukacita dan menikmati hidupnya. Serakah adalah suatu keinginan kuat yang tidak terkontrol untuk bisa lebih lagi. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki dan mencapai hal-hal yang lebih besar dan lebih tinggi lagi, namun masalahnya adalah jangan sampai keinginan itu menjadi tidak terkendali.
Ibrani 13:5, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Kalimat “menjadi hamba uang”, merupakan suatu keinginan yang tidak terkontrol. Jangan biarkan hidup kita dikendalikan oleh uang. Kalau kita menjadikan uang sebagai hamba, maka dia akan menjadi hamba yang baik, namun sebaliknya kalau menjadi tuan, uang akan menjadi tuan yang jahat.
Suatu survei oleh DR. Larry Bucket, 87% pasangan suami isteri di AS bercerai karena masalah uang. Banyak keluarga, pelayanan yang hancur karena rasa cinta akan uang.
Mengapa sampai timbul “uncontrol desire”, keinginan yang tidak terkontrol? Itu timbul karena suka membandingkan diri kita dengan orang lain, akibatnya akan muncul kompetisi, tidak mau kalah dari orang lain. “Kalau saya punya barang, rumah, uang, seperti milik orang lain, maka saya akan bahagia”. Ketahuilah bahwa kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki.
“Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu”. Hanya orang yang puas dan merasa cukup akan menjadi orang yang berbahagia.
Dalam hal keuangan, sebagai orang Kristen kewajiban kita adalah perpuluhan untuk Tuhan, yang kedua adalah kebutuhan dan yang ketiga adalah keinginan. Namun, seringkali kita sulit membedakan apakah kebutuhan dan keinginan itu, dan inilah yang akan menentukan keadaan hidup kita.
Sebenarnya hidup ini sederhana, namun banyak orang yang hidupnya menjadi kompleks dan rumit, karena dia membiarkan keinginannya menjadi lebih besar sehingga tidak terkendali lagi.
Dalam memberi ada hal yang harus kita perhatikan:
a. Memberi adalah persentase, bukan jumlah. Seperti perpuluhan, 10%.
Mungkin selama ini kita sudah setia memberikan perpuluhan (10%) kepada Tuhan. Namun kalau kita hendak mengalami terobosan yang besar dalam keuangan, maka berikanlah kepada Tuhan lebih besar dari 10% itu.
b. Memberi itu harus progressif, harus meningkat, harus semakin besar. Semakin besar kita memberi kepada Tuhan dan kepada banyak orang, maka semakin besar juga yang akan kita tuai.
Hanya ketika merasa cukup kita akan dapat bahagia, puas, dan mengucap syukur kepada Tuhan.
3. Rasa bersalah.
Ada 2 rasa bersalah, yaitu:
a. Dari Roh Kudus. Berupa hati nurani yang akan mengingatkan dan menolong kita agar bertobat dari dosa dan kesalahan. Ini berupa peringatan dari Tuhan.
b. Dari iblis, berupa rasa bersalah yang menekan dan mengintimidasi terus menerus. Mengungkit dosa-dosa masa lalu, meskipun kita sudah minta ampun dan bertobat.
Tetapi, Tuhan tidak pernah mengingat-ingat dosa kita. Ketika kita membereskan semua dosa dihadapan Tuhan, maka Tuhan akan mengampuni dan melupakannya. Tidak ada penghukuman bagi orang yang bertobat, Roma 8:1,2.
1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu”. Serahkanlah, “to throw away with force”, membuang dan mencabut dengan paksa segala kekuatiran itu.