Pdt. Johan Lumoindong - Kebaktian III – Pk. 11.15 WIB – 18 Juli 2010

MENGUBAH KUTUK MENJADI BERKAT
Pdt. Johan Lumoindong
Kebaktian III – Pk. 11.15 WIB – 18 Juli 2010

Matius 15:26-28, “Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh”.
Nada perkataan Yesus di ayat 26 sepertinya sangat “kasar” dan menyakitkan, namun tiba-tiba di ayat 28 perkataan Yesus sangat berbeda. Kata-kata perempuan ini selalu manis, meskipun nada perkataan Yesus menyakitkan seperti itu. Hal inilah yang mengejutkan hati Tuhan Yesus. Perempuan ini bisa mengubah keadaannya, bisa mengubah anaknya yang sakit menjadi sembuh. Dengan melibatkan Kristus, perempuan ini bisa mengubah kutuk menjadi berkat. Bukan hanya itu, bahkan perempuan ini mendapatkan pujian dari Tuhan Yesus: "Hai ibu, besar imanmu.... Nama wanita ini tidak dikenal dan tidak disebutkan, artinya kita semua, siapa pun kita, dapat menjadi seperti si wanita ini. Kita mampu mengubah kutuk menjadi berkat, mengubah sakit menjadi kesembuhan, mengubah kerugian menjadi keuntungan.
Matius 15:21, “Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon”. Terkadang kita berada di tempat atau situasi yang tidak mengenakkan atau pun sulit. Tempat yang tidak kita sukai. Seperti Yesus diatas yang pergi menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon, daerah yang penuh dengan penyembahan berhala. Daerah yang tidak tepat untuk berdiam diri. Namun Yesus tetap pergi ke daerah ini, sebab Dia tahu pasti ada rencana Bapa di Surga di tempat ini bagi Dia.
Lihat Matius 15:22, “Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Ternyata di daerah itu, Yesus bertemu dengan seorang perempuan kanaan, yang menderita dan membutuhkan pertolongan. Jadi, di tempat yang tidak enak, di tempat yang tidak terduga, dan situasi yang tidak menyenangkan itu, Yesus menjadi berkat bagi perempuan Kanaan itu. Jadi, kalau saat ini kita berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, situasi yang diluar kehendak kita, kita harus tetap setia dan tetap bertahan. Sebab dibalik masalah dan situasi yang tidak enak itu,  kita bisa melihat tangan Tuhan yang hendak menyatakan kemuliaan-Nya.
        

Mengapa perempuan ini mampu mengubah kutuk menjadi berkat ?

Kuncinya  adalah:

1.    Proses identifikasi diri
Perempuan ini mengerti tentang Tuhan. Dia sudah pernah mendengar tentang siapa Yesus ini, sudah pernah mendengar mujizat dan tanda heran yang dilakukan-Nya. Perempuan ini tahu bahwa Yesus ini adalah seorang yang diutus Tuhan. Inilah yang membuat dia mau dan berani menemui Yesus. Sebab itu, marilah kita menjadi seorang Kristen yang mengenal dan percaya kepada Tuhan. Menjadi orang Kristen yang memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian yang baik. Sehingga ketika berada di dalam situasi dan tugas apa pun, kita tetap mampu bertahan dan mampu menang.

2.   Kemampuan untuk menguasai diri (Kedewasaan emosi)
Matius 15: 23, “Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.”
Meskipun perempuan ini sudah mendengar tentang Tuhan, namun itu belum cukup. Ada penolakan yang dia terima dari murid-murid Yesus sendiri. Bahkan Tuhan Yesus juga menolak perempuan ini, dalam Matius 15:24, “Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Perempuan ini mendapatkan penolakan, namun dia tidak berhenti di situ dan mundur. Perempuan itu tetap bertahan, Matius 15:25, “Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Kalau belum diberkati, belum dipromosikan, belum mendapatkan keuntungan dari setiap usaha, janganlah menyerah, janganlah pahit hati, namun tetap menguasai diri dan tetap berpengharapan. Seperti perempuan ini, dia tidak menyerah, namun tetap meminta pertolongan dari Tuhan. Matius 15:26, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tuhan menyediakan “berkat yang utama” bagi kita, anak-anak-Nya, bukan “remah-remah”.

3.    Kedewasaan rohani.
Matius 15:27 “Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."  Apapun berkat yang diberikan Tuhan, perempuan ini tidak pernah menolaknya, dia menerimanya dengan syukur. Sebab itu, apapun keadaan kita saat ini, baik atau tidak baik, kita tetap setia kepada Tuhan. Mungkin berkat yang kita miliki bukan berkat “yang besar”, namun kalau kita tetap menerimanya dengan ucapan syukur, itu berarti kita sudah memiliki iman dan kerohanian yang semakin dewasa.