Pdt. Anthony Chang Ibadah KTM – 7 Juli 2010

                                          LEPAS DARI JERAT PENJARA MASA LALU
                                                              Pdt. Anthony Chang
                                                            Ibadah KTM – 7 Juli 2010

Ayat Bacaan:
aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku." Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedija, oleh karena TUHAN”. II Samuel 12:1-25, “TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu." Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan." Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan." Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: "Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!" Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: "Sudah matikah anak itu?" Jawab mereka: "Sudah." Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!" Jawabnya: "Selagi anak itu hidup,

Kejatuhan Daud dalam dosa bukan tanpa sebab tetapi hal ini diawali dalam II Samuel 11:1-27, dimana Daud tertarik melihat  Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het dan mengambilnya menjadi istrinya dengan cara yang salah, yaitu mengutus Uria, suami Batsyeba ini, pergi ke medan perang dan menempatkannya ditempat berbahaya berhadapan dengan musuh, agar musuh dapat dengan mudah membunuhnya, sehingga kalau Uria ini mati, maka Daud dapat dengan leluasa mengambil Batsyeba menjadi istrinya.
    Dewasa ini manusia tak ada ubahnya dengan apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes sebagai “homo homini lupus” artinya “manusia menjadi serigala bagi sesamanya”. Moral manusia sudah terdegradasi sehingga hanya mementingkan diri sendiri dan memakai jabatan, kekuatan dan apa pun yang dimilikinya untuk memperoleh apa yang dinginkannya tanpa memperdulikan orang lain.
    Ketika kita berbuat sesuatu kesalahan, maka Tuhan menegor kita dengan 3 cara yaitu:
a.    insting (hati nurani).
Artinya jika kita mencuri atau berbuat kesalahan, maka pastilah hati nurani (insting) kita merasa tidak enak dan tidak merasa tenang saat melakukannya atau pun setelah melakukannya.

b.    intelek (pikiran)
Kalau kita mengabaikan hati nurani biasanya Tuhan memakai pikiran kita. Kita pasti merasa terganggu karena mengetahui bahwa hal itu tidak benar dan tidak berkenan di hati Tuhan.

c.    intuisi.
Kemudian setelah kita mengabaikan kedua hal diatas itu, biasanya barulah Tuhan akan menegor kita lewat firman Tuhan atau orang lain (teman, saudara, hamba Tuhan dsb).

Dalam II Samuel 12:1-25 diatas diceritakan bagaimana Daud menyesali perbuatannya karena telah berdosa, dan Tuhan mengampuni dosa-dosa Daud itu (II Samuel 12:13). Tetapi akibat dan konsekuensi dari perbuatannya tetap ia jalani. Anak yang lahir dari hasil perselingkuhan itu tetap harus mati meskipun Daud telah berdoa dan berpuasa untuk keselamatan anak itu (II Samuel 12:14).
    Sama halnya ketika kita mencuri atau bersalah dan tertangkap oleh polisi, kita bisa diampuni dosanya oleh Tuhan, tetapi hukuman harus tetap kita jalani dalam kurungan sesuai dengan hukum yang berlaku.
    Tetapi, satu hal yang luar biasa yang perlu diteladani dari Daud adalah bagaimana ia bisa melupakan masa lalunya (dosanya) itu. Ia tidak tetap berdoa dan bersungut-sungut dihadapan Tuhan karena dosa-dosanya. Ia tahu bahwa Tuhan sudah mengampuninya dan ia menerima apa yang sudah Tuhan perbuat bagi dirinya, bahkan hukuman atas dosanya pun Daud berani menerimanya. Ia mengerti bahwa Tuhan sudah memulihkan kehidupannya ketika dia sudah mengaku dan menyesalinya dihadapan Tuhan.
    Demikian juga hidup kekristenan kita. Kalau kita memiliki masa lalu yang kelam, suram atau bahkan trauma masa lalu, kita tidak usah membawanya ke dalam kehidupan yang sedang kita jalani saat ini. Tetapi kita harus ingat. Ketika kita sudah mengaku dosa dan meninggalkannya jangan pernah membiarkan diri kita terintimidasi lagi. Kita harus tetap melangkah, sebab Tuhan sudah mengampuni dan akan memulihkan serta memberkati kita.
Selain itu, janganlah ketika suami atau orang yang kita sayangi yang sudah lama meninggal dunia masih saja kita tangisi dan ingat-ingat sampai saat ini. Jika ini masih kita lakukan, pastilah hubungan kita dengan Tuhan tidak akan berjalan dengan baik dan berkat Tuhan akan terhambat bagi kita.
Mari tatap hari depan dan rencana Tuhan yang besar. Jangan pernah menoleh kebelakang lagi, jangan menatap dan meratapi dosa yang lalu.!!