MENJADI CANTIK, KAYA DAN BAHAGIA
Kita sering berpikir kita akan berbahagia kalau suami saya berubah, mertua saya berubah dan keadaan berubah. Namun sebenarnya, kita bisa akan tetap berbahagia walaupun mereka dan keadaan belum berubah. Walaupun ada tantangan di luar sana, walaupun keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita akan tetap bisa berbahagia.
Lukas 6: 43-45, “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya”.
Ayat ini berkata, kalau pohonnya baik maka buahnya pasti baik, dan sebaliknya. Biasanya kita akan panik kalau “buahnya” itu sudah muncul, ketika muncul masalah. Sebenarnya masalah itu muncul tidak tiba-tiba. Itu sudah tertanam sebelumnya.
Jadi, jika ada masalah saat ini, masalah itu muncul karena adanya tindakan atau perilaku (=yang salah) yang dilakukan di masa lalu, yang dibiarkan begitu lama. Masalah dalam hidup kita tidak datang dengan tiba-tiba. Untuk itu, jika sudah mendengar firman Tuhan, maka ada perlu ketetapan hati dulu (=benih), dibiarkan bertumbuh menjadi tindakan yang rutin (=pohonnya), agar kita dapat memetik buahnya yang baik.
Memang Tuhan adalah pelaku mujizat, tetapi bukan tukang sulap. Kita tidak dapat berharap masalah kita diselesaikan dengan cepat dan “instant” hanya dengan didoakan; tetapi, harus ada proses dan waktu yang harus kita lewati. Jika masalah kita ingin diselesaikan, ada banyak hal perubahan yang harus kita lakukan. Pohon yang tidak baik harus ditebang, kemudian kita harus menanam benih yang baik dan pohon yang baik. Perilaku dan kebiasaan yang tidak baik harus ditinggalkan, dan mulailah melakukan kebiasaan yang baik dan benar.
Sebab itu, kalau mau masalah atau “buah” itu hilang, maka pohonnya harus ditebang terlebih dahulu. Kita harus mengubah kebiasaan – kebiasaan yang buruk itu terlebih dahulu, supaya masalah itu hilang.
Buah yang keluar dari hidup orang tergantung daripada hatinya. Kalau anda ingin cantik, maka apakah yang harus “ditarik”? Hatinya atau kulitnya? Tentu kita harus memperhatikan hati kita. Sebab, seberapa pun kita menarik “kulit” kita, kalau hatinya belum berubah, maka kita tidak akan dapat menjadi cantik. Tetapi kalau hati kita sudah berubah, maka kita akan otomatis menjadi cantik.
Lihat 3 Yohanes 1:2 “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja”.
Di dalam Alkitab, “... yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya”. Kata “hati” itu bukan jantung saja, bukan otak juga, namun kata “hati” itu berasal bah. Yunani “cardea”. Dan “cardea” ini merupakan sistem, yang mempengaruhi kita, yaitu:
1. Arsip: Tidak hanya otak, tetapi jantung bisa juga merekam kejadian di masa lalu.
2. Gudang: Di dalam gudang ini tersimpan banyak perasaan/emosi atas kenangan dan kejadian yang pahit ataupun yang manis.
Jadi, kebahagiaan hati tidak hanya tergantung dengan apa yang terjadi dari luar. Namun, apa yang ada di dalam “gudang” kita itu yang akan menentukan. Meskipun suami, mertua dan keadaan di sekitar kita sudah berubah, tetapi kalau “isi gudang” ini belum kita bereskan, kita akan sulit untuk bahagia. Apa yang ada tersimpan di dalam “gudang” ini akan menentukan apakah kita akan hidup bahagia.
Kejadian yang tidak menyenangkan bisa terjadi di dalam hidup kita. Tetapi kalau kita mengijinkan “isi gudang” (cardea) itu merampas kebahagiaan kita, maka kita adalah orang yang “bodoh”.
Tuhan ingin kita kaya dan bahagia. Namun Tuhan tidak memulainya dengan memberikan mobil baru dan rumah baru. Tidak mengubahkan orang-orang dan keadaan di sekitar kita. Tetapi, Tuhan bekerja dan mengubah kita dari dalam hati terlebih dahulu.
Kalau mau berubah dari “kurang” menjadi “lebih”, maka kita harus belajar berkata cukup. Kita harus merasa puas dengan apa yang kita punya, namun tidak boleh puas dengan apa yang bisa kita lakukan.
Kejadian 12:3, “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Orang yang kaya adalah orang yang mampu memberi seberapa pun yang ada di tangannya.
Kalau ingin menjadi kaya, bahagia dan cantik, maka belajarlah untuk memberi. Sebab, firman diatas mengatakan bahwa Tuhan akan memberkati orang-orang yang mau memberkati (mau memberi).