Pdt. Agus Lutan Kebaktian II – Pkl. 09.00 WIB – 29 Agustus 2010

MENGATASI RASA CINTA UANG
Pdt. Agus Lutan
Kebaktian II – Pk. 09.00 WIB – 29 Agustus 2010

 

Akar dari semua masalah adalah cinta akan uang. DR. Larry Bucket berkata bahwa 87% pasangan suami-isteri di AS bercerai karena uang. Banyak keluarga, sahabat, dan pelayanan hancur karena cinta akan uang. Manusia menjadi materialistis saat ini, dan menganggap bahwa uang adalah segala-galanya. Namun, ketahuilah bahwa uang bukan segala-galanya. Kalau uang menjadi tuan, maka dia akan menjadi tuan yang jahat dan kalau uang menjadi hamba, dia akan menjadi hamba yang baik.

Caranya menangkal cinta akan uang adalah:
1.    Belajar hidup cukup. Containment
1 Timotius 6:6,7, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar”.
Uang itu hanya alat dan bersifat sementara. Hidup itu sederhana, namun manusia yang membuatnya menjadi kompleks. Nilai hidup itu tidak tergantung dengan apa yang kita pakai atau gunakan. Nilai hidup kita adalah siapa saya.
Mengapa orang tidak merasa puas? Karena kita selalu membandingkan dengan orang lain. Akibatnya kita akan berkompetisi. Banyak orang berpikir kalau punya barang yang bagus, rumah yang besar dan pakaian yang mahal, mereka akan bahagia. Padahal ini tidak benar. Sebagai orang percaya, kewajiban kita adalah perpuluhan, selebihnya adalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup kita.
Masalah manusia adalah dia tidak dapat memuaskan keinginannya. Ingin sesuatu yang lebih, tidak merasa puas. Sebab itu kita harus belajar mengendalikan keinginan kita dan belajar merasa puas dengan berkat Tuhan.
Sebab kalau kita selalu mengejar keinginan, maka kita akan cenderung kehilangan fokus. Kalau kita mengejar barang-barang dan kenikmatan dunia ini, maka perhatian kita akan beralih dari Tuhan.
       PUAS ADALAH KETIKA KITA BISA BERSYUKUR DENGAN APA YANG ADA PADA KITA.
2.    Berkat untuk dinikmati. Enjoyment.
Masalah manusia pada umumnya adalah keinginan untuk menjadi kaya, dan ini salah. Namun, ketahuilah bahwa sebagai orang percaya kita adalah orang kaya. Dalam 2 Korintus 8:9, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya”.
1 Timotius 6:17 “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”
Kalau Tuhan memberkati kita janganlah menjadi sombong. Jangan mengandalkan uang dan harta. Sebab uang dan harta kekayaan bisa lenyap dan hancur setiap waktu tanpa diduga.  
Tuhan memberikan berkat bagi kita tujuan-Nya bukan untuk menghancurkan kita, tetapi supaya kita semakin cinta akan Tuhan dan semakin menyadari bahwa semua yang kita miliki ini adalah pemberian Tuhan. Sebab itu, jangan membiarkan berkat yang kita miliki itu membuat kita semakin duniawi.
Berkat itu datangnya dari Tuhan untuk dinikmati supaya kita bersyukur kepada Tuhan.
3.    Suka memberi. Investment.
1 Timotius 6:18 “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi”.
Menjadi orang yang suka memberi. Apa pun yang kita investasikan akan kita tuai, “hukum tabur tuai”.
Dalam memberi ada hal yang harus kita perhatikan:
a. Memberi adalah persentase, bukan jumlah. Seperti perpuluhan, 10%.
Mungkin selama ini kita sudah setia memberikan perpuluhan (10%) kepada Tuhan. Namun kalau kita hendak mengalami terobosan yang besar dalam keuangan, maka berikanlah kepada Tuhan lebih besar dari 10% itu.
b. Memberi itu harus progressif, harus meningkat, harus semakin besar. Semakin besar kita memberi kepada  Tuhan dan kepada banyak orang, maka semakin besar juga yang akan kita tuai.

“Jangan mencinta uang, sebab uang bukanlah harta yang sesungguhnya. Harta yang sesungguhnya adalah mengasihi Tuhan dan jiwa-jiwa”.